AYOBANDUNG.ID - Menjalankan bisnis Toko Nol Sampah dengan konsep zero waste bukan hal mudah. Namun owner dari Toko Nol Sampah, Siska Nirmala memiliki harapan yang besar untuk menjadikan Toko Nol Sampah sebagai supporting system bagi orang yang sudah menerapkan gaya hidup zero waste.
Berawal dari naik gunung, Siska melihat permasalahan sampah yang ada disana tergerak untuk ingin melakukan sesuatu, dari permasalahan itu, Siska mencoba menjawab kegelisahannya dengan menerapkan konsep nol sampah ketika naik gunung. Konsep itu ia wujudkan lewat Ekspedisi Nol Sampah yang dilakukannya pada tahun 2012-2015.
“Ini sebenarnya perjalanan yang cukup panjang ya. Dulu itu aku mulai Zero Waste itu, pintu masuknya karena naik gunung. Melihat permasalahan sampah yang ada aku tergerak untuk melakukan sesuatu. Dulu nggak kepikiran mau membuat movement besar atau mau bikin toko. Murni hanya kegelisahan pribadi dan aku ingin melakukan sesuatu. Ttu aja,” bebernya Panjang lebar.
Sedikit demi sedikit upaya mengurai kegelisahannya itu mulai terbentuk.
Dia berhasil membangun Toko Nol Sampah yang dikelolanya di Kota Bandung dan kini telah beroperasi selama lima tahun.

Toko Nol Sampah pertama kali dibuka pada tahun 2020 di Jalan Bima, Kelurahan Cicendo, Kota Bandung. Setelah empat tahun beroperasi, pada awal tahun 2025, toko ini pindah ke Jalan Raden Patah, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Siska menjelaskan, bahwa Toko Nol Sampah menjual kebutuhan harian rumah tangga secara curah. Produk yang ia jual sudah lebih dari 100 jenis.
Ia menjelaskan, bagaimana toko ini memastikan bahwa rantai pasokannya juga mendukung prinsip nol sampah di antaranya dengan dilakukan melalui kerja sama dengan para pemasok, termasuk UMKM kecil dan pemilik usaha yang memiliki misi dan nilai keberlanjutan yang sejalan dengan toko.
Lebih lanjut, Siska menyampaikan respon dari masyarakat terhadap toko nol sampah sangat positif, terbukti dari keberlangsungan Toko Nol Sampah mampu bertahan dan berkembang sudah berjalan lima tahun jalan.
“Itu di luar ekspektasi saya sih, jadi dulu tuh waktu buka toko nol sampah saya nggak pernah tahu siapa yang bakal belanja di toko apakah tokonya akan laku, apakah akan survive dalam 2-3 bulan pertama tapi ternyata sudah berjalan 5 tahun ini jadi emang responnya luar biasa,” katanya.
Siska menjelaskan, dengan menerapkan model bisnis Toko Nol Sampah berjejaring dengan komunitas lain menjadi faktor utama keberlangsungan dan terwujudnya Toko Nol Sampah hingga sekarang.
“Karena ternyata ketika kita berjejaring sama komunitas, mereka menghidupkan si tokonya. Istilahnya bukan hanya menghidupkan dari segi belanja barangnya, tapi menghidupkan dari aktivitas, kegiatan, gitu terus berjejaring jadi ya itu sih responnya luar biasa, jadi komunitasnya kuat,” pungkasnya.
