Ayo Netizen

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Oleh: I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)

Ada satu hal yang menarik ketika mengunjungi Bali. Bukan tentang panorama alam yang memanjakan mata, melainkan sebuah pertunjukan spektakuler yang dikemas rapih dan ditonton oleh banyak orang layaknya menonton pertandingan sepak bola. Bukan tanpa alasan, pulau Dewata sejatinya memang "bernapas" melalui kreativitas keseniannya. Itulah sebabnya pergelaran Pesta Kesenian Bali sudah menjadi event tahunan yang tidak boleh dilewatkan bagi para pelancong ketika berkunjung ke Bali pada bulan Juni hingga Juli.

Jika kita menelusuri lebih dalam, mungkin akan timbul pertanyaan mengenai seberapa antusias para pendukung dari tiap kabupaten dan kota dalam menjagokan para penampil kesenian. Apakah seistimewa itu kah sampai tiap duta kabupaten di ujung sekalipun rela datang ke pusat kebudayaan yang terletak di Denpasar sebagai jantung ibukota Bali?

Kembali lagi dengan identitas Bali yang kaya akan kreativitas seninya, terutama dalam konteks seni pertunjukan. Melalui proses sejarah yang panjang, pengembangan seni pertunjukan telah membentuk sebuah alur yang semakin lama semakin kompleks (Seramasara, 2007). Hal tersebut tercermin pada pembaharuan komposisi dari masing-masing seni pertunjukan, mulai dari musik karawitan, tarian, hingga drama teatrikalnya yang juga disebut sebagai fragmen tari atau sendratari.

Kompleksitas tersebut tidak hanya tercermin pada bentuk pertunjukannya, tetapi juga pada cara masyarakat Bali memaknai seni itu sendiri. Dalam Island of Bali, Miguel Covarrubias (1937) menjelaskan bahwa seni di Bali merupakan ekspresi kehidupan kolektif masyarakat yang diwariskan melalui hubungan antara guru dan murid, sehingga kreativitas tidak berkembang sebagai pencapaian individual semata, melainkan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Di samping itu, pembinaan kesenian kepada generasi muda mulai dari tingkat banjar (dusun) ataupun melalui sanggar seni menandakan bahwa geliat pengembangan seni telah menjadi suatu hal yang bersifat fundamental sehingga berpotensi menjaga eksistensi kebudayaan hingga masa yang akan datang. Sebagaimana dikemukakan Clifford Geertz (1973), kebudayaan merupakan sistem makna yang diwariskan melalui simbol-simbol dan dipelajari oleh setiap generasi.

Partisipasi generasi muda pada Pesta Kesenian Bali (Sumber: Instagram: pestakesenianbali.official)

Dengan demikian, pembinaan seni tidak hanya dimaknai sebagai proses melatih keterampilan, namun juga sebagai media pewarisan nilai, identitas, dan ekspresi budaya kepada generasi penerus. Sejalan dengan hal tersebut, pembinaan seni sejak usia dini pun dapat berguna bagi pembentukan kepribadian anak serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat (Arslan, 2014).

Melihat bagaimana proses pembinaan tersebut berjalan secara hirarkis dimulai dari lingkup yang kecil memunculkan kemiripan dengan pola pembinaan sepak bola pada akademi sepak bola atau SSB, dimana talenta-talenta muda tidak serta-merta tampil pada panggung utama, melainkan ditempa melalui proses latihan, evaluasi, dan seleksi secara berjenjang sesuai kemampuan masing-masing.

Dalam konteks seni tari misalnya, seorang penari dipilih berdasarkan kecocokan karakter, penguasaan wiraga, wirama, dan wirasa. Sedangkan pada seni karawitan penempatan penabuh gamelan mempertimbangkan kemampuan membaca pola musikal, teknik memainkan instrumen, serta kekompakan antarpemain.

Dengan demikian, Pesta Kesenian Bali dapat menjadi panggung puncak yang mempertemukan talenta-talenta terbaik hasil dari proses pembinaan tersebut, layaknya kompetisi antardaerah yang mempertemukan pemain-pemain terbaik hasil didikan akademi sepak bola. Dengan kata lain, Pesta Kesenian Bali tidak lagi sekadar festival tahunan, melainkan etalase dari sebuah ekosistem pembinaan seni yang berlangsung sepanjang tahun.

Sebagaimana masyarakat menanti lahirnya bintang-bintang baru dari akademi sepak bola, masyarakat Bali pun menantikan kemunculan penari, penabuh, dan seniman muda terbaik yang menjadi representasi kebanggaan kabupaten maupun kotanya sehingga hadirnya mereka dapat memantik antusiasme masyarakat dalam menonton Pesta Kesenian Bali.

Melihat pengembangan seni tradisional yang terus berkesinambungan di Bali seyogianya dapat menjadi refleksi bagi provinsi lainnya dalam memajukan kesenian daerahnya. Perlu dipahami bersama bahwa pelestarian seni tradisional dapat bertahan apabila tata kelola terkait kesenian dilakukan dengan baik serta pembinaan kepada generasi muda terfasilitasi dengan baik. Dukungan dari para pemangku kebijakan turut berperan dalam memajukan kesenian tradisional di daerahnya.

Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan festival tahunan semata sebagai produk akhir dari pembinaan kesenian, melainkan turut dikukuhkan pula melalui penguatan ekosistem kesenian dari akar, seperti penyediaan fasilitas latihan, penguatan sanggar seni, hingga pemberdayaan pelatih seni sebagai bukti nyata komitmen pemerintah, institusi pendidikan seni, dan komunitas budaya dalam mencetak praktisi seni yang kompeten untuk membina generasi muda. Melalui itu semua, kebudayaan akan menjadi sebuah investasi yang hasilnya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga lintas generasi.

Di era digital, upaya pelestarian tersebut juga perlu diimbangi dengan pemanfaatan teknologi. Dokumentasi pertunjukan yang berkualitas, siaran langsung (live streaming), hingga publikasi melalui media digital memungkinkan seni tradisional menjangkau masyarakat yang lebih luas, sekaligus menjadi arsip budaya yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Menariknya, meskipun berangkat dari semangat pelestarian seni tradisional Bali, Pesta Kesenian Bali tidak menutup diri terhadap budaya dunia. Kehadiran kelompok seni dari berbagai negara menunjukkan bahwa pelestarian identitas lokal tidak bertentangan dengan keterbukaan terhadap pertukaran budaya. Sebaliknya, identitas budaya yang kuat justru menjadi modal penting untuk berdialog dengan kebudayaan lain.

Dokumentasi acara Asia Africa Festival 2026 di Kota Bandung, Sabtu 11 Juli 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hal serupa mulai tampak di Jawa Barat melalui penyelenggaraan Asia Africa Festival yang menghadirkan berbagai delegasi budaya dari mancanegara. Kehadiran festival tersebut menunjukkan bahwa ruang apresiasi budaya berskala internasional juga dapat tumbuh di daerah lain. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa daerah-daerah di Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan festival budaya bertaraf internasional selama didukung oleh tata kelola, kolaborasi antarlembaga, serta komitmen yang berkelanjutan dalam memajukan sektor kebudayaan.

Baik Pesta Kesenian Bali maupun Asia Africa Festival menjadikan festival kebudayaan pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertunjukan seni, tetapi juga sebagai sarana diplomasi budaya yang mempertemukan identitas lokal dengan masyarakat internasional. Namun diplomasi budaya yang kuat tidak lahir secara instan. Ia bertumpu pada proses pembinaan yang mampu menghasilkan seniman-seniman berkualitas sebagai representasi kebudayaan daerahnya.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival seni tidak semata diukur dari banyaknya delegasi atau kemeriahan pertunjukan yang ditampilkan. Lebih dari itu, festival sepatutnya menjadi ruang yang memberikan porsi utama bagi lahirnya generasi baru seniman daerah. Kehadiran kelompok seni dari berbagai negara tentu menjadi nilai tambah dalam memperluas dialog antarbudaya, namun jangan sampai ruang tersebut justru menggeser kesempatan seniman muda lokal untuk tampil, berkembang, dan menjadi pewaris kebudayaannya sendiri. (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Seramasara, I. G. N. (2021). Seni pertunjukan tradisional Bali, sebuah renungan sejarah. Mudra Jurnal Seni Budaya, 20(1). https://doi.org/10.31091/mudra.v20i1.1512
  • Covarrubias, M. (1937). Island of Bali. Cassell and Company.
  • Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
  • Arslan, A. (2014). The importance of art education in early childhood education. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 141, 792–798.
Reporter I Gede Bagus Radestya Putra Saylendra
Editor Aris Abdulsalam