AYOBANDUNG.ID - Deretan buku bekas tampak tersusun rapi di atas rak kayu sederhana di trotoar Jalan Kautamaan Istri, Kota Bandung, Rabu sore, 1 April 2026. Sampul-sampulnya yang sebagian telah menguning menyimpan beragam cerita, mulai dari novel sastra hingga buku sejarah.
Di waktu yang sama, sekitar pukul 16.00 WIB, arus kendaraan di kawasan tersebut cukup padat, bertepatan dengan jam pulang sekolah anak-anak di sekitar Kautamaan Istri. Meski hiruk-pikuk lalu lintas tak terhindarkan, lapak-lapak kecil ini tetap bertahan, menjadi tempat para pemburu buku mencari bacaan yang sulit ditemukan di toko buku besar.
Salah satu penjual yang masih bertahan adalah Wawan Hermawan. Pria berusia 42 tahun itu telah hampir dua dekade menjajakan buku di kawasan tersebut. Ia memulai usahanya dengan mengikuti jejak sang saudara yang lebih dulu berdagang buku bekas di sana, pada masa ketika lapak buku masih jauh lebih ramai dibandingkan sekarang.
“Dulu yang jualan buku dari sini sampai ke belakang itu ada sekitar 72 orang. Sekarang tinggal beberapa saja. Sejak Covid, banyak yang berhenti,” kata Wawan.

Menurutnya, perubahan minat baca turut memengaruhi kondisi lapak buku bekas. Jika dulu pelajar dan mahasiswa kerap datang mencari buku murah, kini pembelinya lebih didominasi kolektor atau mereka yang memang hobi berburu buku lama.
“Sekarang yang datang biasanya pemain buku, kolektor. Kalau pelajar sama mahasiswa sudah jarang, mungkin lebih banyak cari di internet,” ujarnya.
Harga buku di lapak tersebut relatif terjangkau. Untuk novel atau buku umum, Wawan menjualnya mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000. Namun, untuk buku tertentu yang tergolong langka, harganya bisa lebih tinggi dan sering kali sudah dipesan lebih dulu oleh kolektor.
“Buku bekas itu menarik karena kadang barangnya langka. Ada yang langsung pesan lewat WhatsApp kalau dapat buku tertentu,” katanya.
Meski penjualan menurun sejak pandemi Covid-19, Wawan masih menyimpan harapan agar lapak buku bekas tetap bertahan.
“Harapan saya, pemerintah lebih menggalakkan lagi budaya membaca. Karena membaca itu gudangnya ilmu,” ujarnya.
Siang itu, di antara pengunjung yang datang, Muhammad Ripal terlihat sibuk membolak-balik tumpukan buku. Ia mengaku kerap datang ke lapak tersebut untuk mencari buku sastra lama yang sulit ditemukan di toko buku modern.
“Lagi nyari buku sastra sama buku-buku yang agak nyentrik dari zaman dulu. Misalnya karya Seno Gumira Ajidarma atau penulis lain yang bukunya sudah lama,” kata Ripal.
Baginya, buku bekas membuka peluang untuk menemukan pemikiran lama yang masih relevan hingga saat ini.

“Bukan berarti buku baru enggak bagus, tapi saya lagi tertarik baca pemikiran dari zaman dulu. Referensinya kadang beda, dan itu menarik,” ujarnya.
Ripal bahkan pernah menemukan buku karya Jalaluddin Rumi, penyair sufi asal Persia yang karyanya telah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.
“Saya pernah nemu buku Rumi di sini, judulnya Nyanyian Seruling. Buku seperti itu jarang ada di tempat lain, tapi di sini kadang masih ada,” katanya.
Selain harga yang lebih murah, pengalaman mencari buku secara langsung juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Kalau di lapak seperti ini kita bisa buka-buka buku, mencium bau kertasnya, dan menemukan buku yang tidak kita rencanakan sebelumnya. Rasanya beda dibanding beli online,” ujarnya.
Pengunjung lain, Anhar, juga mengaku beberapa kali datang ke lapak buku bekas ketika mencari judul yang sudah tidak dicetak ulang. Menurutnya, toko buku besar sering kali hanya menyediakan judul terbaru sehingga buku lama sulit ditemukan.
“Buku bekas sering menawarkan judul yang sudah tidak dicetak lagi. Itu menarik karena memberi kesempatan buat kita mengakses karya yang mungkin sudah tidak tersedia di toko buku baru,” kata Anhar.
Selain itu, faktor harga menjadi pertimbangan penting, terutama bagi mahasiswa yang ingin membaca banyak buku tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Untuk beberapa jenis buku, harganya bisa jauh lebih murah. Ini tentu membantu mahasiswa yang ingin membaca tapi tidak punya budget terlalu besar,” ujarnya.
Anhar pernah menemukan buku yang sudah lama ia cari, yaitu Refrain karya Winna Efendi, yang kini sulit ditemukan dalam edisi baru. Ia menilai lapak buku bekas juga berperan sebagai alternatif distribusi pengetahuan.
“Tempat seperti ini membantu menjaga keberagaman bacaan, termasuk buku-buku lama yang mungkin sudah tidak tersedia lagi di toko buku besar,” katanya.
Menurutnya, proses mencari buku di lapak bekas juga menghadirkan pengalaman tersendiri.
“Yang menarik itu proses eksplorasinya. Kita bisa menemukan buku secara spontan, membuka halaman-halamannya, dan kadang dapat buku yang sebelumnya tidak kita rencanakan,” ujarnya.
Meski jumlah penjual buku bekas di Jalan Kautamaan Istri kini jauh berkurang, lapak-lapak tersebut masih menjadi ruang penting bagi sebagian pembaca. Buku-buku yang dijual mungkin hanya bernilai belasan ribu rupiah, tetapi isinya menyimpan pemikiran, sejarah, dan cerita dari masa lalu.
Saat matahari mulai turun di balik gedung-gedung kota, Wawan kembali merapikan tumpukan bukunya. Sesekali ia melirik layar WhatsApp, berharap ada kolektor yang memesan judul langka yang baru ia temukan pagi itu.