AYOBANDUNG.ID - Masyarakat pengguna bahan bakar minyak (BBM) dikejutkan dengan keputusan PT Pertamina yang menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex secara signifikan pada Sabtu, 18 April 2026. Kenaikan yang terjadi secara mendadak ini memicu gelombang protes dan keluhan dari para konsumen di lapangan yang merasa terbebani oleh lonjakan harga yang dianggap tidak wajar.
Keluhan Konsumen: Bukan Naik Harga, Tapi Ganti Harga
Sejumlah konsumen di Kota Bandung mengaku kaget karena informasi kenaikan ini tidak tersosialisasi dengan baik. Aldi (24), seorang warga Ujungberung, menyatakan ketidaktahuannya terkait perubahan harga tersebut. "Saya baru tahu ada kenaikan harga BBM non-subsidi. Kaya tiba-tiba naik gitu ya," ujarnya. Ia yang biasanya menggunakan Pertalite atau Pertamax merasa khawatir jika nantinya BBM subsidi juga ikut naik karena akan berdampak besar bagi masyarakat menengah ke bawah.
Senada dengan Aldi, Eza (24) juga merasa pemerintah tidak konsisten dengan pernyataan sebelumnya. "Waktu itu bilang harganya aman, nggak berubah, tapi sekarang tiba-tiba naik. Di berita atau medsos juga ngga ada kabar apapun soal itu," sebutnya.
Keluhan lebih keras datang dari pengguna bahan bakar diesel. Dede Dendi, pengguna Pertamina Dex, mengaku sempat tidak percaya saat melihat angka di SPBU. "Kirain kemarin salah lihat pom, ternyata benar pas isi lagi harganya segitu," ucapnya.
Dede merasa kenaikan dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter sangat ekstrem. "BBM bersifat flaktuasi itu sedari dulu sudah diketahui oleh masyarakat ya. Kalau hanya naik beberapa ribu (maksimal) lima ribu biasa aja. Tapi kalau dari 14.500 ke 23.900 bahasa saya bukan lagi naik harga tapi ganti harga," tegasnya.
Ia bahkan mengkritik regulasi pemerintah yang dianggapnya semakin tidak teratur. "Cobalah pemerintah lebih bijak lagi dalam membuat regulasi, semakin kesini kesannya semakin acak-acakan," ujarnya.
Ali Abdulrahman, pengguna Pertamax Turbo, juga harus memutar otak akibat kenaikan dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. "Ya gimana lagi selaku pengguna khususnya dari 3 BBM ini harus beradaptasi dengan harga yang tinggi ini dan tentunya mencari cara untuk menghemat biaya," katanya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga karena menurutnya kenaikan ini sudah sangat memberatkan. "Harapannya semoga saja dari pihak pemerintah segera stabil lagi harganya, karena ini mah bukan naik lagi harganya tapi melonjak," tutupnya.

Tanggapan Pengamat: Potensi Migrasi dan Kelangkaan
Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, Pakar Ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kertabi menilai bahwa kenaikan tiga jenis BBM non-subsidi tersebut memang terlalu tinggi dan berpotensi menimbulkan dampak serius. Menurutnya, lonjakan harga ini akan mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis.
"Yang kita khawatirkan justru perpindahan dari Pertamax Turbo ke Pertamax. Kan Pertamax tidak naik. Jadi khawatirnya ketika terjadi migrasi ke Pertma akan terjadi kelangkaan, dan menyebabkan ikut naik. Apalagi kenaikannya cukup signifikan," kata Acuviarta Sabtu, 18 April 2026.
Acuviarta juga menyoroti transparansi perhitungan harga yang dilakukan oleh Pertamina. "Karena kalau saya lihat dasar kenaikannya itu tidak jelas perhitungannya seperti apa. Nah itu yang saya kira perlu dijelaskan kepada publik. Kemudian saya kira, nanti kedepan akan ada dampak tadi terhadap permintaan Pertamax yang cukup tinggi," ujarnya.
Ia meminta agar Pertamina mengkaji ulang kebijakan ini agar kelompok masyarakat menengah tidak menanggung beban yang terlalu besar. "Karena jangan sampai kelompok menengah ini, juga menanggung terlalu besar. Karena yang akan mengkonsumsi, kelas menengah. Jadi saya kira kenaikannya itu bisa diminimalkan dan tidak terlalu tinggi kenaikannya," tukasnya.
Sebagai informasi, berdasarkan data resmi Pertamina, Pertamax Turbo naik Rp6.300 dari Rp13.000 menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite kini dibanderol Rp23.600 hingga Rp23.900 dari sebelumnya Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 dari Rp14.500 per liter. Sementara itu, harga BBM jenis Pertalite masih stabil di angka Rp10.000 per liter dan Pertamax di angka Rp12.300 per liter untuk wilayah Jawa Barat.