AYOBANDUNG.ID - Di balik gang sempit kawasan Cihampelas, berdiri masjid tertua di Bandung yang kini telah berusia sekitar satu setengah abad. Namanya Masjid Mungsolkanas.
Berbeda dengan nama masjid pada umumnya yang mengambil istilah dari bahasa Arab seperti An-Nuur atau Ar-Rahman, Masjid Mungsolkanas memiliki filosofi unik dari bahasa Sunda. Nama itu merupakan akronim dari kalimat “Mangga Urang Ngaos Sholawat ka Kanjeng Nabi S.A.W,” yang berarti “Mari kita bersholawat kepada Baginda Nabi S.A.W.”
Ketua DKM, Muhammad Tatang Sumantri (63), menceritakan pernah ada yang mengusulkan untuk namanya diubah.
“Ada usulan untuk mengganti nama, tetapi kami mempertahankan. Itu bagian dari identitas kami,” tegas Tatang.
Sajadah merah terhampar di ruang utama. Lampu besar memancarkan cahaya putih terang. Jemaah datang dan pergi silih berganti untuk menunaikan salat, sementara sejumlah anak muda tampak menyiapkan hidangan berbuka puasa. Itulah pemandangan yang tersaji di dalam masjid berusia 1,5 abad ini saat Ramadan.
Dari luar, bangunannya tidak tampak megah. Letaknya terkurung permukiman padat dan hiruk pikuk kota yang terus berkembang. Namun di bagian dalam, jejak tahun 1869 masih terpelihara melalui prasasti batu yang menandai awal berdirinya masjid tersebut.

Dari Rumah Bilik hingga Bangunan Berkeramik
Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu. Seiring waktu, bangunan itu mengalami sejumlah renovasi, terakhir selesai pada 2009. Meski bentuk fisiknya berubah, jiwa sejarahnya tetap dijaga.
Tatang menegaskan bahwa masjid ini bukan sekadar tempat ibadah.
“Ini titipan leluhur. Kami hanya melanjutkan amanah,” ujarnya saat ditemui di kediamannya yang tak jauh dari masjid.
Ia menjelaskan, pengelolaan masjid telah diwariskan secara turun-temurun hingga generasi kesembilan sejak Mama Aden sebagai generasi pertama. Sebagai warga asli yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan itu, Tatang menyebut sebagian besar warga masih memiliki hubungan kekerabatan.
“Dari dulu memang turun-temurun, supaya sejarahnya tidak putus,” katanya.
Satu Setengah Abad, Al-Qur’an Tulisan Tangan Masih Terjaga
Di salah satu sudut masjid berlantai keramik, tersimpan kitab suci dengan lembaran yang mulai menguning dimakan usia. Al-Qur’an itu dilindungi kotak kaca agar tetap terawat. Inilah salah satu peninggalan paling berharga sekaligus ciri khas Masjid Mungsolkanas: Al-Qur’an tulisan tangan Mama Aden.
“Itu ditulis tangan, sudah lebih dari satu setengah abad. Kami jaga betul,” ujar Tatang dengan suara yang tak lagi begitu lantang.
Menurutnya, Al-Qur’an tersebut menjadi simbol kesinambungan iman sekaligus sejarah yang harus dirawat setiap generasi.

Di sisi lain, menjaga masjid tertua di Bandung ini bukan tanpa tantangan. Keterbatasan lahan akibat padatnya permukiman menjadi persoalan utama.
“Eh, Pak, coba seperti Masjid Jogokariyan katanya. Aduh, kita mah sudah begini juga sudah syukur. Bukan nggak mampu, tapi percuma, nggak bakalan bisa,” akunya sambil tersenyum tipis.
Di Balik Gang Sempit, Mungsolkanas Tetap Hidup
Meski terhimpit bangunan permukiman dan perhotelan di sekitarnya, masjid ini tetap hidup. Setiap waktu salat tiba, saf jemaah dipenuhi warga setempat. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berdiri berdampingan di atas sajadah merah.
Saat Ramadan, suasana kian semarak. Panitia rutin menggelar kegiatan berbagi takjil, buka puasa bersama, hingga bazar kecil yang turut mendukung perputaran ekonomi warga.
“Kami ingin masjid ini bukan cuma tempat salat, tapi juga tempat berkumpul dan berbagi,” ujar Tatang.

Sebagai generasi kesembilan, ia meyakini kunci keberlangsungan warisan leluhur itu terletak pada rasa saling memiliki di antara warga.
“Selama masyarakat merasa memiliki, insyaAllah masjid ini akan terus hidup,” ucapnya.
Di antara dinding yang telah direnovasi berkali-kali, sejarah tetap berdiri utuh. Ada doa-doa yang diwariskan lintas generasi, serta jejak tulisan tangan yang masih terbaca jelas di lembaran Al-Qur’an tua tersebut.
Masjid Mungsolkanas bukan sekadar saksi sejarah, melainkan pengingat bahwa warisan iman dapat bertahan jauh lebih lama daripada fisik bangunannya.