Beranda

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Oleh: Halwa Raudhatul Sabtu 09 Mei 2026, 19:04 WIB
Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Buku-buku di ruangan itu menumpuk hingga menyentuh langit-langit. Jumlahnya begitu banyak sampai menutupi jendela, membuat jalan di seberang tak lagi terlihat. Susunannya padat dan tidak serapi perpustakaan modern. Beberapa buku bahkan diselipkan mendatar di antara deretan buku lama yang warnanya sudah memudar.

Di sudut ruangan, sebuah meja kecil dipenuhi map arsip dan tumpukan buku yang baru dikembalikan pengunjung. Di samping laptop yang masih menyala, Anton Solihin (58) duduk membuka lembar demi lembar dokumen tua berisi arsip Perpustakaan Batu Api.

Topi pet putih dan kacamata yang dikenakannya agak menurun seolah menyatu dengan ruangan kecil tersebut. Sesekali ia menunjukkan beberapa poster kegiatan yang pernah diadakan perpustakaan ini beberapa waktu silam. Mulai dari diskusi tentang gay, penayangan film, hingga pembakaran buku.

Di belakangnya, ribuan buku hampir menutupi seluruh dinding Perpustakaan Batu Api, ruang baca yang ia bangun di Jatinangor sejak tahun 1999.

“Hidup saya di dieu (di sini),” kata Anton saat ditanya mengenai aktivitasnya, Sabtu 9 Mei 2026.

Bagi Anton, Batu Api bukan hanya perpustakaan alternatif atau ruang literasi seperti yang sering orang sebut. Tempat itu adalah bagian dari kehidupannya. Ruang untuk bertahan, berpikir, dan menyimpan buku-buku yang dianggapnya berharga untuk dijaga.

Anton kini berusia 58 tahun. “Sudah tua,” katanya sambil tertawa. Ibunya asli Bandung, sedangkan ayahnya dari Palembang. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Anton tidak tumbuh besar di Bandung. Saat duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), ia tinggal di Pulau Timor, NTT, mengikuti sang ayah yang bekerja di sana.

Ia melanjutkan studi di Ilmu Sejarah Unpad dan lulus pada 1994, sebelum akhirnya mendirikan Perpustakaan Batu Api pada 1999. Sebelum dikenal sebagai pengelola Batu Api, Anton lebih dulu terjun ke dunia musik. Masa mudanya dihabiskan dengan nongkrong di lapak musik dan mencari album fisik saat akses terhadap musik masih sangat terbatas.

“Saya nongkrong di British Council, di Cihapit, di tempat Pak Udin,” katanya dengan kacamatanya yang dibiarkan menurun dan suaranya yang pelan.

Ia mengenang masa ketika album CD impor sangat mahal bagi mahasiswa pada era 1990-an. Keinginan untuk mengoleksi musik berujung pada semacam “dendam” yang akhirnya terbayarkan di era digital. Dalam ceritanya, saat ini Anton memiliki lebih dari 11 ribu koleksi rekaman musik dari berbagai negara dengan genre rock n roll kesukaannya.

Namun, kecintaannya pada buku muncul dari sudut-sudut pasar loakan di Bandung. Anton muda rutin mengunjungi lapak buku bekas milik Pak Udin di daerah Cihapit. Dari sanalah, ia mulai membeli buku-buku tua, terkadang dengan cara berutang karena belum memiliki banyak uang.

“Kadang-kadang beli itu dari ngutang. Dia tahu saya masih mahasiswa atau belum punya duit,” kata Anton sambil tertawa santai.

Pengunjung memanfaatkan koleksi buku alternatif di Perpustakaan Batu Api untuk kebutuhan riset dan bacaan pribadi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hidup Bersama Batu Api

Hobi berburu buku itu terus ia pelihara hingga kini. Hari libur Batu Api pada Minggu sering diisi oleh Anton dan istrinya, Arum, untuk mencari buku dari lapak loakan, Palasari, atau Gramedia.

Arum terpaut 10 tahun lebih muda dari Anton. Usianya yang menuju 50 tahun tidak memudarkan parasnya yang masih terlihat muda dengan nada bicara yang begitu ramah. Tubuhnya kecil dengan rambut hitam sebahu.

Arum bercerita, hari Minggunya bersama Anton sering dihabiskan dengan menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki untuk berburu buku. Mobil tua yang terparkir di depan perpustakaan jarang mereka gunakan. Katanya, mobil itu “banyak jajannya”, belum lagi macet dan sebagainya, ujarnya sambil tertawa. Setelah menjelajahi tumpukan buku, mereka biasanya menutup hari dengan makan bersama.

“Minggu mah ngebaso sama si teteh (Arum),” ujar Anton saat ditanya aktivitasnya ketika perpustakaan tutup.

Rumah Anton dan Arum terletak tepat di belakang Perpustakaan Batu Api. Bagian depannya sebagian tertutup bangunan Batu Api. Anton bercerita, di rumahnya ia dan Arum memiliki empat ekor kucing yang menemani mereka.

Arum telah menemani Anton mengelola Batu Api sejak pertama kali berdiri pada 1999. Ia paham betul bagaimana kehidupan mereka berjalan jauh dari apa yang dianggap “normal” oleh kebanyakan orang.

“Hidup sama dia tuh harus nggak waras,” kata Arum sambil tertawa.

Pernyataan itu bukan keluhan. Arum justru mengatakannya dengan kesadaran bahwa bertahan hidup dari perpustakaan independen selama 27 tahun memang terdengar mustahil. Namun, pada kenyataannya mereka tetap bertahan hingga kini.

“Karena harus sama-sama nggak waras buat bisa bertahan hidup dari penghasilan Batu Api sendiri,” lanjutnya.

Arum bercerita, sebagian besar buku di Batu Api berasal dari pembelian dan koleksi pribadi. Ia mencontohkan buku yang dibeli seharga ratusan ribu rupiah, tetapi dipinjamkan hanya dengan biaya Rp5 ribu per minggu. Belum lagi risiko rusak atau hilang setelah dipinjamkan. Entah bagaimana cara balik modalnya, katanya sambil terkekeh.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pengumpul “Runtah” Budaya

Anton sendiri tidak pernah sepenuhnya memahami bagaimana tempat itu bisa tetap bertahan hingga kini. Ia juga mengaku tidak memahami ilmu perpustakaan, seperti pelabelan atau pengkategorian buku sebagaimana diajarkan dalam teori perpustakaan. Ia menyimpan buku sesuai keinginannya, tetapi selalu ingat posisi setiap buku yang ada di sana.

“Ya, kayak (buku-buku) tentang Israel misalnya di atas sana. Ini Arab di sini,” kata Anton sambil menunjuk satu sudut rak ke sudut lainnya.

“Ini mereka berhadapan tiap malam kan sengaja biar sering papelong-papelong (lihat-lihatan),” lanjutnya sambil tertawa.

Kesederhanaan Anton terlihat dari cara dia mengelola Batu Api. Ia menolak menyebut tempat itu sebagai perpustakaan karena merasa sistemnya terlalu barbar untuk ukuran perpustakaan formal.

“Kalau perpustakaan harus begini, harus katalogisasi. Kalau di sini mah numpuk cuma tetap bisa ngenah (nyaman),” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, Anton mengumpulkan berbagai hal yang dianggap tidak penting oleh banyak orang. Buku-buku langka, arsip budaya populer, rekaman musik tua, kliping koran, hingga dokumen yang bahkan tidak dimiliki institusi resmi.

Ia baru menyadari nilai dari koleksinya ketika banyak mahasiswa, peneliti, dan akademisi datang mencari bahan yang sulit ditemukan di tempat lain, tetapi tersedia di Batu Api. Salah satunya ketika seorang mahasiswa menemukan informasi tentang tokoh arsip nasional Indonesia dari koleksi pribadi Anton.

“UGM itu sudah lama nyari orang ini, bukunya di mana sih? Ternyata saya nyimpan semuanya,” ujar Anton.

Batu Api kemudian berubah menjadi tempat singgah bagi berbagai orang dengan kebutuhan yang berbeda. Ada mahasiswa yang mencari referensi skripsi, peneliti budaya populer, penggemar musik lama, hingga orang-orang yang sekadar ingin mengobrol dan bercerita.

Selama obrolan berlangsung, orang silih berganti duduk di kursi depan meja Anton. Mulai dari mahasiswa yang bertanya mengenai referensi judul skripsi, orang yang mencari satu judul buku tertentu, hingga dosen yang meminjam belasan buku.

“Saya merasa seperti mantri atau tukang obat. Orang datang bawa macam-macam cerita,” ujar Anton di akhir obrolan.

Meski begitu, Anton menolak disebut sebagai penyelamat literasi. Ia merasa hanya melakukan apa yang ia cintai selama bertahun-tahun.

“Pengumpul ‘runtah’ budaya,” ucap Anton ketika diminta mendefinisikan dirinya sendiri.

Di tengah berkembangnya ruang baca modern dan budaya digital yang serba cepat, Batu Api tetap bertahan dengan caranya sendiri. Sempit, tetapi tetap hidup dan terawat. Seperti pemiliknya, ruang itu tidak dirancang untuk sempurna, melainkan untuk tetap menyala.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun