Malam itu udara terasa dingin. Saat sedang asyik membaca buku Muhammad karya Karen Armstrong, ketika pintu rumah terbuka pelan. Aa Akil, anak kedua (11 tahun), baru pulang dari pengajian. Wajahnya tampak serius, lalu mendekat dan bertanya, “Bah, gimana cara menulis puisi?”
Belum sempat menjawab, malah balik bertanya. "Kunaon A!"
Bocah kelas lima SD ini buru-buru menjelaskan, “Aa kepilih ikut lomba tingkat kecamatan. Tapi bingung puisinya harus bikin sendiri.”
Sambil mendekat dan mengusap kepala yang baru dipotong rambutnya. “Nulis mah kedah ku hate, sareng nu beresih.”
Aa mengernyitkan dahinya dan berkata lantang, “Emang Babah suka nulis atau baca puisi? Biasanya kan nulis berita, artikel di koran, atau buku.”

Koin untuk Sastra
Pertanyaan sederhana itu membuatku terdiam seribu bahasa. Malahan pikiranku melayang ke era 2010-an, tepatnya pada tahun 2011.
Saat itu lahir gerakan kecil bernama Koin untuk Sastra. Gerakan solidaritas bagi empat mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang terancam gagal berangkat ke Temu Sastra Indonesia IV di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011.
Pasalnya, dari 124 Sastrawan Indonesia terpilih ini, 18 orang merupakan perwakilan Jawa Barat: Anis Sayidah, Ahmad Faisal Imron, Fina Sato (Puisi); Neneng Nurjanah “Warung Kupat Tahu”, Miftah Fadhli “Tertawa, Meja Kesayangan”, Norman Erikson “Kondektur” (Cerpenis); Fatkurrahman Karim, Rudi Ramdani, Herton Maridi, Dian Hartati, Galah Denawa, Restu A Putra, Pungkit Wijaya, Ahmad Syahid, Alya Salaisha-Sinta, Jun Nizami, Matdon, Sutan Iwan Soekri Munaf (Penyair).
Uniknya, dari jumlah 18 undangan itu 4 di antaranya masih tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Galah Denawa (Sosiologi), Restu A Putra (Jurnalistik), Pungkit Wijaya (Bahasa dan Sastra Inggris).
Anak-anak muda yang membawa semangat literasi, justru harus berhadapan dengan pihak birokrasi yang minimnya apresiasi.
Waktu itu, seorang kawan, Sukron Abdilah, menulis di Kompasiana dengan judul "Rektorat UIN SGD Bandung Minim Apresiasi Sastra" yang menjadi viral dan Kompas menurunkan model berita "Hybrid Journalism" bertajuk "Rektorat UIN SGD Hanya Bisa Berangkatkan Satu Mahasiswa"
Konsorsium Sastra UIN Bandung, menggalang aksi sosial untuk mengusahakan keberangkatan 4 wakilnya ke acara Temu Sastra Indonesia denggan membuka posko “KOIN Untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung. Gerakan ini diharapkan dapat menyelamatkan eksistensi kesusastraan di kampus UIN Bandung.
Meskipun pihak rektorat tidak mendukung prestasi mahasiswa-mahasiswanya, minimalnya dengan gerakan “KOIN Untuk Sastra UIN Bandung” ini dapat meringankan beban keuangan yang menimpa sastrawan muda ini.
Gerakan pengumpulan dana secara sukarela melalui “Koin untuk 4 Sastrawan UIN SGD Bandung” hadir di Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) gedung Al-Jamiah lantai III dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Lembaga Pres Mahasiswa Suaka dan Women Studies Center (WSC) di gedung SC UIN Bandung.

Yuk Kenali Proses Kreatif Menulis
Abdul Wachid B.S., Penyair dan Dosen UIN Purwokerto memberikan tips dalam Menulis Puisi dan Cara Pandang Terhadap Realitas
Menulis dapat dimulai dari hal-hal kecil yang kita lihat, rasakan, dan alami. Kuncinya adalah kepekaan menangkap momen sederhana, lalu mengubahnya menjadi bahasa yang bermakna.
Misalnya, dari pengamatan sepasang kupu-kupu di tepi jendela, lahir perenungan tentang cinta yang tak sekadar diucapkan, tetapi dijaga dalam kesetiaan.
PERTEMUAN
bila sepasang kupu-kupu saling
berkejaran di antara bunga-bunga
bertanya lagikah kita
apa itu cinta?
1995
(Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2020:5)
Pada hakikatnya, seseorang menulis puisi bukan sekadar curahan hati (curhat) atas apa yang terjadi pada dirinya, melainkan merenungkannya dan memberi makna dalam menjalani kehidupan ini.
Apa yang dirasakan perlu dipikirkan ulang, diperdalam, dan diberi makna. Di sinilah pembeda antara sekadar luapan emosi dan karya yang bernilai.
Misalnya, rasa jatuh cinta tidak cukup ditulis sebagai perasaan, tetapi diangkat menjadi kesadaran tentang keterbatasan diri di hadapan luasnya makna cinta yang terdalam.
…..
Jatuh cinta kepadamu
Kata-kata menjadi harapan
Harapan menjadi doa-doa yang
Tidak berkesudahan
Dari pagi ke siang
Dari siang ke senja
Dan malam meluaskan pandangan
Betapa sedemikian kerdil aku
Untuk memeluk semesta cintamu
…..
(Sajak "Jatuh Cinta Kepadamu", Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2020:67).

Dengan memberi nilai kemuliaan pada tema yang diangkat. Puisi yang baik tidak terjebak pada dorongan hawa nafsu, justru mengangkat manusia pada martabatnya. Cinta, rindu, dan rasa lainnya diarahkan pada nilai-nilai luhur mulai dari kesetiaan, kesabaran, dan penghormatan.
Dengan begitu, puisi menjadi cermin kemanusiaan yang beradab, bukan sekadar ekspresi insting yang basa-basi.
Tentunya, makna dalam puisi sebaiknya dihubungkan dengan dimensi spiritual. Rasa yang kuat (rindu) dapat diperdalam melalui hubungan dengan Tuhan, sehingga menghadirkan kekuatan batin yang lebih luas dan intim.
KANGEN
jika kangen merajam
kekasih
telponlah aku dengan Fatihah
sayapnya akan terbang
hinggap ke lubuk sanubari
tak ada sepeka ia
tak ada setunjam ia
yang hilangkan jarak ke paling
satu
sukmaku
sukma kau
berpelukan dalam tarian
abadi
2000
(Abdul Wachid B.S., Jalan Malam, 2021:6).
Menulis puisi itu tentang cara pandang terhadap realitas. Puisi akan bernilai ketika mampu menghadirkan keindahan dan kebaikan dalam setiap makna yang ditulis. Dengan menyelaraskan pengalaman hidup, nilai kemanusiaan, dan kesadaran spiritual, puisi tidak hanya menjadi karya seni, tetapi menjadi jalan menemukan hikmah. Proses memahami kebenaran yang lebih dalam dalam kehidupan.
Dawuh Sayidina Muhammad Rasulullah Saw, "Sebagian puisi mengandung hikmah, hikmah adalah unta orang beriman yang hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa menemukan unta itu maka dia akan menemukan kebenaran terbaiknya." (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemendikdasmen, 26 Maret 2024 - 10:06 WIB, https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id)

Tahapan Menulis (Puisi) Bukan Aktivitas Biasa
Ingat, dalam tradisi keilmuan Islam, menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi perkara kebersihan jiwa.
Pasalnya, banyak ulama terdahulu memulai menulis kitab dengan adab yang tinggi, berwudu terlebih dahulu, menunaikan salat sunnah, membersihkan tempat duduk, membaca Alquran, berzikir, lalu menata niat sebelum pena digerakkan.
Imam Malik pernah berpesan bahwa ilmu harus didatangi dengan adab. “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Tak heran bila para ulama sangat menjaga kehormatan ilmu dimulai sejak sebelum menulis. Saking pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Walhasil, menulis, dalam makna ini, bukan sekadar aktivitas tangan, justru melibatkan kerja hati, nurani dan tanggung jawab moral.

Dalam dunia sastra, WS Rendra pernah mengatakan, “Penyair adalah orang yang menjaga kata-kata.”
Sungguh kalimatnya sederhana, tetapi dalam maknanya. Menjaga kata-kata adalah komitmen untuk tetap jujur, kritis, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan melalui sastra.
Tentunya, kata-kata tidak boleh dipakai sembarangan tapi harus dijaga dari dusta, kesombongan, dan kebisingan yang tak perlu.
Chairil Anwar pernah menulis, "Aku mau hidup seribu tahun lagi" yang melambangkan semangat juang, vitalitas, dan keinginan agar segala bentuk karya dan jiwanya tetap abadi melampaui usia fisiknya.
Memang barisan puisi itu mengajarkan ihwal tulisan sering kali menjadi cara manusia memperpanjang hidupnya. Tubuh boleh pergi, tetapi kata-kata bisa menetap lebih lama dan abadi.
Saat menjawab pertanyaan dari anak kedua puisi harus lahir dari hati yang bersih. Sebab puisi, sebagaimana ilmu, bukan sekadar susunan kalimat. Melainkan pancaran batin, hati, nurani.

Dengan demikian, untaian kata-kata yang keluar dari kejernihan jiwa biasanya lebih mudah menyentuh jiwa yang lain. Segala barisan huruf sering lahir dari perjuangan yang panjang dan jernih. Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.
Bila ingin menulis, termasuk saat Hari Puisi Nasional jatuh setiap 28 April, mulailah dengan membersihkan hati. Jika perlu, ambil wudu, rapikan (luruskan) niat, tenangkan pikiran, baca (mantra) beberapa ayat Alquran, lalu dengarkan suara paling jujur dari dalam relung diri dan hati.
Pasalnya, puisi yang baik bukan hanya enak dibaca, didengar, tetapi bening terasa, suasana menusuk hati, menggetarkan (mengoyak) nurani dan di situlah kata-kata menjadi bermakna dan suci. (*)