AYOBANDUNG.ID -- Industri otomotif Indonesia sedang berada dalam fase transisi yang menentukan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) hingga Oktober 2025 menunjukkan penurunan penjualan mobil konvensional wholesale sebesar 10,6 persen dan retail 9,6 persen.
Namun di tengah tren negatif ini, mobil listrik justru mencatat lonjakan signifikan dengan penjualan mencapai 69.000 unit, naik 112 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bahwa masyarakat mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan.
Bandung, kota urban dengan reputasi kreatif dan progresif, menjadi panggung penting dalam transformasi ini. Karakter masyarakat Bandung yang terbuka terhadap inovasi menjadikan kota ini laboratorium ideal untuk adopsi mobil listrik.
Fenomena urban lifestyle di Bandung pun memperlihatkan bahwa kendaraan listrik bukan hanya alat transportasi, tetapi juga simbol status, prestise, dan komitmen terhadap keberlanjutan.
Chief Executive Officer VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, bahkan menegaskan arah pasar yang paling potensial untuk industri kendaraan di Indonesia. Potensi ini pun kata dia, menjadi peluang emas bagi para produsen untuk membaca kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan strategi dengan segmen terbesar.
“Kita semua tahulah ya di Indonesia ini segmen yang paling gemuk adalah segmen MPV. Jadi saya rasa kita pun di VinFast akan fokus ke segmen tersebut dari sisi produk untuk saat ini," ujarnya.
Kariyanto juga menegaskan, Bandung menjadi kota yang menjadi target ekspansi layanan taksi listrik setelah Jakarta. Apalagi Bandung sendiri memiliki daya tarik khusus sebagai pasar uji.
Kota ini sering menjadi barometer tren nasional, sehingga penetrasi mobil listrik di Bandung dapat menjadi katalis bagi adopsi lebih luas di Indonesia. Jika masyarakat Bandung menerima kendaraan listrik sebagai bagian dari gaya hidup, maka kota-kota lain akan mengikuti.
“Tentu Bandung merupakan salah satu kota kunci yang ingin segera kita layanin dengan taksi listrik kami. Tetapi kapannya kami belum bisa melihat waktu pastinya. Kita saat ini sedang tahap persiapan semuanya," jelas Kariyanto.
Selain itu, keberadaan Xanh SM Taxi Hijau di Jakarta yang sudah beroperasi lebih dari 4.000 unit menjadi bukti nyata bahwa layanan ini mampu mempercepat adopsi EV. Bandung diharapkan segera menyusul dengan skala yang signifikan.

Jika tren ini berlanjut, Bandung berpotensi menjadi kota percontohan mobil listrik di Indonesia. Dengan dukungan masyarakat urban, infrastruktur charging, serta komitmen produsen, Bandung dapat menjadi model kota ramah lingkungan yang menginspirasi daerah lain.
“Kita harap semoga tidak terlalu lama lagi taksi hijau VinFast sudah bisa mengaspal di Bandung,” kata Kariyanto.
Namun Kariyanto mengakui, kehadiran taksi listrik bukan hanya soal bisnis, tetapi juga strategi memperkenalkan kendaraan listrik kepada masyarakat luas. Karenanya, dia menilai ekspansi ini menuntut kesiapan matang.
“Kalau untuk kita bisa beropasi di sesuatu daerah, tentu perizinannya. Kedua, pool-nya harus sudah siap. Ketiga, training atau recruitment para drivernya itu juga harus dipersiapkan dengan matang,” ujarnya.
Tantangan ini menunjukkan bahwa penetrasi mobil listrik tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga ekosistem pendukung. Di sisi lain, Kariyanto pun memngatakan, responsivitas mobil listrik kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para driver. Karenanya, dia menegaskan perlunya edukasi dan pelatihan agar transisi berjalan aman.
“Khususnya banyak driver itu yang masih kaget sebelumnya bawa mobil bensin, kemudian mobil listrik. Itu kadang masih banyak nyundul mobil depan karena mobil itu sangat responsif,” kata Kariyanto.
VinFast hanyalah satu contoh kecil dari fenomena besar ini. Sejak hadir pada Juli 2024, mereka menempati posisi ke-6 dari 30 pemain kendaraan listrik dengan penjualan 3.050 unit hingga Oktober 2025.
Menariknya, keunggulan VinFast juga terletak pada ekosistem kendaraan listrik terintegrasi. Ekosistem ini mencakup pabrik sendiri, jaringan charging Vi Green, hingga layanan taksi hijau atau Xanh SM.
“Karenanya kita cukup confident untuk terus bertumbuh dan berkembang di Indonesia bersama-sama dengan para pemain yang lainnya,” ujarnya.
Bahkan pabrik VinFast di Subang menjadi bukti komitmen jangka panjang dari produsen asal Vietnam tersebut. Pabrik ini bukan hanya untuk produksi, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal dan memperkuat rantai pasok regional.
“Keputusan membangun pabrik ini berdasarkan regulasi saat itu yang mewajibkan kesiapan operasi pada 1 Januari 2026. Ketentuan itu kami penuh dan peresmian pabrik Vinfast di Suban tidak lama lagi. Progres pabrik sudah berjalan. Tim kami sudah mulai reload, dan Lead Form Manager juga sudah dikirim," ujarnya.
Alternatif kebutuhan kendaraan atau produk serupa:
