Ayo Netizen

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Oleh: Dias Ashari
Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)

Penggalan story yang dibuat oleh seorang praktisi di bidang farmasi yang pernah saya kenal lewat forum perkuliahan, membuat saya diam sejenak dan merefleksikan bagaimana kondisi yang terjadi di Palangkaraya.

Melihat story itu juga menyadarkan saya bahwa suara-suara lewat demo, video yang diunggah ke media sosial ataupun kebiasaan saya menulis pun ternyata bisa jadi kontribusi untuk terus menyuarakan isu dan dampak yang dialami oleh mereka.

Saya memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh dan memberikan beberapa pertanyaan terkait kondisi yang terjadi di Kalimantan. Tentu dengan harapan suara kecil yang saya miliki bisa ikut berdampak untuk membantu masyarakat yang jauh di ujung sana.

Melalui DM Instagram saya membaca satu -persatu jawaban narasumber. Saya bergeming lalu diam cukup lama karena ikut merasakan betapa sesaknya kondisi disana. Dan bahkan yang lebih menyakitkan adalah mereka dipaksa untuk bertarung dengan asap pekat untuk tetap bisa memenuhi kehidupan sehari-hari.

Mungkin saat ini kita yang tinggal di Kota Bandung yang hanya terpapar asap knalpot masih tetap menjalani hidup yang normal. Pagi hari yang cerah kita masih bisa menikmati setidaknya udara yang lebih segar. Siang hari mencari makan siang di jam-jam istirahat kantor lalu sore hari merebahkan diri dan mungkin sambil memandang langit kota Bandung. Sementara mereka yang berada di Palangkaraya dari pagi hingga menjelang pagi kembali hanya bersinggungan dengan asap kuning pekat.

Menurut narasumber kehidupan masyarakat di Palangkaraya secara umum masih berjalan seperti biasa. Keadaan ekonomi memaksa mereka untuk tetap keluar rumah demi memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja. Namun disela perjuangan itu mereka tetap beriringan dengan dampak asap seperti tenggorokan sakit, sakit kepala yang berkepanjangan, sesak dan terkadang nyeri dada dan mata merah karena perih. Aktivitas warga pun makin sulit karena adanya pemadaman listrik secara bergilir.

Menurut narasumber secara pribadi tentunya sangat terdampak dari ranah kesehatan.

Tak hanya itu anak-anak dan suaminya pun turut terdampak ISPA serta batuk dan flu yang berkepanjangan. Namun menurutnya masyarakat rentan tentu menghadapi kesulitan jauh lebih berat dibandingkan dengan yang dialami oleh keluarganya.

Lewat wawancara ini saya jadi tau fakta baru bahwa sebetulnya asap karhutla sering terjadi setiap tahunnya. Narasumber mengaku sudah pernah merasakan asap karhutla selama 5 tahun terakhir dalam kepindahan domisilinya di Kalimantan, Pontianak dan Palangkaraya. Namun menurutnya asap tiga bulan terakhir ini yang paling parah berdasarkan pengalamannya.

Dalam kejadian karhutla tentu banyak lapisan masyarakat yang terdampak dan membutuhkan bantuan. Kelompok masyarakat rentan seperti bayi, balita, lansia, ibu hamil yang memiliki riwayat saluran nafas seperti asma, penderita jantung dll. Menurut informasi dan pengamatan yang dilakukan narasumber, kelompok rentan dalam strata sosial yaitu kelompok ekonomi kelas bawah sangat struggle karena dipaksa keadaan untuk terus bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari meski asap dan langit berwarna kuning pekat sekalipun.

Melalui wawancara tersebut saat ini semua elemen masyarakat sedang berupaya keras semampunya untuk berbuat sesuatu agar kondisinya membaik. Namun mereka juga tetap butuh dan menaruh harapan yang besar kepada pihak yang lebih berwenang agar kondisi karhutla bisa diatasi secara maksimal baik dari segi aturan maupun penegakan hukum. Dan kalimat terakhir yang paling penting pemerintah bisa mencegah atau melakukan mitigasi agar kondisi yang sama tidak terulang kembali.

Reporter Dias Ashari
Editor Andres Fatubun