Seorang relawan kemanusiaan pernah berkata, setiap bencana (longsor, banjir, tsunami) selalu mengundang kerumunan. Bukan hanya mereka yang datang membawa empati dan bantuan, melainkan yang hadir dengan kamera dan bergaya.
Ingat, dulu di Desa Gasol, Cianjur, salah satu wilayah yang hancur parah akibat gempa, terdapat papan kardus dipasang di tiang bambu di pinggir jalan. Tulisannya sederhana, tapi satir “Ini Bukan Wisata Bencana.”
Imbauan itu lahir bukan tanpa sebab. Pasalnya terlalu banyak orang berdatangan mulai dari yang mengaku relawan, pengantar bantuan, sampai sekadar penonton, lalu sebagian berpose bak turis, berswafoto dengan latar rumah runtuh dan hidup yang porak-poranda.

Gangguan Mental, Rendahnya Sensitivitas Sosial
Rizqy Amelia Zein, dosen Universitas Airlangga menjelaskan untuk yang suka mengambil selfie di lokasi bencana adalah perilaku yang tidak dapat dibenarkan karena dapat membahayakan dan kebiasaan ini menunjukkan gangguan mental (kejiwaan).
Ahli media Yasmin Ibrahim dari Queen Mary University di Inggris menyebut fenomena ini sebagai “selfie bencana” atau “pornografi bencana” dan sebagai “perilaku ganjil yang dimotivasi oleh keinginan mencapai kepuasan diri sendiri, dengan situasi pasca bencana sebagai latar belakang”.
Dalam pemikiran psikoanalis, Carl Jung berpendapat manusia secara alamiah memiliki ketertarikan menyaksikan penderitaan orang lain, selama penderitaan itu tidak menimpa dirinya. Jung menyebut kecenderungan ini sebagai corpse preoccupation, dorongan untuk menyaksikan hal-hal yang ganjil dan mengerikan, yang berpotensi menumpulkan empati.
Di luar persoalan etika dan psikologis, mengambil selfie di lokasi bencana justru berbahaya dan berisiko mengancam jiwa. Dalam proses evakuasi, misalnya saat kebakaran hutan atau longsor, kehadiran orang-orang yang hanya ingin berfoto dapat menghambat kerja petugas dan membahayakan keselamatan bersama. (www.theconversation.com, Januari 11, 2019 4.21pm WIB).
Bila sebagian kalangan menganggap aksi selfie di lokasi bencana sebagai hal yang wajar. Namun, penilaian etis tetap diperlukan. Sherry Turkle, profesor psikologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menyatakan jika dulu manusia mengenal ungkapan “I think therefore I am”, maka di era media sosial bergeser menjadi “I share therefore I am”.
Berbagi memang tidak salah, tetapi ketika dilakukan secara berlebihan dan tanpa empati, justru dapat menimbulkan persoalan psikologis dan sosial. (Rhenald Kasali, 2018:143-146).
Dalam tulisan Elnado Legowo yang berjudul "Berfoto Selfie Mengurangi Empati Sosial" dijelaskan tak sedikit masyarakat Indonesia yang datang ke lokasi tsunami, banjir, longsor hanya untuk berfoto dan membagikannya ke media sosial. Perilaku ini menunjukkan masih rendahnya sensitivitas sosial di tengah masyarakat.
Sensitivitas sosial merupakan kemampuan untuk memahami kondisi, pikiran, dan perasaan orang lain. Ungkapan belasungkawa, doa, solidaritas di media sosial dapat menjadi wujud empati. Namun, ketika yang ditampilkan justru selfie dengan ekspresi bahagia di latar suasana duka, maka yang tampak adalah ketidakpedulian terhadap penderitaan korban.
Psikolog kebencanaan Listyo Yuwanto menegaskan lunturnya budaya kolektif dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang semakin kompetitif dan individualistis. Masyarakat cenderung lebih sibuk dengan media sosial dibandingkan membangun interaksi dan kepedulian terhadap sesama.

Pentingnya Edukasi Empati di Era Digital
Melihat kondisi yang rumit, amit-amit bin Api-api itu menunjukkan pentingnya peran pemerintah dan lembaga pendidikan dalam memberikan edukasi empati kepada masyarakat. Selama ini, pendidikan lebih menekankan aspek kognitif dan religius, yang melupakan pembelajaran tentang empati (simpati) sosial.
Edukasi empati adalah pembelajaran untuk menempatkan diri pada posisi orang lain baik manusia, hewan, maupun lingkungan. Bila seseorang membayangkan dirinya sebagai korban bencana, maka akan tumbuh sensitivitas sosial yang mendorong lahirnya solidaritas, kepedulian dan budaya kolektif.
Di era digital, edukasi empati menjadi semakin relevan. Ketergantungan pada gawai sering kali membuat manusia menjauh dari realitas sosial. (www.indonesiana.id, Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB)
Dengan demikian, pemahaman tentang etika berswafoto dan bermedia sosial perlu ditanamkan sejak dini agar aktivitas digital tidak melukai hati nurani, nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menjadi teladan negatif bagi generasi muda.
Sudah saatnya kita berusaha menumbuhkan empati kepada korban bencana yang tidak cukup hanya dengan ucapan prihatin, komentar belas kasih dari kejauhan. Empati sejati hadir melalui kepedulian aksi nyata yang merasakan duka mereka, memahami beratnya kehilangan, sambil terus memberikan bantuan untuk meringankan beban mereka.
Dalam situasi bencana, kepanikan adalah musuh terbesar. Mental yang kuat, empati yang hidup, dan solidaritas sosial menjadi fondasi agar masyarakat mampu bertahan dan bangkit.
Harus diakui, di atas segalanya, asa, harapan menjadi cahaya yang menjaga manusia agar tetap melangkah dan terarah. Mudah-mudahan dengan secercah harapan membuat korban percaya bahwa setelah kesedihan akan ada pemulihan, kebahagiaan. Dengan empati, solidaritas, dan harapan, masyarakat terdampak bencana dapat bangkit kembali. Kita meyakini dalam setiap ujian, selalu ada jalan keluar yang disediakan Tuhan bagi mereka yang sabar, tabah dan tidak pongah.