AYOBANDUNG.ID - Nama-nama tempat yang selama ini akrab di telinga ternyata menyimpan jejak alam, budaya, hingga peringatan tentang ruang hidup manusia. Namun bagi ahli toponimi Titi Bachtiar, masyarakat kini mulai kehilangan hubungan dengan tanah tempat mereka tinggal karena tak lagi memahami makna di balik nama-nama tersebut.
Pandangan itu ia sampaikan dalam seminar interaktif “Nama yang Bercerita” di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Selasa (13/5/2026). Di hadapan mahasiswa dan dosen, ahli geografi, penulis, sekaligus peneliti Cekungan Bandung itu berbicara tentang kota yang perlahan kehilangan hubungan dengan tanah yang dipijaknya sendiri.
“Bandung hari ini mulai krisis ingatan. Mereka tidak memahami tempat di mana mereka tinggal,” ujar Bachtiar.
Menurutnya, Bandung bukan hanya kumpulan gedung, jalan raya, atau kawasan hunian baru. Kota ini adalah ruang hidup yang menyimpan rekam jejak geologi, budaya, hingga kebiasaan masyarakat selama ratusan tahun. Semua itu, kata Bachtiar, masih dapat dibaca melalui nama-nama tempat yang kini perlahan terlupakan maknanya.
Nama yang Menyimpan Ingatan
Rasa penasaran dan ketertarikan Bachtiar terhadap Bandung mulai muncul sejak ia pindah dari Pamulihan, Garut, ke Kota Bandung pada tahun 1974 saat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pada waktu itu, ia merasakan kehilangan suasana alam yang mendampinginya di masa kecil. Perasaan tersebut memotivasi dirinya untuk menjelajahi bukit dan gunung di sekeliling Bandung.
Ia mengungkapkan sering menghabiskan waktu di Jayagiri, Tangkuban Parahu, dan lereng-lereng pegunungan lain melalui kegiatan pramuka dan pecinta alam. Dari situ, rasa ingin tahunya mengenai nama-nama tempat mulai berkembang perlahan.
“Kalau masih menempel dalam nama, karakter bumi pada masa lalu itu terarsipkan,” kata Bachtiar.
Ia berpendapat bahwa nama-nama tempat bukan hanya sekadar penanda administratif. Dengan latar belakang dari jurusan Geografi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung dan ketertarikannya terhadap sejarah nama tempat, ia kini dikenal sebagai ahli toponimi. Toponimi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul penamaan tempat.
Bagi Bachtiar, toponimi menyimpan informasi mengenai bentuk alam, tradisi masyarakat, hingga potensi bencana di suatu daerah. Sebagai contoh, Bachtiar menyebutkan nama Cipariuk, kawasan yang berbatasan dengan Lembang dan Cimenyan, Bandung. Dalam penjelasannya, Cipariuk dinamai demikian untuk menunjukkan area cekung yang dekat dengan sumber air.
Bachtiar memberikan contoh bahwa banyak nama daerah di Bandung sebenarnya merupakan penanda ekologis. Nama seperti Cimaung, Cihargem, dan Rancabuaya dianggap mengandung informasi tentang keberadaan satwa pada masa lalu.
Dari nama-nama tersebut, masyarakat seharusnya dapat memahami cara hidup yang sesuai dengan lingkungan mereka.
“Dari nama tempat saja kita bisa tahu apa yang harus kita waspadai,” ucap Bachtiar.
Ia menyebut toponimi sebagai gerbang akses pertama untuk memahami budaya. Nama tempat, menurutnya, dapat merekam keberadaan flora, fauna, hingga lanskap yang mungkin kini telah hilang akibat pembangunan kota.
“Bisa jadi tumbuhannya sudah musnah, binatangnya sudah musnah, tapi toponimnya abadi,” tutur Bachtiar.

Kota yang Tak Lagi Seirama
Pandangan Bachtiar terhadap Bandung saat ini adalah kota ini tumbuh tanpa benar-benar memahami karakter alamnya. Ia menilai pembangunan kota semakin menjauh dari kondisi geografis Cekungan Bandung yang sejak awal memiliki risiko ekologis tinggi.
Ia menyoroti berkurangnya area resapan air, saluran drainase yang tidak memadai, serta pembangunan gedung yang dianggap mengabaikan keadaan lingkungan sekitar. Akibatnya, genangan air, peningkatan suhu kota, dan ancaman krisis air mulai semakin terasa di berbagai kawasan Bandung.
“Kalau mengenal tempat, perilaku hidupnya akan seirama dengan kondisi itu. Sekarang kan nggak seirama,” kata Bachtiar sambil sesekali melirik ke jok belakang mobil.
Ia memberikan contoh mengenai kondisi di beberapa jalan utama, seperti Jalan Dago dan Jalan Merdeka. Menurutnya, trotoar dan pembangunan baru sering kali menutupi jalur air yang seharusnya menjadi area resapan saat hujan tiba.
Bachtiar juga mengungkapkan pandangannya bahwa masyarakat mulai melupakan kenyataan bahwa Bandung terletak di atas bekas Danau Bandung Purba. Hal tersebut membuat wilayah Bandung memiliki kerentanan tertentu terkait air, tanah, serta potensi menghadapi bencana lainnya.
“Mereka lupa bahwa mereka tinggal di dasar cekungan. Mereka lupa bahwa mereka tinggal di atas endapan Danau Bandung Purba,” ujar Bachtiar.
Menurutnya, perubahan wajah kota juga tampak dari hilangnya pepohonan besar di ruang publik. Ia mengenang Bandung era 1970-an sebagai kota yang nyaman untuk berjalan kaki. Kini, suasana itu perlahan menghilang seiring meningkatnya suhu kota.
“Sekarang panas-panas dikit masuk mal,” ucap Bachtiar sambil tertawa kecil.
Ia kemudian membandingkan suasana Bandung puluhan tahun lalu dengan kondisi sekarang. Pada masa lalu, ruang terbuka kota menjadi tempat warga menikmati udara segar dan berjalan santai. Kini, sebagian besar aktivitas masyarakat beralih ke ruang tertutup berpendingin udara.
“Tahun 70-an, keindahan gadis Bandung itu di luar (jalan), bukan di dalam,” kata Bachtiar sambil sebelumnya menunjuk seorang ibu yang sempat terlihat berjalan kaki di trotoar sambil menundukkan wajahnya.

Bandung dan Masa Depan yang Dipertaruhkan
Bachtiar berpendapat bahwa kurangnya pemahaman terhadap ruang hidup dapat berdampak besar bagi generasi mendatang. Ia khawatir masyarakat hanya meniru pola pembangunan kota lain yang dianggap bagus, alih-alih memahami terlebih dahulu karakteristik lingkungan Bandung.
Ia menjelaskan bahwa situasi tersebut dapat memperburuk berbagai persoalan lingkungan, mulai dari meningkatnya suhu kota, frekuensi banjir yang semakin tinggi, hingga ancaman kekurangan air bersih di masa depan.
Ia juga menekankan kondisi lereng pegunungan di sekitar Bandung yang kini dipenuhi kebun sayur dan permukiman. Padahal, kawasan tersebut berperan penting sebagai daerah resapan air utama bagi wilayah Cekungan Bandung.
“Tolong jaga lereng gunungnya. Karena itu sumber kehidupan warga Bandung,” ujar Bachtiar saat ditanya mengenai pesan yang mungkin ingin disampaikan Bandung kepada warganya saat ini.
Ia mengingatkan bahwa kerusakan pada area resapan dapat menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah secara signifikan. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat memicu penurunan muka tanah dan mengganggu pasokan air maupun listrik.
Di tengah situasi tersebut, Bachtiar meyakini perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Selain penting menumbuhkan kesadaran mengenai kondisi ekologis tanah sendiri, menurutnya hal itu perlu dilanjutkan dengan aksi nyata yang dilakukan secara kolektif.
“Minimum nanam pohon lah, di mana pun,” kata Bachtiar di akhir percakapan.
Baginya, kota bukan hanya ruang untuk ditinggali, tetapi juga tempat yang perlu dipahami dan dijaga bersama. Sebab ketika sebuah kota kehilangan ingatan tentang tanahnya, perlahan-lahan kota itu juga akan kehilangan cara untuk menjaga buminya.