Beranda

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Oleh: Ilham Maulana Rabu 04 Mar 2026, 15:22 WIB
Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID – Di saat banyak akun Instagram lahir, viral, lalu tenggelam tanpa jejak, Dagelan Jabar memilih beradaptasi. Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor. Ia mengikuti arus—mengangkat yang sedang ramai, menerima kiriman warga, dan membuka kolaborasi

Hampir sembilan tahun berselang, Dagelan Jabar tetap muncul di linimasa, bukan karena paling serius, melainkan karena luwes membaca perubahan zaman. Ya, seperti dagelan itu sendiri.

Di balik akun tersebut, ada Nono Sugianto (43) atau yang akrab disapa Kang Nonos. Ia menjadi satu-satunya pengelola yang bertahan hingga kini.

Awalnya, Dagelan Jabar bukanlah media informasi. Akun ini tumbuh dari komunitas meme bernama Meme Be Like, tempat berkumpulnya kreator meme dan pengelola akun repost.

“Awalnya itu sebelum ada Dagelan Region, kita tergabung di Meme Be Like. Isinya anak-anak pembuat meme, anak Pidgram, anak Word. Saya termasuk di situ. Jadi memang dari awal bukan media berita, tapi komunitas kreatif yang hobi bikin konten receh,” ujar Nono.

Pertengahan 2017 menjadi titik penting. Ia diundang oleh pemilik akun Cupang Senang untuk bertemu dan membahas proyek bersama PT Invia—perusahaan yang menaungi akun besar Dagelan. Dari pertemuan itu lahirlah konsep Dagelan Region.

“Waktu itu saya perwakilan Bandung. Awalnya cuma lima region: Jabar, Jakarta, Jateng, Jogja, sama Jatim. Lama-lama berkembang sampai 23 region. Jadi memang terstruktur, ada manajemen pusatnya juga,” katanya.

Di fase awal, Dagelan Jabar dikelola empat orang. Namun seiring waktu, kesibukan membuat satu per satu admin mundur. Hingga akhirnya pada 2023, jaringan Dagelan Region resmi dibubarkan.

“Komunikasi makin jarang karena masing-masing sibuk. Akhirnya kita sepakat menonaktifkan Dagelan Region. Kebetulan akun terakhir dipegang saya, jadi saya lanjut sendiri. Sayang kalau dilepas,” ujarnya.

Keputusan mempertahankan nama Dagelan Jabar bukan tanpa pertimbangan.

“Nama ini sudah jalan hampir sembilan tahun. Belum ada nama yang lebih kuat dari Dagelan Jabar. Dan sampai sekarang juga belum ada teguran atau permintaan ganti nama. Jadi ya saya teruskan saja,” katanya.

Perubahan Arah Konten

Jika menelusuri linimasa Instagram Dagelan Jabar hari ini, nuansanya memang berbeda dibanding era awal. Konten meme masih muncul, tetapi lebih banyak video kejadian lapangan, isu viral, hingga peristiwa lokal yang dikirim warga. Nono menyebutnya sebagai random post.

“Sekarang lebih random. Kalau ada yang ramai, kita angkat. Kalau ada yang lucu, masuk. Kalau ada video kejadian di jalan, kita posting. Jadi nggak kita kotak-kotakkan harus berita atau harus humor,” jelasnya.

Perubahan itu terjadi secara alami, bukan hasil perencanaan besar.

“Dulu memang pure akun repost meme. Sekarang karena orang juga sering tag atau collab, ya kita terima saja selama aman. Intinya menyambungkan informasi,” ujarnya.

Meski begitu, satu hal yang menurutnya paling sulit justru bukan soal perubahan konten, melainkan konsistensi.

“Tantangan terbesar itu konsisten. Mau akun kecil atau besar, kalau nggak konsisten posting pasti turun. Insight turun, engagement turun. Jadi yang paling berat itu jaga ritme,” tegasnya.

Kini ia mengelola akun tersebut sendirian. Untuk menjaga interaksi tetap hidup, ia mengandalkan kolaborasi dengan akun lain dan mengikuti isu yang sedang viral.

“Kalau ada yang lagi hype, kita ikut bahas. Terus collab juga penting, karena itu ngaruh ke insight. Sekarang kan sistemnya gampang, tinggal accept kalau aman,” katanya.

Antara Humor dan Isu Sensitif

Sebagai akun yang mulai memuat konten peristiwa, potensi bersinggungan dengan isu sensitif tentu ada. Namun hingga kini, Nono mengaku belum pernah mendapat tekanan serius.

“Belum pernah sampai diancam atau ditegur keras. Pernah angkat soal banjir tiap hujan di daerah saya. Itu kan sebenarnya sensitif, tapi memang kenyataannya begitu. Kalau pun ada yang DM, ya saya minta solusi. Saya juga warga,” ujarnya.

Dalam hal verifikasi, ia masih mengandalkan konfirmasi sederhana.

“Kalau ada yang kirim video, saya lihat dulu. Kadang tanya ke teman, ini video lama bukan? Kalau ada caption yang bisa jadi masalah, saya skip dulu. Jadi minimal jangan asal posting,” katanya.

Ia menyadari, identitas “dagelan” membuat sebagian orang belum sepenuhnya melihat akun ini sebagai media informasi.

“Mungkin karena namanya Dagelan, orang masih mikir ini akun bodor. Jadi belum terlalu dianggap media serius. Tapi ya nggak apa-apa. Saya juga nggak pernah klaim ini media resmi. Random post saja,” ujarnya.

Sempat Naik, Kini Bertahan

Di masa jayanya, ketika Dagelan Region masih solid, pemasukan dari brand cukup besar. Banyak proyek masuk melalui manajemen pusat maupun tim region.

“Dulu lagi naik daun, banyak brand masuk. Ada tim marketing, ada manajemen. Kita juga pernah kerja sama dengan instansi, bantu publikasi momen tertentu. Dari situ saya ngerasa akun ini ternyata punya dampak juga,” katanya.

Namun setelah jaringan bubar, sistem berubah. Kini kerja sama lebih banyak datang lewat pesan langsung.

“Sekarang ya nunggu yang DM. Kalau ada endorse masuk, ya kita ambil. Tapi nggak seperti dulu yang sudah terstruktur,” ujarnya.

Meski begitu, Nono tak menyesali perubahan tersebut. Baginya, yang terpenting adalah akun tetap hidup.

“Yang nggak nyangka itu bisa bertahan hampir sembilan tahun. Dari awal cuma akun meme, sampai sekarang jadi akun yang kadang orang pakai buat nyampein informasi. Buat saya itu sudah cukup,” katanya.

Di tengah menjamurnya akun informasi lokal dan media “homeless” di Instagram, Dagelan Jabar berdiri di wilayah abu-abu: bukan sepenuhnya media berita, tetapi juga bukan lagi sekadar akun humor.

“Ya bisa dibilang media humor yang dibalut informasi. Intinya mah gas aja. Mau collab ayo, mau laporan ayo. Yang penting informasinya nyampe,” tutup Nono.

Reporter Ilham Maulana
Editor Andres Fatubun