AYOBANDUNG.ID - Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang. Ratusan kotak makanan berjejer, siap dibagikan kepada jemaah yang datang bergantian.
Ramadan di masjid kampus ini bukan sekadar rangkaian ibadah, tetapi juga komitmen untuk memastikan tak seorang pun berbuka sendirian. Pada Ramadan 1447 H, Panitia Pelaksana Program Ramadan & Iduladha (P3RI) Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari.
Ketua Pelaksana P3RI, Yazid Syauqi Al Ayyubi (19), menjelaskan jumlah tersebut disesuaikan dengan kapasitas dan perkiraan kehadiran jemaah yang berkisar antara 800 hingga 1.000 orang per hari. Pada momen tertentu, jumlah itu bisa melampaui estimasi, sehingga distribusi harus dilakukan dengan cermat agar tetap tertib dan merata.
“Setiap hari kami siapkan sekitar 800 porsi untuk jemaah yang berbuka di Salman,” ujar Yazid.
Berlia, panitia lainnya, menuturkan bahwa pembagian makanan gratis ini bukan sekadar agenda tahunan. Di balik ratusan porsi yang disiapkan, ada upaya menghadirkan suasana hangat dan inklusif bagi siapa pun yang datang. Masjid diharapkan menjadi ruang nyaman bagi mahasiswa, perantau, maupun masyarakat sekitar.
“Yang datang ke sini beragam, tidak hanya mahasiswa. Jadi kami ingin semua merasa diterima,” kata Berlia.
Di sisi lain, panitia juga menyadari konsekuensi dari pembagian ratusan porsi setiap hari, yakni potensi lonjakan sampah. Kotak makanan, plastik pembungkus, dan sisa makanan dapat menumpuk dengan cepat bila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, langkah mitigasi sudah dirancang sejak awal.

“Kami sadar 800 porsi itu berarti juga ratusan sampah setiap hari,” ujar Yazid.
Sebagai tindak lanjut, panitia menyiapkan sistem pemilahan sampah di area masjid. Tempat sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, sementara relawan aktif mengarahkan jemaah untuk membuang sampah sesuai kategori.
Inisiatif ini dijalankan bekerja sama dengan SAVIOR (Salman Environmental Rangers), komunitas yang bergerak di bidang edukasi dan aksi lingkungan di lingkungan Salman.
“Setelah berbuka, jemaah diarahkan untuk memilah sampah dengan dibantu panitia. Kami juga bekerja sama dengan SAVIOR dari Salman sendiri,” ujar Berlia.
Relawan SAVIOR membantu memastikan sampah organik dan anorganik tidak tercampur, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan masjid. Upaya ini menjadi bagian dari semangat Ramadan yang tidak hanya menekankan dimensi spiritual, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan.
Di Masjid Salman ITB, Ramadan menghadirkan dua wajah kepedulian sekaligus: solidaritas sosial melalui berbagi hidangan berbuka dan tanggung jawab ekologis melalui pengelolaan sampah yang terencana.