SEORANG ayah harus mau belajar dari anaknya sendiri. Ini bukan karena sang ayah tidak tahu apa-apa. Justru karena pengalaman yang panjang kadang membuat seseorang terlalu terbiasa dengan cara lama.
Kota juga begitu. Bandung punya sejarah panjang, pengalaman panjang, dan ingatan panjang. Tetapi, panjangnya pengalaman tidak otomatis membuat sebuah kota selalu tahu bagaimana menghadapi masa depannya.
Bandung tua punya banyak hal yang patut dihormati. Lihat saja, ada warisan arsitektur, jaringan jalan, tradisi, ruang publik, perguruan tinggi, industri, hingga kultur nongkrong yang telah menjadi bagian dari identitas kota.
Namun, Bandung yang dihuni anak muda kiwari bukan lagi Bandung yang sama dengan Bandung yang dibangun beberapa dekade lalu. Perhatikan cara mereka bekerja, bergerak, berbelanja, bersosialisasi, menikmati seni, bahkan menggunakan trotoar, dan taman. Semua telah berubah.
Zaman geus robah. Begitu kata, Kang Aceng, pituin urang Jamika.
Dan perubahan tak jarang lebih cepat daripada kemampuan pemerintah membaca perubahan itu sendiri. Kota dibangun melalui rencana lima tahunan, anggaran tahunan, prosedur pengadaan dan regulasi. Sementara perilaku warga bisa berubah dalam hitungan bulan.
Sekadar ilustrasi, sebuah kedai bisa menjadi tempat berkumpul baru dalam beberapa minggu. Sebuah ruas jalan dapat mendadak menjadi ruang kreatif karena anak-anak muda mengisinya. Sebuah kawasan yang dahulu dianggap tidak menarik bisa berubah menjadi tujuan wisata hanya karena unggahan Instagram, TikTok, atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Kota bergerak dengan algoritmanya sendiri.
Maka, Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan mana perubahan perilaku yang hanya tren sesaat dan mana yang menunjukkan perubahan struktural dalam cara warga menggunakan kota. Ilmu perkotaan menyebutnya sebagai perubahan pola penggunaan ruang. Bahasa warung kopinya lebih sederhana lagi, yakni lihat dulu warga sebenarnya sedang ngapain dan ingin ngapain.
Ambil contoh paling gampang adalah soal mobilitas. Selama bertahun-tahun, pembangunan kota cenderung dibaca melalui kendaraan, yakni bagaimana kendaraan bergerak, di mana kendaraan parkir, bagaimana kapasitas jalan ditambah.
Tetapi, generasi yang lebih muda boleh jadi semakin terbiasa dengan kombinasi berjalan kaki, transportasi umum, sepeda, ojek daring, dan perjalanan pendek yang tidak selalu membutuhkan mobil pribadi.
Data perjalanan memang tidak boleh dibaca secara romantis. Realitanya, Bandung masih sangat bergantung pada kendaraan bermotor. Tetapi, perubahan preferensi sebagian warga menunjukkan bahwa ukuran kota yang nyaman tidak semata-mata ditentukan oleh kelancaran arus mobil.
Karena itu, trotoar bukan sekadar bagian pinggir jalan. Ia adalah infrastruktur sosial. Di atas trotoar orang berjalan, bertemu, berjualan, menunggu, mengobrol, bahkan kadang jatuh cintrong setelah terpanah Dewa Amor. Ketika trotoar hanya dihitung berdasarkan lebar beton dan kualitas paving block-nya, kota kehilangan sebagian maknanya. Generasi muda justru memperlihatkan bahwa ruang yang nyaman untuk berjalan dan berhenti mempunyai nilai ekonomi dan sosial. Orang akan lebih lama berada di suatu kawasan manakala kawasan itu menyenangkan untuk dijalani dengan kaki.
Hal yang sama terjadi pada ruang publik lainnya. Bandung mempunyai taman-taman kota dan ruang terbuka yang semakin sering digunakan warga untuk berbagai aktivitas. Tetapi, keberhasilan ruang publik tidak cukup diukur dari jumlah taman yang dibangun. Persoalan yang lebih penting adalah: siapa yang datang, berapa lama mereka tinggal, apa yang mereka lakukan, dan apakah mereka merasa aman?
Dalam studi perkotaan, quality of place semakin banyak dilihat melalui pengalaman pengguna, bukan semata-mata kualitas fisik bangunan. Kota yang indah tetapi membuat orang tidak betah tetap saja kota yang gagal.
Bandung muda juga memperlihatkan perubahan dalam ekonomi kreatif. Anak-anak muda ayeuna tidak selalu membutuhkan kantor besar, toko besar atau gedung pertunjukan megah untuk menghasilkan kegiatan ekonomi dan kebudayaan. Realitanya, mereka sekarang ini bisa bekerja dari rumah, dari kosan, kafe, studio kecil, ruang komunitas atau tempat yang fungsi awalnya sama sekali bukan ruang kreatif. Dari sini pemerintah kota perlu belajar bahwa ekonomi kreatif tidak selalu tumbuh dari proyek pemerintah. Sering kali pemerintah justru lebih berguna ketika menyediakan ekosistem berupa ruang, konektivitas, kepastian aturan, akses pembiayaan dan lingkungan yang memungkinkan eksperimen.
Persoalannya, selama ini Bandung memiliki kecenderungan menjadikan kreativitas sebagai label semata. "Kota kreatif" mudah sekali menjadi slogan, logo, festival, mural, atau panggung acara. Padahal, kreativitas yang sesungguhnya sering berlangsung jauh dari panggung resmi. Ia bisa berada di gang, studio kecil, kampus, toko buku, ruang musik, komunitas desain, pasar akhir pekan dan layar laptop barudak ngora.
Karenanya, pemerintah tidak harus menjadi sutradara seluruh "pertunjukan". Kadang cukup menjadi enabler. Urang Sunda punya ungkapan ulah ngaliarkeun taleus ateul alias jangan membuat sesuatu yang justru menimbulkan persoalan baru. Kreativitas pun perlu diberi ruang tanpa terlalu cepat dijadikan proyek.
Begitu pula dengan heritage. Bandung tua memiliki kecenderungan melihat bangunan lama sebagai sesuatu yang harus diselamatkan dari perubahan. Itu penting, tetapi pelestarian tidak boleh berhenti pada fasad. Bangunan tua yang hanya dicat ulang lalu difoto untuk brosur wisata kota belum tentu benar-benar hidup.
Prinsip adaptive reuse justru mengajarkan bahwa bangunan bersejarah dapat diberi fungsi baru selama nilai pentingnya tetap diperhatikan. Di sinilah Bandung muda bisa memberi pelajaran, bahwa mereka tidak selalu melihat bangunan lama sebagai benda sakral, tetapi sebagai ruang yang masih mungkin dipakai, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali.
Namun, Bandung muda juga perlu belajar dari Bandung tua. Sebab kota bukan aplikasi yang bisa di-update saban malam. Ada ingatan, sejarah, kepemilikan, struktur sosial, dan ekologi yang tidak dapat dihapus hanya karena sebuah konsep baru terlihat keren. Jalan, sungai, kompleks permukiman, bangunan bersejarah, dan ruang terbuka mempunyai lapisan sejarah. Perubahan yang tergesa-gesa bisa menghasilkan kota yang tampak modern tetapi kehilangan karakternya.
Kata Mang Tuteng asal Garut yang kini mukim di Murla (Muararajeun Lama), Caina herang, laukna beunang. Airnya tetap jernih, ikannya tetap dapat. Modernisasi semestinya menghasilkan keduanya, bukan memilih salah satu.
Karena itu, hubungan Bandung tua dan Bandung muda seharusnya bukan pertarungan antargenerasi. Yang satu memiliki memori, yang lain memiliki imajinasi. Yang satu paham bagaimana kota terbentuk, yang lain paham bagaimana kota mulai digunakan dengan cara-cara baru.
Masalah muncul ketika masing-masing merasa paling paham. Pemerintah bisa terlalu percaya pada dokumen perencanaan. Aktivis kota bisa terlalu percaya pada idealismenya. Pengusaha bisa terlalu percaya pada pasar. Anak muda bisa terlalu percaya pada tren. Kota yang sehat justru membutuhkan semua perspektif untuk saling mengoreksi.
Baca Juga: Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota
Bandung tua tidak perlu kehilangan jati dirinya untuk menerima pelajaran dari Bandung muda. Sebaliknya, Bandung muda tidak perlu membuang sejarah untuk menciptakan masa depannya. Keduanya bisa bertemu di satu prinsip sederhana, yakni kota dibuat untuk manusia yang hidup di dalamnya, bukan sebaliknya.
Bandung yang diwariskan kepada generasi berikutnya semestinya bukan sekadar Bandung yang berhasil mempertahankan masa lalu, melainkan Bandung yang berhasil membuat masa lalu berguna bagi masa depannya.
Dan mungkin di situlah seorang ayah akhirnya belajar dari anaknya. Tentu, bukan untuk menjadi muda lagi, tetapi bagaimana tetap bersedia belajar dan belajar, walau usia terus menua. (*)