Beranda

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Oleh: Toni Hermawan Senin 11 Mei 2026, 10:17 WIB
Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

AYOBANDUNG.ID - Kecamatan Astana Anyar mengukuhkan posisinya sebagai wilayah dengan tingkat keberagaman agama yang paling menonjol di Kota Bandung menurut data Profil Perkembangan Penduduk Kota Bandung 2025 yang diterbitkan oleh Disdukcapil Kota Bandung. Berdasarkan data tersebut, kecamatan ini memiliki total penduduk sebanyak 73.853 jiwa dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi, di mana persentase penduduk non-Islam mencapai sekitar 18,78%.

Meskipun mayoritas penduduk memeluk agama Islam dengan jumlah 59.981 jiwa (81,22%), distribusi penganut agama lain di wilayah ini jauh lebih merata dibandingkan kecamatan lainnya.

Keberagaman tersebut tercermin nyata melalui proporsi penganut agama Kristen yang mencapai 9.475 jiwa (12,83%) dan umat Katolik sebanyak 2.865 jiwa (3,88%). Selain itu, Astana Anyar menjadi pusat bagi komunitas penganut Budha dengan jumlah 1.480 jiwa (2,00%), serta kehadiran pemeluk Hindu (33 jiwa), Konghucu (17 jiwa), dan penganut Kepercayaan (2 jiwa).

Keragaman pemeluk agama di Kecamatan Astana Anyar.

Kehadiran seluruh kategori agama dan kepercayaan dalam satu wilayah administratif ini menjadikan Astana Anyar sebagai potret nyata toleransi dan kemajemukan masyarakat Kota Bandung. Nilai tersebut salah satunya tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kelurahan Cibadak, salah satu dari enam kelurahan di Kecamatan Astana Anyar.

Ketua Limas Cibadak Abah Ipan (53) mengatakan, kehidupan masyarakat di Kampung Toleransi Cibadak selama ini berjalan harmonis meski dihuni berbagai etnis dan agama. Menurutnya, seluruh warga dapat hidup berdampingan dan saling berbaur tanpa memandang perbedaan. Kondisi tersebut tercipta karena adanya rasa saling menghormati yang terus dijaga masyarakat sejak lama.

“Selama saya di sini, warga dari berbagai etnis Alhamdulillah bisa saling berbaur. Bahkan, ada juga yang menjadi staf RW,” ucapnya.

Ipan menyebutkan, kerukunan antarwarga di wilayahnya sudah terjalin sejak lama. Berbagai kegiatan kemasyarakatan pun selalu melibatkan seluruh warga tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama.

“Selama ini semua etnis saling membantu, bahu-membahu. Semua saling mengerti, apalagi sekarang Ketua Kampung Toleransi ini juga didukung staf dari berbagai agama,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi contoh nyata bahwa masyarakat dengan keyakinan berbeda tetap bisa hidup rukun dan bekerja sama menjaga lingkungan. Menurutnya, komunikasi yang baik antarwarga menjadi salah satu kunci terciptanya suasana aman dan damai di lingkungan tersebut.

“RW di sini juga selama ini tidak ada kendala. Bagus juga karena mungkin kita ini Kampung Toleransi yang pertama,” ungkapnya.

Abah Ipan, ketua Linmas Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Ia menambahkan, Cibadak juga sempat menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan tingkat nasional yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintah. Kegiatan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga karena kampungnya dinilai mampu menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

“Waktu itu ada gebyar se-Indonesia dan kebetulan dilaksanakan di sini. Alhamdulillah kami dilibatkan bersama pemerintah dan berbagai pihak lainnya,” ucapnya.

Keberagaman di Kampung Cibadak justru menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk terus menjaga persatuan. Warga berharap semangat toleransi tersebut dapat diwariskan kepada generasi muda agar kerukunan antarumat beragama tetap terjaga di masa mendatang.

Hal senada disampaikan salah satu warga pemeluk agama Kristen, Tristan (49). Ia mengatakan, kegiatan sosial di lingkungan tersebut selalu melibatkan seluruh warga tanpa memandang agama maupun latar belakang. Kebersamaan masyarakat terlihat ketika ada kegiatan sosial maupun bantuan untuk warga yang membutuhkan.

“Kalau kegiatan sosial di sini kadang ada pembagian sembako, pengobatan gratis, semuanya untuk warga di sini,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kerja sama antarwarga dan pengurus lingkungan sangat penting agar bantuan sosial dapat tersalurkan secara merata kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Kita harus sama-sama bekerja sama, karena data warga yang berhak menerima bantuan harus jelas. Jadi perlu kerja sama dari pihak RT dan RW setempat,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan salah satu warga pemeluk agama Buddha, Kim Kim (49). Ia menilai suasana toleransi di lingkungannya sudah menjadi budaya sehari-hari. Warga terbiasa saling menghargai ketika masing-masing menjalankan kegiatan keagamaan maupun acara keluarga.

Menurut Kim Kim, ia sudah merasakan suasana toleransi sejak kecil tinggal di kawasan tersebut. Ia mengaku tidak pernah mengalami perlakuan berbeda meski hidup di tengah masyarakat yang beragam.

“Saya tinggal di sini dari bayi. Bagus sih semuanya, beragam dan saling menghormati,” ucapnya.

Kim menyebutkan, hubungan antarwarga di Kampung Toleransi semakin erat dari waktu ke waktu karena sudah seperti keluarga besar. Menurutnya, warga terbiasa berkumpul dan saling membantu apabila ada kegiatan ataupun keperluan mendadak.

“Semakin dekat ya, soalnya sudah seperti satu rumpun,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga Buddha saat ini tengah mempersiapkan perayaan Hari Raya Waisak yang juga mendapat dukungan dari masyarakat sekitar.

“Sekarang lagi persiapan buat acara Waisak, nanti sekitar tanggal 20-an,” jelasnya.

Hal senada disampaikan salah satu warga pemeluk agama Islam, Haris Abdullah (44). Ia mengatakan, seluruh warga turut dilibatkan dalam berbagai kegiatan lingkungan, termasuk kerja bakti dan ronda malam. Semangat gotong royong masih sangat terasa di lingkungan tersebut.

Alhamdulillah, kalau ada kegiatan bersih-bersih bersama itu melibatkan banyak orang, termasuk warga nonmuslim juga ikut,” ucapnya.

Haris menyebutkan, kebersamaan warga juga terlihat dalam kegiatan musyawarah rutin dan laporan pertanggungjawaban lingkungan yang dilakukan setiap bulan. Menurutnya, keterlibatan seluruh warga membuat komunikasi antarmasyarakat berjalan dengan baik.

“Selain bersih-bersih ada juga pos ronda. Kalau ada agenda kumpul-kumpul semuanya ikut. Ada juga pelaporan LPJ setiap bulan dan semua dilibatkan,” ujarnya.

Ia berharap suasana kebersamaan tersebut dapat terus dipertahankan karena menjadi salah satu faktor utama terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh warga.

Vihara Iswari dibangun pada 1930 oleh Almh. Alipcih bersama generasi sebelumnya yang membawa patung Buddha dari Tiongkok, serta menjadi vihara pertama di Kota Bandung dengan seluruh pengurus perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Salah satu pemuda Cibadak, Dio (27), mengatakan perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi warga untuk tetap kompak dan saling mendukung. Menurutnya, masyarakat di lingkungannya sudah terbiasa hidup berdampingan sehingga hubungan antarwarga terasa sangat dekat.

“Ya itu kesenangannya, walaupun beda agama tapi kita tetap bisa saling berbaur,” ucapnya.

Ia menyebutkan, antusiasme warga dalam setiap kegiatan lingkungan selalu tinggi karena masyarakat memiliki rasa kepedulian yang kuat terhadap kampungnya. Setiap kegiatan yang dilaksanakan pengurus selalu mendapat dukungan dari warga.

“Kalau ada kegiatan, semua senang kumpul di sini. Malah warga sering lebih antusias. Selama pengurus mengadakan kegiatan, warga juga selalu respect dan ikut mendukung,” ujarnya.

Ia berharap, kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Kampung Cibadak dapat terus terjaga dan menjadi contoh bagi daerah lain. Menurutnya, komunikasi yang baik dan rasa saling menghormati menjadi modal utama menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

“Harapannya ke depan hubungan antaragama bisa lebih baik lagi, karena kita hidup bertetangga sangat dekat. Alhamdulillah selama ini tidak ada masalah, kalau pun ada bisa diselesaikan dengan baik,” tutupnya.

Reporter Toni Hermawan
Editor Andres Fatubun