AYOBANDUNG.ID - Di sebuah jalan kecil di Andir, Bandung, berdiri tempat potong rambut yang masih bertahan sejak zaman kolonial. Sebuah plang kecil dari lempengan besi tipis yang mulai berkarat menjadi penanda bangunan itu. Namanya Barbershop Sawargi.
Berbeda dengan barbershop modern yang kerap dipenuhi anak muda sibuk dengan gawainya di ruang tunggu, suasana di Sawargi terasa kontras. Dari luar, tampak seorang pria tua duduk di kursi besi di teras depan. Kacamata bertengger setengah turun, tangannya memegang koran sambil sesekali menyipitkan mata untuk membaca. Bahkan sebelum masuk, nuansa lawasnya sudah terasa kuat.
Di balik cermin besar yang memantulkan kursi-kursi tua, tersimpan kisah panjang tentang perpindahan, perjuangan, dan upaya bertahan hidup di kota.
Risyad Erawan Harjani (50), yang akrab disapa Icad, adalah generasi ketiga yang melanjutkan usaha yang dirintis kakeknya sejak 1949.

Dari Kampung ke Kota
Kisah Barbershop Sawargi bermula dari sebuah keputusan besar, meninggalkan kampung halaman di Garut demi mencari kehidupan baru di Bandung. Kakek Icad, Eros Saifullah, datang dengan harapan sederhana, membawa keterampilan yang ia pelajari saat bekerja pada orang Jepang.
“Barber Shop Sawargi ini didirikan oleh kakek saya, Eros Saifullah, beliau dari Garut, dari Leles,” kata Icad saat ditemui di kediamannya.
Perpindahan itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bagian dari gelombang urbanisasi pascakemerdekaan. Bandung, sebagai kota yang terus berkembang, menjadi tujuan bagi banyak pendatang untuk menggantungkan harapan hidup.
Icad bercerita, pada awalnya usaha tersebut hanya memiliki dua kursi sederhana. Namun dari titik itulah, kehidupan baru perlahan dibangun di kota ini.
Bertahan dari Masa ke Masa
Pada masa awal berdiri, pelanggan Sawargi didominasi oleh orang asing, terutama Belanda dan Jepang yang masih berada di Bandung. Seiring waktu, jumlah pelanggan terus bertambah, termasuk dari kalangan militer hingga tokoh masyarakat.
“Tahun 1953 mulai ramai, yang datang itu Belanda, Jepang, sampai tentara juga,” ucap Icad dengan wajah sumringah.
Usaha ini berkembang seiring dinamika Kota Bandung yang kala itu menjadi pusat aktivitas politik, militer, dan ekonomi. Relasi yang dibangun oleh sang kakek menjadi salah satu kunci keberlangsungan usaha.
Bahkan, sejumlah tokoh penting pernah duduk di kursi cukur sederhana itu. Dari jenderal hingga figur nasional, menjadikan Sawargi bukan sekadar tempat potong rambut, tetapi juga ruang pertemuan lintas generasi.

Urbanisasi sebagai Jalan Bertahan
Perpindahan dari Garut ke Bandung bukan tanpa alasan. Kondisi keamanan dan situasi sosial saat itu mendorong banyak orang mencari kehidupan yang lebih aman di kota.
“Waktu itu ada hubungannya juga dengan situasi DI/TII, jadi kakek akhirnya menetap di Bandung,” jelas Icad.
Kisah ini menunjukkan bahwa urbanisasi tidak selalu lahir dari ambisi besar, tetapi juga dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Kota menjadi tempat perlindungan sekaligus ruang untuk membangun masa depan.
Dari perjalanan itu, Sawargi menjadi bukti bahwa urbanisasi dapat melahirkan warisan yang bertahan lintas generasi.
Dari Usaha Kecil Menjadi Warisan Keluarga
Seiring waktu, usaha ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga untuk tetap terhubung. Nama “Sawargi” sendiri diambil dari nilai persaudaraan yang ingin dijaga.
“Namanya Sawargi itu (artinya) persaudaraan, supaya usaha ini bisa bantu kerabat-kerabat keluarga,” kata Icad.
Filosofi tersebut juga tercermin dalam cara mereka melayani pelanggan. Setiap orang diperlakukan layaknya keluarga. Percakapan hangat, interaksi santai, hingga kedekatan personal menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.
Nilai inilah yang membuat pelanggan tetap setia, bahkan hingga generasi berikutnya.
Tiga Generasi dalam Satu Gunting
Kini, setelah lebih dari 70 tahun, Sawargi masih bertahan di tengah gempuran barbershop modern. Meski lingkungan sekitar terus berubah, nilai yang diwariskan tetap dijaga.
“Sesuatu yang klasik itu tidak akan pernah mati, apalagi kalau ada sejarahnya,” ucap Icad.
Ia tidak hanya mempertahankan usaha, tetapi juga merawat cerita di baliknya. Bagi Icad, Sawargi bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan warisan perjalanan keluarga yang dimulai dari keputusan berani untuk merantau.
Di balik setiap potongan rambut, tersimpan kisah urbanisasi tentang harapan, penyesuaian, dan bagaimana sebuah keluarga akhirnya menemukan tempatnya di kota.