Beranda

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Oleh: Ilham Maulana Sabtu 16 Mei 2026, 16:57 WIB
Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah pembicaraan tentang ancaman Sesar Lembang, satu hal yang paling sering muncul adalah pertanyaan tentang kesiapan pemerintah menghadapi kemungkinan gempa besar di Bandung Raya.

Namun bagi Adi Panuntun, pendiri Sesar Lembang Kalcer, mitigasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Ia percaya kesiapsiagaan justru harus lahir dari warga dan komunitas yang hidup langsung di tengah risiko tersebut.

“Kalau hanya mengandalkan pendekatan top down, itu berat. Pemerintah tugasnya banyak, orangnya terbatas, waktunya terbatas. Maka kesadaran mitigasi harus tumbuh dari komunitas dan warga sendiri,” ujarnya dalam podcast AyoTalk.

Kesadaran itulah yang kemudian mendorong lahirnya Sesar Lembang Kalcer, komunitas yang mencoba membangun literasi kebencanaan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Alih-alih menghadirkan seminar formal atau narasi menakutkan tentang gempa bumi, mereka memilih membuat ruang berkumpul yang terbuka bagi siapa saja. Tempat itu mereka sebut sebagai “titik kumpul”.

Titik kumpul Sesar Lembang Kalcer warga saling terhubung untuk membangun kesadaran hidup berdampingan dengan risiko bencana. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)

Berlokasi di kawasan Cigadung Barat, titik kumpul tersebut berdiri di area ruang terbuka hijau yang dipenuhi pepohonan dan hamparan rumput. Di sana, warga bisa berdiskusi, menonton pertunjukan seni, mengikuti simulasi mitigasi, hingga sekadar duduk dan berbincang santai.

Menurut Adi, konsep titik kumpul sengaja dibuat untuk menggabungkan kreativitas dan mitigasi dalam satu ruang yang sama.

“Kita sadar bahwa kreativitas butuh creative hub, sementara mitigasi juga butuh titik kumpul evakuasi. Akhirnya dua hal itu kita gabungkan,” katanya.

Dari situ, berbagai kegiatan mulai dilakukan bersama komunitas lain, relawan kebencanaan, seniman, musisi, hingga warga sekitar.

Anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. Musik dipakai sebagai media edukasi. Simulasi evakuasi dilakukan tanpa suasana mencekam. Bahkan video mapping dijadikan alat untuk menyampaikan cerita tentang hubungan manusia dengan bumi.

“Kita ingin mitigasi terasa fun, bukan menyeramkan. Karena kalau orang sudah takut duluan, mereka justru akan menjauh dari informasi,” ujar Adi.

Ia percaya pendekatan komunitas memiliki kekuatan besar karena bergerak secara horizontal. Kesadaran menyebar dari warga ke warga lain, bukan sekadar instruksi satu arah.

“Kalau komunitas bergerak, energinya akan merambat. Sama seperti gempa yang merambat lewat tanah, kesadaran juga harus merambat lewat manusia,” katanya.

Menurutnya, warga memiliki peran penting karena merekalah yang pertama kali akan menghadapi situasi darurat ketika bencana terjadi.

Ia menilai komunitas bisa menjadi first mover yang membantu masyarakat lebih siap menghadapi kondisi terburuk.

“Gempa itu sesuatu yang pasti terjadi, tapi kita enggak tahu kapan. Sama seperti kematian. Karena kita enggak tahu kapan datangnya, maka yang bisa dilakukan adalah persiapan,” ujar Adi.

Ia kemudian mengibaratkan mitigasi seperti keimanan terhadap keselamatan. Manusia tidak tahu kapan bencana datang, tetapi memiliki pilihan untuk mempersiapkan diri atau mengabaikannya.

“Kalau nanti gempa terjadi, kita mau selamat atau celaka? Kalau mau selamat ya harus ada persiapan. Harus belajar, harus latihan, harus saling bantu,” katanya.

Bagi Adi, gotong royong menjadi bagian penting dalam mitigasi kebencanaan di Bandung. Ia percaya masyarakat Sunda sejak dulu sebenarnya memiliki budaya kolektif yang kuat untuk menghadapi tantangan bersama.

Namun budaya itu perlahan memudar ketika masyarakat semakin individual dan terputus dari lingkungannya. Karena itu, Sesar Lembang Kalcer mencoba menghadirkan kembali ruang-ruang pertemuan yang memungkinkan warga saling mengenal dan bergerak bersama.

Di titik kumpul mereka, komunitas musik bisa bertemu dengan relawan kebencanaan. Seniman bisa berdiskusi dengan akademisi. Anak muda nongkrong berdampingan dengan warga sekitar.

Semua dipertemukan lewat satu tujuan yang sama: membangun kesadaran hidup berdampingan dengan risiko bencana.

“Kita enggak bisa bergerak sendiri-sendiri. Pemerintah penting, akademisi penting, komunitas penting, warga juga penting. Kalau semuanya nyambung, kesadaran itu akan jauh lebih kuat,” ujar Adi.

Ia berharap gerakan seperti ini bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda Bandung yang selama ini dikenal dekat dengan dunia kreatif.

Sebab menurutnya, kreativitas bukan hanya soal gaya hidup atau tren media sosial, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menjaga keselamatan manusia.

“Bandung punya energi kreativitas yang besar. Tinggal bagaimana energi itu dipakai untuk menjaga hidup bersama,” katanya.

Reporter Ilham Maulana
Editor Andres Fatubun