AYOBANDUNG.ID — Di tengah ruang baca senyap yang digelar Komunitas Baca di Bandung, Herry Prihamdani memilih datang tak sendiri. Ia menggandeng tangan anak perempuannya, mengenalkan buku sejak dini melalui cara yang sederhana: duduk berdampingan, membuka halaman, dan menikmati keheningan bersama.
Dari momen kecil itu, kebiasaan membaca perlahan ditanamkan bukan dengan paksaan atau kewajiban tapi dengan contoh.
Begitulah secuil suasana nyata yang menggambarkan kegiatan “Baca Bersama” yang diinisiasi Komunitas Baca di Bandung hari Minggu lalu.
Aktivitas sederhana ini mempertemukan beragam individu mulai dari pelajar, pekerja, hingga keluarga. Bagi banyak orang, membaca sering diasosiasikan dengan kesendirian. Namun di sini, kesendirian itu dibagi tanpa perlu percakapan atau diskusi.
“Kalau misalnya bareng-bareng, tapi kita nggak harus ngobrol, itu punya magisnya tersendiri,” kata founder Komunitas Baca di Bandung, Balebat Buana Puspa (30), yang akrab disapa Ebat.
Dari pengalaman pribadinya, Ebat menciptakan ruang yang ia sebut introvert-friendly. Ia ingin mengembalikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan kewajiban yang melelahkan.
“Reading for pleasure, not for pressure,” ucapnya.
Ide ini muncul dari pengamatan bahwa banyak komunitas literasi terlalu berfokus pada diskusi. Sementara itu, tidak semua orang merasa nyaman berbicara; sebagian hanya ingin menikmati kebersamaan dalam diam.
Kegiatan “Baca Bersama” atau silent reading book session ini berlangsung sederhana tanpa banyak aturan. Peserta datang ke taman sebelum pukul 10.00 WIB tanpa perlu mendaftar, lalu duduk dan membaca selama satu jam.
“Jam 10 kita mulai membaca sampai jam 11, habis itu ada pembagian postcard dan stiker, foto bareng, lalu bubar,” jelas Ebat.
Setelah sesi berakhir, suasana perlahan mencair. Sebagian peserta memilih pulang, sementara yang lain tetap tinggal—melanjutkan membaca atau berbincang ringan tentang buku.
Di tengah antusiasme tersebut, isu akses literasi masih menjadi perhatian. Minat membaca dinilai sudah tumbuh, tetapi belum sepenuhnya didukung fasilitas yang memadai.
“Tapi aksesnya masih jadi tantangan, terutama soal perpustakaan yang belum ramah untuk masyarakat yang bekerja atau sekolah,” ujar Ebat.

Bawa Anak
Kehadiran Herry bersama anaknya menjadi salah satu gambaran bagaimana ruang ini dimaknai lebih dari sekadar kegiatan membaca. Ia datang bersama anak perempuannya yang berusia enam tahun, membawa buku “Sepatu Usang” yang digenggam sang anak.
Sebagai ilustrator anak yang telah mengikuti kegiatan ini sejak awal, Herry merasakan pengalaman berbeda saat membaca dalam suasana kolektif yang hening.
“Perasaan jadi lebih tenang, kayak semacam meditasi setelah seminggu bekerja,” kata Herry.
Ia menambahkan, “Energi dari orang-orang yang sama-sama membaca itu terasa banget, walaupun semuanya diam.”
Menurutnya, geliat literasi di Bandung sebenarnya cukup aktif. Berbagai komunitas membaca, rumah literasi, hingga kafe dengan koleksi buku mulai bermunculan.
Sementara itu, Khilda Nurul (23) merasakan dorongan sederhana namun kuat: keinginan membaca muncul saat berada di lingkungan yang sama-sama melakukannya.
“Kalau baca di rumah kadang malas, tapi kalau bareng orang lain jadi ikut pengen baca juga,” kata Khilda.
Ia juga menilai kebiasaan membaca dapat tumbuh sejak dini melalui lingkungan sekolah dan sekitar. Dari pengalaman pribadinya, kebiasaan itu terbentuk sejak mengikuti berbagai program literasi di masa sekolah.
Seiring waktu, dampaknya pun terasa. Herry mendapatkan referensi bacaan baru dan semangat membaca yang lebih konsisten, sementara Khilda menemukan jejaring pertemanan dari kesamaan minat.
“Yang paling terasa itu jadi dapat banyak teman baru, bahkan di luar kegiatan baca,” ujar Khilda.
“Sering juga dapat rekomendasi buku yang bagus dari orang lain,” tambahnya.