AYOBANDUNG.ID - Ratusan orang berkumpul di kawasan Braga, Kota Bandung, untuk merayakan International Women’s Day (IWD) 2026. Spanduk berwarna ungu, poster berisi tuntutan, serta suara orasi memenuhi ruang publik di sepanjang jalan itu. Suasana terasa hidup—hari tersebut menjadi ruang bagi banyak anak muda untuk menyampaikan suara dan pengalaman mereka tentang perjuangan perempuan.
Di tengah kerumunan, para peserta datang dari beragam latar belakang. Ada mahasiswa, aktivis komunitas, hingga mereka yang baru pertama kali mengikuti aksi di ruang publik. Bagi sebagian dari mereka, peringatan IWD bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan untuk memahami dan menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan.
Dari Papua, Menghadapi Penindasan yang Berlapis
Ana (30) bersama Misel (19) dari Aliansi Mahasiswa Papua turut hadir dengan membawa pengalaman perjuangan perempuan Papua. Bagi mereka, kehadiran di IWD merupakan bentuk solidaritas sekaligus upaya untuk mengungkapkan realitas penindasan yang mereka rasakan.
“Penindasan terhadap perempuan itu sejak dulu sampai hari ini masih terjadi, dan perempuan Papua tidak terlepas dari itu. Kami ditindas secara berlapis oleh kolonialisme, militerisme, imperialisme, dan kapitalisme,” ungkap Ana dengan suara tegas dan sorotan mata yang serius.
Menurut Ana, berbagai sistem tersebut saling berkaitan dan membuat perempuan Papua menghadapi situasi yang semakin kompleks. Karena itu, IWD menjadi momen penting untuk menyampaikan pengalaman tersebut kepada publik yang lebih luas.
“International Women’s Day tahun ini maknanya sangat dalam bagi pembebasan perempuan Papua dan pembebasan perempuan secara keseluruhan,” ujar Ana.
Bagi Michelle yang baru bergabung dalam gerakan mahasiswa, pengalaman konflik di Papua menjadi alasan utama kehadirannya. Ia menilai perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak dalam situasi kekerasan.
“Perempuan di Papua lebih banyak menjadi korban karena adanya konflik. Maka perempuan juga harus bersuara, dan hari ini kami hadir di sini,” ucapnya saat ditemui setelah menyampaikan puisinya di panggung IWD Bandung 2026.
Generasi Muda dan Kesadaran Baru
Di antara peserta lainnya, Nazwa Putri Hermawan (19) dan Rezkita Maura Salsabila (19) mengikuti aksi ini sebagai wujud kesadaran baru terhadap isu ketimpangan gender. Menurut Nazwa, peringatan IWD mengingatkan bahwa perjuangan perempuan masih jauh dari selesai.
“Dengan adanya peringatan seperti ini berarti masih ada hal yang harus diperjuangkan, terutama soal ketimpangan dan ketidaksetaraan gender,” kata Nazwa.
Ia juga mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertamanya terlibat dalam aksi di ruang publik. Ketertarikannya muncul dari keinginan untuk memahami isu patriarki dan kondisi sosial politik yang mempengaruhi kehidupan perempuan.
“Aku memang belum pernah ikut aksi sebelumnya, tapi menurutku ini momen yang tepat untuk ikut menyuarakan isu-isu perempuan,” ujarnya.
Sementara itu, Maura menyoroti persoalan akses yang belum merata, terutama bagi penyandang disabilitas. Pengalaman melihat kondisi temannya di kampus membuatnya menyadari bahwa masih banyak ruang pendidikan yang belum inklusif.
“Kampusku masih sangat tidak ramah untuk disabilitas, dan itu bisa menghambat mereka untuk belajar. Jadi aku ingin teman-teman lebih aware terhadap isu ini,” kata Maura.
Ia juga menyinggung ketimpangan di dunia kerja yang masih sering terjadi. Menurutnya, perempuan kerap dipandang kurang mampu dibandingkan laki-laki, meski memiliki kompetensi yang sama.
“Perempuan sering dianggap tidak becus melakukan pekerjaan yang sama seperti laki-laki, padahal kita juga bisa,” ujarnya.

Perjuangan yang Terus Dilanjutkan
Di sisi lain dari kerumunan, Anike Kerda (18) mengungkapkan alasan sederhana keikutsertaannya dalam aksi tersebut. Baginya, IWD adalah kesempatan untuk menegaskan bahwa perempuan memiliki hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
“Kita perempuan punya hak untuk mengejar cita-cita. Jangan berakhir di dapur atau hanya duduk diam,” kata Ani.
Ia berharap gerakan perempuan dapat terus berkembang dan memperjuangkan keadilan di berbagai bidang kehidupan.
“Perempuan harus berjuang terus sampai mendapatkan keadilan dan hak-haknya,” ujarnya.
Makna yang Terus Berkembang
Bagi kaum muda yang berkumpul di Bandung pada hari itu, IWD bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini menjadi ruang untuk berbagi cerita, pengalaman, dan kegelisahan—mulai dari konflik di Papua hingga persoalan akses pendidikan dan kesetaraan di kota-kota besar.
Beragam suara yang muncul memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan memiliki banyak wajah dan konteks. Namun dari semua cerita yang disampaikan, ada satu pesan yang terasa sama: perjuangan perempuan masih panjang, dan generasi muda ingin menjadi bagian dari perjalanan itu.