Beranda

Di Balik Jepretan Kamera di Dago: Antara Faktor Ekonomi dan Privasi Pelari

Oleh: Ilham Maulana Sabtu 21 Feb 2026, 10:41 WIB
Seorang fotografer mengabdikan para pelari di daerah Dago, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Udara pagi di Jalan Dago belum sepenuhnya hangat ketika derap sepatu mulai terdengar berulang-ulang di atas aspal. Matahari masih malu-malu muncul dari sela pepohonan besar yang berbaris di kiri dan kanan jalan. Di antara irama napas para pelari, ada bunyi lain yang tak kalah konsisten: klik kamera.

Di beberapa titik, fotografer berdiri dengan kamera profesional menggantung di leher. Mereka tak berlari, tetapi kesibukannya setara. Fokus mereka bukan jarak tempuh, melainkan momen—langkah yang mantap, keringat yang menetes, atau ekspresi terkejut saat sadar sedang dibidik.

Salah satunya Daus (24). Sejak 2022, ia rutin memotret pelari pagi di Dago. Awalnya sekadar hobi semasa kuliah, kini menjadi sumber penghasilan tambahan setiap akhir pekan. Ia datang ketika langit masih gelap kebiruan dan baru beranjak pulang saat arus pelari mulai mereda. Ia masih ingat betul bagaimana Dago akhirnya menjadi “kantor” terbukanya.

“Awalnya saya motret di KBP, tapi lama-lama bosan, cari rute baru. Akhirnya ke Dago. Anggap saja Dago itu ruang mencari uang,” ujarnya.

Bagi Daus, Dago bukan sekadar ruang publik, melainkan ruang ekonomi. Sejak pukul lima hingga delapan pagi, ia memotret nyaris tanpa jeda. Momen yang ia tangkap kerap sederhana dan spontan.

“Biasanya natural aja, candid. Kalau ada yang minta direct, baru saya arahin gayanya,” katanya.

Daus rajin memotret pelari pagi di kawasan Dago, Kota Bandung. Dari semula hobi kini jadi pekerjaan sampingan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana.)

Perkembangan teknologi ikut mengubah cara kerjanya. Jika dulu ia harus membagikan tautan Google Drive dan membiarkan pelari mencari sendiri fotonya, kini aplikasi pemindai wajah mempermudah proses itu.

“Sekarang sudah ada aplikasi. Pelari tinggal daftar, nanti fotonya ke-scan otomatis. Lebih mudah,” jelasnya.

Mayoritas pembeli, menurutnya, menggunakan foto untuk kebutuhan media sosial. Ia menyebutnya sambil tersenyum ringan.

“Buat konten Instagram. Ngasih makan IG.”

Namun di balik kemudahan itu, ada sisi lain yang tak selalu terlihat. Daus mengaku tidak meminta izin sebelum memotret. Ia berpegang pada konteks ruang publik. Jika ada pelari yang keberatan, ia memilih langsung menghapus foto tersebut.

“Kalau ada yang enggak mau, biasanya langsung saya hapus. Batasannya paling di ruang publik aja, enggak ngerusak privasi orang,” katanya.

Fenomena ini, menurutnya, turut mengubah suasana Dago. Jalan yang dulu terasa lebih lengang kini hidup setiap akhir pekan. Fotografer, pelari, hingga penikmat pagi bercampur dalam satu ritme yang sama. Meski begitu, Daus tak yakin tren ini akan bertahan lama.

“Saya sih merasa mungkin empat tahun lagi hype-nya turun,” ujarnya memperkirakan.

Bagi Muhammad Raqin (22), kehadiran fotografer di Dago adalah sesuatu yang sulit dihindari. Ia menyadari dirinya kerap tertangkap kamera, meski tidak selalu siap. Setiap kali melihat lensa mengarah kepadanya, reaksinya spontan.

“Kadang kaget, kayak ada apa nih tiba-tiba difoto,” katanya.

Raqin pernah membeli fotonya sendiri. Namun ia juga merasakan sisi yang kurang nyaman, terutama ketika sedang tidak ingin menjadi sorotan.

“Terkadang lagi enggak mau difoto ya pasti risih. Menurut saya mending dibuat satu line jalan yang memang khusus untuk difoto. Jadi kalau enggak mau, bisa cari jalur lain,” ujarnya.

Baginya, ruang publik memang terbuka, tetapi tetap membutuhkan batas. Ia menilai aturan terkait privasi perlu dipertimbangkan agar pelari memiliki pilihan.

“Perlu sih ada aturan-aturan terkait privasi. Soalnya kan semua orang punya momen masing-masing,” tambahnya.

Pandangan berbeda datang dari Reyhan Sahla (26), yang sudah tiga tahun menekuni lari. Ia justru melihat fenomena ini sebagai bagian dari tren yang tak terpisahkan dari olahraga jalanan. Keberadaan fotografer di Dago sudah menjadi hal yang biasa baginya.

Sejumlah pelari melintas di kawasan Dago, Kota Bandung. (Foto: Reyhan Syahla)

“Kalau di Dago sih pasti sadar. Sepanjang jalan banyak fotografer. Kalau aku mah nyaman-nyaman aja, cuek aja, candid,” katanya.

Beberapa kali, ia membeli fotonya sendiri untuk membangun citra sebagai pelari di media sosial.

“Sekarang kan lagi tren. Saya juga lagi bangun personal branding sebagai pelari,” ujarnya.

Meski demikian, ia memberi batas yang jelas ketika persoalan menyangkut publikasi tanpa persetujuan.

“Kalau cuma konsumsi pribadi sih enggak masalah. Tapi kalau dipublish tanpa izin, itu bisa jadi pertimbangan,” katanya.

Menurut Raihan, setahunya para fotografer di Dago juga memiliki aturan komunitas tersendiri, meski tidak selalu tertulis secara resmi.

Pagi di Dago kini bukan hanya tentang berlari. Ia juga tentang dokumentasi, personal branding, dan peluang ekonomi. Di antara langkah kaki dan sorot lensa, ruang publik memuat lebih banyak kepentingan daripada sekadar olahraga. Setiap klik kamera menjadi penanda bahwa ada yang ingin diabadikan—dan ada pula yang mungkin ingin tetap berjalan tanpa direkam.

Reporter Ilham Maulana
Editor Andres Fatubun