AYOBANDUNG.ID -- Industri kendaraan listrik dan hybrid di Indonesia pada 2025 memasuki fase akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) mencapai 7.690 unit pada April 2025, turun dari 8.835 unit pada Maret, namun tetap menunjukkan tren pertumbuhan tahunan yang kuat. Angka ini menegaskan bahwa EV mulai menjadi bagian nyata dari pasar otomotif nasional.
Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan produksi 600 ribu unit mobil listrik dan 2,45 juta sepeda motor listrik pada 2030. Target ini menjadi peta jalan ambisius yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi kendaraan elektrifikasi di Asia Tenggara.
Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target populasi 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit kendaraan listrik roda dua di jalan raya pada 2030. Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada adopsi massal di tingkat konsumen.
Bandung dan Jawa Barat menjadi salah satu panggung penting dalam transisi energi bersih. Data BPS Jawa Barat menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Kota Bandung mencapai lebih dari 1,1 juta unit pada 2023. Dengan populasi kendaraan sebesar ini, pergeseran ke elektrifikasi akan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi dan kualitas udara perkotaan.
Dinas Perhubungan Jawa Barat pun menegaskan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik di wilayah ini meningkat pesat sejak 2021, ketika hanya ada enam mobil listrik yang beroperasi. Pada 2025, jumlahnya sudah ribuan unit. Lonjakan ini memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa Barat semakin terbuka terhadap mobilitas berkelanjutan.
Baca Juga: Bandung Simbol Transformasi Otomotif Nasional Menuju Mobilitas Rendah Emisi
Di tengah dinamika tersebut, produsen otomotif global dan lokal berlomba menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Peluncuran Chery TIGGO 8 CSH Comfort (PHEV) dan Chery J6T (EV) di Bandung menjadi contoh kecil bagaimana produsen memanfaatkan momentum pertumbuhan EV untuk memperkuat posisinya di pasar Indonesia.
Regional Manager Jabar–Jateng PT Chery Sales Indonesia, Joshua Mikhail Kusuma menegaskan bahwa Bandung menjadi pasar strategis. “Kita Chery launching dua line up, satunya EV, satunya PHEV. Yang PHEV merupakan Tiggo 8 CSH varian convert yang kita hadirkan untuk harga yang lebih terjangkau untuk warga di Jabar dan Jateng termasuk di Bandung,” ujarnya.
Sebagai informasi, TIGGO 8 CSH Comfort hadir sebagai solusi hybrid yang menjembatani transisi menuju kendaraan listrik murni. Dengan teknologi Chery Super Hybrid (CSH), SUV premium ini menawarkan fleksibilitas mesin konvensional sekaligus efisiensi motor listrik. Strategi ini relevan dengan kondisi infrastruktur pengisian daya di Indonesia yang masih berkembang.
Joshua menambahkan bahwa varian Comfort tetap mempertahankan kualitas mesin dan suspensi. “Untuk Tiggo 8 dan PHEV yang kita luncurkan ini, kita sudah ada varian ini dari tahun lalu. Cuma kita luncurkan yang convert punya dengan ada sedikit pengurangan fitur. Tapi tentu saja untuk kenyamanan, untuk mesin, suspensi semuanya sama dengan yang premium jadi tidak ada beda sama sekali,” jelasnya.
Sementara itu, J6T memperlihatkan bagaimana produsen berusaha menjawab kebutuhan konsumen urban yang menginginkan kendaraan listrik murni dengan karakter maskulin. SUV bergaya boxy ini tampil gagah dengan ground clearance tinggi dan motor listrik ganda yang mampu menghadapi medan berat.
Baca Juga: BIUTR sebagai Solusi Kemacetan atau Sekadar Menambah Mobil di Jalanan Bandung?
Joshua menekankan bahwa J6T dirancang untuk penggemar SUV bergaya jeep. “Untuk yang J6T, untuk para penggemar-penggemar tipe-tipe jeep, tipe-tipe maskulin kita adakan tipe yang lebih maskulin lagi dibanding J6 sebelumnya dengan fender yang lebih besar, lebih lebar untuk bumper depan dan belakang,” katanya.
Namun, peluncuran produk hanyalah satu bagian dari ekosistem besar. Tantangan utama industri EV di Indonesia tetap pada infrastruktur pengisian daya. Hingga akhir 2025, jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) baru mencapai sekitar 1.200 unit secara nasional menurut data PLN. Angka ini masih jauh dari kebutuhan, terutama jika target produksi 600 ribu unit EV pada 2030 ingin tercapai.
Selain infrastruktur, tantangan lain adalah harga. Meski insentif pajak membantu menekan biaya, harga EV masih relatif tinggi dibanding kendaraan konvensional. Produsen seperti Chery mencoba menjawab dengan menghadirkan varian hybrid yang lebih terjangkau, seperti TIGGO 8 CSH Comfort.
Di sisi lain, peluang industri EV di Indonesia sangat besar. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan pertumbuhan kelas menengah yang pesat, pasar domestik menjadi daya tarik utama bagi produsen global. Bandung, dengan karakter masyarakatnya yang progresif, menjadi pasar ideal untuk menguji penerimaan konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi.
Joshua menegaskan bahwa kendaraan Chery dirancang untuk perjalanan jauh. “Jangan lupa liburan dengan mobil Chery Tiggo 8 CSH terutamanya, karena kalau mau keluar kota sampai keluar pulau pun dengan Tiggo 8 CSH varian PHEV ini sudah dipastikan aman, nyaman, tentram, irit, dan happy,” ujarnya.
Baca Juga: Ilusi Hijau di Jalan Raya: Sisi Gelap Mobil Listrik di Indonesia
Selain aspek ekonomi, perkembangan industri EV juga memiliki dampak sosial dan lingkungan. Pengurangan emisi karbon menjadi salah satu tujuan utama. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sektor transportasi menyumbang sekitar 27 persen emisi nasional. Adopsi kendaraan listrik diharapkan dapat menekan angka tersebut secara signifikan.
Industri EV juga membuka peluang baru dalam rantai pasok. Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia memiliki posisi strategis dalam pengembangan baterai. Investasi besar-besaran di sektor ini memperkuat daya saing nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, Joshua menaruh harapan besar terhadap penerimaan masyarakat Bandung.
Apalagi dengan semua dinamika ini, Bandung tidak hanya menjadi lokasi peluncuran produk, tetapi juga simbol transformasi otomotif nasional. Kota kreatif ini memperlihatkan bagaimana teknologi, kebijakan, dan gaya hidup urban bertemu dalam satu momentum transisi energi bersih.
Peluncuran TIGGO 8 CSH Comfort dan J6T hanyalah contoh kecil dari gelombang besar yang sedang berlangsung. Industri EV di Indonesia sedang bergerak cepat, dan Bandung menjadi salah satu panggung utama di mana masa depan mobilitas sedang dibentuk.
“Harapannya Chery untuk ke depannya bisa provide makin banyak kebutuhan warga-warga Bandung, terutama dari sisi aman, kenyamanan, teknologinya juga, baik untuk anak muda, untuk keluarga, untuk yang penasaran mengenai brand Chery ini silakan. Karena saya bisa jamin, ini kita buat mobilnya dengan R&D yang sangat menyeluruh, dengan kenyamanan, fitur, dan dengan aftersales yang bagus untuk seluruh pengguna Chery di Indonesia,” ujarnya.
Alternatif kebutuhan kendaraan atau produk serupa:
