“Buah apa yang paling manis? Buahlil…tambah ganteng aja. My little bolu ketan.” Itu merupakan awal dari lirik lagu “MBG” (Mas Bahlil Ganteng). Lagu jingle MBG ini dalam waktu singkat viral di media sosial, terutama TikTok dan instagram. Lirik lagu MBG memang konyol, memainkan kata buah dengan nama Bahlil. Nada musiknya yang riang dan mengulang ngulang di syair pertama, menyebabkan lagu ini mudah diingat, sehingga mudah diikuti oleh tua dan muda. Para remaja pun dengan berbagai gaya memanfaatkan lagu ini untuk membuat konten.
Dibalik viralnya lagu dan video “MBG”, ada fenomena yang cukup bikin garuk-garuk kepala, seorang anak muda di Surabaya hapal di luar kepala lirik lagu “MBG”, Lagu itu mampir ke FYPnya sebelum viral, tapi ia tidak tahu siapa Bahlil Lahadalia.
Hanya dalam hitungan hari, jingel dan video “MBG” (Mas Bahlil Ganteng) menghebohkan jagat maya Indonesia, menguasai linimasa TikTok dan Instagram, jutaan remaja telah dijangkaunya, yang sebagian besar tidak tahu siapa Bahlil Lahadalia, dan hampir semuanya jarang bahkan tidak penah membaca berita energi atau kebijakan BBM di Indonesia. Siapa sebenarnya pencipta lagu dan video ini, dari hasil penelurusan penulis, seorang konten kreator TikTok dengan akun @vokalis_netizen) melahirkan lagu ini. Ia secara acak menganalisa komentar-komentar netizen, lalu dengan bantuan AI, ia menciptakan jingel “MBG”. Sebuah hit viral yang jauh melampaui apa yang diharapkan siapa pun.
Apa sebenarnya yang terjadi? Sudah lama penulis memperhatikan dan mengamati perilaku konsumsi media di kalangan anak muda. Fenomna ini bukan fenomena yang kebetulan meledak. Di balik itu ada mekanisme psikologis ya bekerja jauh lebih dalam.
Kelelahan dalam Pikiran Kita
Saat ini kita sedang menghadapi tekanan ekonomi, biaya hidup yang meningkat, anak muda yang mulai sulit dan harus bersaing mencari pekarjaan, rupiah makin terpuruk, akhirnya orang-orang mencoba mencari jalan keluar dari realitas yang dihadapi saat ini. Dalam dunia Psikologi ini disebut cognitive off loading, otak ingin beristirahat sejenak, caranya beralih dari informasi yang kompleks ke arah sesuatu yang sederhana dan menggembirakan. Mereka menemukannya di lagu “Buahlil / MBG”, nada yang ceria dengan lirik yang sederhana, tanpa harus memikirkan masuk akal atau tidaknya lirik tersebut, tidak usah mikir panjang, tidak perlu ada perdebatan, yang penting tertawa dan share. Fenomana tersebut merupakan kebutuhan psikologis yang wajar, bukan sebagai kemalasan berpikir. Tapi ingat, saat “Buahlil” sangat mudah teringat dari pada nama program pemerintah yang sessungguhnya, sebenarnya yang terjadi kita sedang sedang menyaksikan, bagaimana narasi ringan secara perlahan menggeser fakta-fakta yang jauh lebih penting.
Parodi yang Membesarkan Nama
Tidak jelas apa maksud dan tujuan dari pencipta lagu “MBG” ini. Namun penulis menangkap pesan lagu ini merupakan paradoks satir yang lucu, apalagi sebelum viral lagu ini muncul beberapa video pendek buatan AI, yang memperlihatkan adegan perkelahian antara Bahlil dan Dadan Hindayana memperbutkan seorang wanita. Maka bisa dikatakan lagu “MBG” ini dimaksudkan untuk mengejek pejabat pemerintah dengan humor yang absurd. Awalnya diciptakan dengan maksud satir, namun ada efek yang tak terduga, Bahlil Lahadalia, menjadi sangat populer di kalangan anaka muda, yang awalnya sama sekali tidak tahu dan tidak tertarik pada menteri ESDM ini. Dari sudut pandang teori komunikasi, ini disebut sebagai involuntary exposure (paparan tak sengaja). Anak muda tidak diperkenalkan dengan Bahlil dengan tindakan yang sengaja, namun saat mereka menyanyikan lagu MBG yang receh ini, atau menari atau hanya terkekeh sambil menontonya, mereka secara tidak sengaja mengasosikan nama Bahlil dengan kebahagiaan dan tawa. Beberapa ahli menyatakan ini sebagai satir terbalik, karena alih-alih menghancurkan citra, parodi malah membangun kedekatan. Golkar dan Bahlil menanggapi dengan santai dan cerdas. Tidak ada kemarahan atau pengaduan ke polisi. Bahkan Bahlil menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan pencipta jingel “MBG”. Sikap seperti ini, justru meningkatkan simpati yang mereka dapatkan dari masyarakat luas.
Remaja dan Budaya Partisipasi
Jutaan anak muda berperan aktif dalam penyebaran tren “MBG”, mereka menciptakan berbagai ekspresi, pada setiap versi dance, setiap animasi buah dan setiap remix dj, yang merupakan ekspresi diri masing-masing, dan meningkatkan rasa memiliki. Gen Z yang memang bertumbuh bersama TikTok dan Instagram, mengikuti suatu tren merupakan cara terhubung secara sosial, atau yang dikatakan participatory culture. Ini bukan masalah Bahlil atau Politik, tapi “aku juga ada di sini, dan aku bagian dari ini”.
Tidak ada yang berbahaya dalam lagu dan video “MBG” yang viral. Humor politik sah dan punya tempat dalam demokrasi. Tapi kita sebagai individu yang melek media, tampaknya harus waspada saat hiburan menggantikan, bukan melengkapi diskusi substansial.
"MBG" yang sejatinya kepanjangan Makan Bergizi Gratis, jadi ”Mas Bahlil Ganteng” di benak jutaan anak muda. Pergeseran kecil ini mungkin sepele, tapi di sanalah pertarungan narasi terjadi, bukan di podium debat, tapi di FYP masing-masing.
Mangga, tertawa, nikmati jingelnya. Tapi jangan lupa, tanyakan pada diri kita: “informasi apa yang luput dari perhatian kita, karena kita sibuk menyanyi “Buahlil”, dan tampaknya juga harus diselipkan jug dibenak kita, jangan-jangan ini demi elektoral. ***