AYOBANDUNG.ID -- Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya. Di tengah kota yang dikenal sebagai pusat kreativitas dan mobilitas tinggi, komunitas motor memainkan peran penting dalam menanamkan kebiasaan aman di jalan.
Fenomena ini terlihat jelas dalam ajang #Cari_Aman Skill Competition 2025 yang digelar PT Daya Adicipta Motora (DAM), meski kompetisi tersebut hanyalah contoh kecil dari gerakan yang lebih besar. Namun ada upaya dan semangat yang tumbuh yakni membangun kebiasaan keselamatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Muhamad Ilham, Juara 1 dari komunitas Sadulur Bikers Bandung Timur (SBBT), menegaskan bahwa keselamatan bukan soal fokus sesaat, melainkan kebiasaan yang melekat. Ia menggambarkan bagaimana hal sederhana seperti memakai celana panjang bisa menjadi refleks, sama halnya dengan helm dan sarung tangan.
"Sebenarnya, kalau untuk saya pribadi bukan lebih jatuhnya ke focus tapi lebih ke harus jadi kebiasaan. Karena tanpa adanya perlombaan pun selama itu sudah jadi kebiasaan tanpa disadari, itu pun yang akan kita lakukan,” ujarnya.
Kesadaran ini, menurutnya, harus dimulai dari diri sendiri sebelum menjadi gerakan kolektif. Perjalanan Ilham dalam dunia safety riding pun dimulai sejak 2008 ketika mengikuti pelatihan Honda di Polda Metro Jaya, Jakarta. Setelah pindah ke Bandung pada 2011, ia kembali aktif dan semakin intens mendalami dunia otomotif.
Baginya, pelatihan bukan sekadar teori, melainkan bekal untuk membentuk kebiasaan jangka panjang. Tantangan teknis dalam kompetisi, seperti breaking test, menjadi pengingat bahwa hal kecil bisa berakibat besar. Banyak peserta terbiasa melepas gas saat mengerem, padahal gerakan teknis yang benar menuntut presisi. “Kelihatan mudah, jalannya lurus, tapi di situlah jebakan mautnya,” kata Ilham.
Komunitas motor di Bandung, seperti FCMB (Forum Club Motor Bandung) dan Safety Riding Center DAM, menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium sosial. Di sana, Ilham mendorong agar pelatihan tidak berhenti pada satu-dua hari, melainkan menjadi kebiasaan jangka panjang. Ia pun menolak stigma komunitas motor sebagai geng ugal-ugalan.
“Jangan sampai kita club motor tapi dengan cara kita bawanya yang ugal-ugalan orang jadi menilai ini club motor apa geng motor. Nah itu yang jadi rancunya dulu,” tegasnya.
Baginya, standar minimal seperti helm, jaket, sarung tangan, sepatu, dan celana panjang harus menjadi refleks sebelum berbicara soal modifikasi kendaraan. Kesadaran ini juga ia tularkan melalui pelatihan internal berbasis materi resmi yang pernah ia ikuti.
Langkah kecil ini menjadi cara komunitas menjaga konsistensi pengetahuan. Harapannya, setelah kompetisi, ada dukungan dari sponsor atau pihak lain agar pelatihan bisa lebih intensif.
Ilham mengatakan, dengan anggota SBBT mencapai 300 orang, pelatihan harus dilakukan bertahap agar semua bisa merasakan manfaatnya. Meski terkendala waktu kerja, antusiasme anggota sangat tinggi.
"Antusiasme positif banget malah mereka antusias. Cuma berbenturan dengan waktu itu aja kendalanya,” ungkapnya.
Fenomena Bandung sendiri menunjukkan lapisan kesadaran yang beragam. Di satu sisi, komunitas motor disiplin membangun budaya aman. Di sisi lain, masih banyak pengendara harian yang abai terhadap perlengkapan dasar.
Data resmi Korlantas Polri mencatat penurunan kecelakaan lalu lintas dari 72.638 kasus pada Januari–Juni 2024 menjadi 70.749 kasus pada periode sama 2025, turun 2 persen. Korban meninggal juga menurun dari 12.781 menjadi 11.262 orang. Angka ini menunjukkan perbaikan, tetapi tetap mengingatkan bahwa ribuan nyawa masih melayang di jalan. Bandung, dengan kepadatan lalu lintasnya, menjadi cermin nasional di mana kebiasaan kecil bisa berdampak besar.
Kesadaran berkendara di Bandung bukan hanya soal regulasi, melainkan soal identitas. Kota ini dikenal sebagai rumah bagi komunitas kreatif, dan kini juga berpotensi menjadi pelopor budaya aman di jalan.
Jika komunitas motor mampu menularkan kebiasaan ini ke masyarakat luas, maka angka kecelakaan bisa ditekan lebih jauh. Keselamatan bukan sekadar aturan, melainkan kebiasaan hidup yang harus ditumbuhkan dari dalam diri.
“Akhirnya saya bilang yuk kita mulai dulu dari diri kita sendiri. Jangan nyuruh orang tapi jadikan dulu kebiasaan untuk diri kita sendiri. Mulai dari helm, jaket, sarung tangan, sepatu, celana panjang. Itu aja dulu yang hal yang simple,” pungkas Ilham.
Alternatif kebutuhan berkendaraan atau produk serupa: