AYOBANDUNG.ID - Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Kota Bandung tidak hanya menjadi persoalan ekonomi bagi pedagang, tetapi juga membuka peluang untuk menata ulang kebiasaan masyarakat dalam menggunakan plastik sekali pakai. Di balik keluhan para pelaku usaha, situasi ini justru dapat menjadi titik awal untuk mengurangi timbulan sampah yang selama ini menjadi beban kota.
Di sejumlah pasar, seperti Pasar Segar Kopo di Jalan Taman Kopo Indah 2, dampak kenaikan harga plastik sudah terasa nyata. Para pedagang mengaku kesulitan menjaga harga jual karena biaya kemasan meningkat tajam. Kondisi ini membuat daya beli konsumen ikut tertekan.
Dede Mulyana, pedagang plastik yang telah berjualan selama puluhan tahun, merasakan langsung perubahan tersebut. Ia menyebut harga berbagai jenis plastik naik dalam beberapa bulan terakhir dan sulit dikendalikan.
“Saya jualan disini ada 20 tahun, jualan jenis plastik selerti, keresek, OPP, AD, dll,” ucapnya.
Menurutnya, kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis plastik. Ia bahkan menyebut harga kini berada pada level yang cukup tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Sekarang lagi tinggi, tinggi banget sekarang, paling ada yang Rp 40.000 lebih, Rp 50.000,” ujarnya.

Kondisi ini membuat pelanggan mulai mengurangi pembelian. Sebagian memilih mencari alternatif yang lebih murah atau menggunakan kembali plastik yang sudah ada.
“Seperti keresek Rp 15.000, dari pertama itu kan keresek jual cuma Rp 6.500 sekarang jadi Rp 9.000, sebelumnya beli diharga Rp 9.000, sekarang jadi Rp 11.000,” ucapnya.
Penurunan daya beli juga dirasakan pedagang lain. Dadang Mulayana menyebut penjualan plastik menurun drastis sejak harga melonjak.
“Anjlok jauh, dari konsumen banyak yang ngeluh termasuk pedagang juga,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya penjualan masih stabil, namun kini satu ikat plastik pun sulit terjual.
“Waktu belum naik lumayan bisa terjual 4 ikat sampai lebih, sekarang mah satu ikat juga susah,” ujarnya.
Saatnya Ubah Kebiasaan
Di sisi lain, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan melihat fenomena ini sebagai persoalan serius sekaligus peluang. Ia mengungkapkan bahwa harga plastik kemasan bahkan melonjak hingga beberapa kali lipat dalam waktu singkat.
“Saya mendapat laporan harga plastik bungkus naik signifikan. Dari yang biasanya sekitar Rp15 ribu per paket kini menjadi Rp40 ribuan,” kata Farhan.
Kenaikan ini dinilai membebani pelaku usaha, terutama UMKM kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk layanan bawa pulang. Meski demikian, ia menilai situasi ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
“Kalau keluar rumah jangan lupa bawa kantong belanja sebagai pengganti kresek dan bawa juga kontainer makanan dari rumah,” imbaunya.
Ia juga menegaskan bahwa mahalnya plastik bisa menjadi dorongan untuk mengurangi sampah.
“Selain harganya mahal ini juga kesempatan kita untuk mengurangi sampah plastik,” tuturnya.
Jika melihat data produksi sampah Kota Bandung tahun 2024, potensi pengurangan plastik memang sangat signifikan. Sampah plastik tercatat mencapai 249,16 ton per hari. Angka ini menempatkan plastik sebagai salah satu jenis sampah terbesar setelah sisa makanan yang mencapai 664,24 ton per hari. Jumlah ini menunjukkan betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai.
No | Jenis Sampah | Produksi (Ton/Hari) |
1 | Sisa Makanan dan Daun | 664.24 |
2 | Plastik | 249.16 |
3 | Kertas | 195.75 |
4 | Lainnya | 176.50 |
5 | Kain | 70.87 |
6 | Kayu dan Ranting | 59.38 |
7 | Karet dan Kulit | 35.51 |
8 | Limbah B3 | 27.15 |
9 | Logam | 13.43 |

Pasar Penyumbang Sampah Plastik Terbanyak
Namun, upaya pengurangan plastik tidaklah mudah. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat menilai ada tantangan struktural yang harus dihadapi. Salah satunya adalah maraknya pasar dadakan yang menghasilkan banyak sampah plastik tanpa pengelolaan yang memadai.
Jefry Rohman dari Walhi menyoroti bahwa sebagian besar sampah dari aktivitas tersebut adalah plastik sekali pakai. Ia juga menilai penanganan sampah masih belum menyentuh akar persoalan.
"Sebetulnya siapa sih yang mengizinkan pasar dadakan? pasti ada pihak yang mengizinkan dan pasti kalau cara pandangnya bagaimana menangani dampak dari pasar-pasar tumpah itu pasti kalau dipikirkan," kata Jefry.
Selain itu, pendekatan pengelolaan sampah dinilai masih berorientasi pada retribusi, bukan pada pengurangan dari sumber.
"Pemerintah sampai saat ini melihat permasalahan sampah ini baru sebatas ada nilai didalamnya. Apa itu? Ada retribusi. Jadi artinya pemerintah baru bisa menangani sampah ketika ada retribusi," ujar Jefry.
Program pengurangan sampah seperti Kang Pisman juga belum berjalan optimal di tingkat masyarakat. Perubahan perilaku masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan kebijakan konsisten dan berkelanjutan.

Kenaikan harga plastik ini sebenarnya membuka ruang untuk perubahan. Ketika plastik menjadi mahal, masyarakat dan pelaku usaha dipaksa untuk mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, tanpa dukungan kebijakan, infrastruktur, dan edukasi yang kuat, momentum ini bisa berlalu begitu saja.
Jika dimanfaatkan dengan tepat, kenaikan harga plastik dapat menjadi titik balik untuk mengurangi sampah di Kota Bandung. Namun, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa perubahan tersebut membutuhkan kerja bersama yang tidak sederhana.