AYOBANDUNG.ID - Beberapa pengunjung berjalan pelan dari satu karya ke karya lain. Ada yang berhenti cukup lama di depan lukisan, membaca keterangan yang terpasang, lalu kembali terdiam. Sore itu, ruang pamer tak hanya dipenuhi lukisan, instalasi, dan orang-orang yang datang menikmati karya seni.
Di salah satu sudut ruangan, diskusi publik berlangsung. Bukan tentang tren seni terbaru atau geliat pasar seni rupa. Yang dibicarakan justru sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi kerap luput dari perhatian: kekerasan terhadap perempuan.
Percakapan sore itu tidak berhenti pada kasus-kasus yang sempat ramai lalu tenggelam ditelan isu lain. Diskusi berupaya membedah bagaimana kekerasan terhadap perempuan hadir dalam bentuk yang lebih luas—sering kali tak terlihat, tak tercatat, bahkan dianggap sebagai hal yang biasa.
Pameran dan diskusi publik bertajuk NeoFemisida: Arsip Respon Atas Kekerasan terhadap Perempuan menjadi ruang pertemuan antara karya seni, pengalaman personal, keresahan sosial, dan percakapan yang jarang benar-benar selesai dibahas. Di balik puluhan karya yang dipamerkan, tersimpan cerita tentang luka, pembungkaman, serta pengalaman menjadi perempuan yang diterjemahkan melalui bahasa seni.
Galih Jatu Kurnia, art director Bandung Rhizome sekaligus kurator pameran, mengatakan gagasan acara ini lahir dari kegelisahan terhadap berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terus muncul dengan wajah yang semakin kompleks.

“Awalnya program ini memang menyasar isu HAM. Tapi setelah kami riset, saya merasa isu yang paling dekat dengan kondisi hari ini adalah kekerasan terhadap perempuan. Kami lalu mencoba mencari cara lain untuk membahasnya, bukan lewat seminar biasa, tapi lewat seni,” ujarnya.
Bagi Galih, seni menawarkan ruang yang berbeda. Bukan sekadar menyampaikan data atau teori, melainkan menghadirkan beragam sudut pandang yang tak selalu bisa ditemukan dalam penelitian akademik.
Sebanyak 32 seniman dilibatkan dalam pameran ini. Mereka datang dengan latar belakang, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda. Sejumlah seniman laki-laki juga diundang untuk menghadirkan keberimbangan perspektif.
“Ada yang datang dari sudut pandang penyintas, ada yang memang fokus pada isu sosial, ada yang melihat seni sebagai terapi, ada juga yang concern pada pendekatan estetik. Justru keragaman cara melihat inilah yang kami himpun menjadi satu pameran,” katanya.
Salah satu istilah yang paling banyak dibicarakan dalam diskusi itu adalah neofemisida. Galih mengakui, memilih istilah tersebut bukan perkara sederhana.
Ia menjelaskan, istilah femisida selama ini kerap dipahami sebagai pembunuhan terhadap perempuan semata-mata karena identitas gendernya. Salah satu contoh yang sering dirujuk adalah praktik pembantaian perempuan yang dituduh sebagai penyihir atau witch hunt pada masa lalu.
Namun, menurut Galih, kekerasan terhadap perempuan hari ini hadir dalam bentuk yang jauh lebih kompleks.
“Akhirnya kami melihat bahwa bentuk kekerasan sekarang sudah bertransformasi. Bukan hanya pembunuhan fisik. Ada pembunuhan karakter, pembunuhan akses, pembunuhan kesempatan, pembungkaman suara, penghilangan ruang hidup. Terornya tetap ada, tapi bentuknya baru. Dari situ lahirlah istilah neofemisida,” ujar Galih.
Sebagai kurator laki-laki, Galih mengaku berusaha melihat persoalan ini dari posisi yang objektif. Menurutnya, kultur patriarki di Indonesia tidak bisa dipukul rata karena setiap daerah memiliki dinamika yang berbeda.
Ia mencontohkan Majalaya, Kabupaten Bandung, di mana banyak perempuan justru menjadi tulang punggung keluarga dan memiliki posisi yang kuat dalam pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga. Sementara sebagian laki-laki lebih banyak menjalankan peran domestik.
Namun demikian, Galih menyadari ada banyak pengalaman perempuan yang tidak selalu dapat dipahami sepenuhnya oleh laki-laki.
“Ada faktor-faktor lain yang mungkin dirasakan oleh perempuan sebagai bentuk kekerasan, yang kita sendiri sebagai laki-laki mungkin enggak sadar. Aku enggak tahu apakah istriku di rumah nyaman-nyaman saja, atau jangan-jangan aku pun tanpa sadar menjadi pelaku kekerasan bagi dia. Itu kan enggak bisa dilihat dari kacamata laki-laki,” aku Galih.
Bagi dia, pameran ini bukan sekadar memajang karya. Lebih dari itu, ini adalah upaya mengarsipkan berbagai respons terhadap persoalan yang terus berlangsung.
Karena itulah kata “arsip” sengaja dipilih. Banyak pengalaman, pandangan, dan kegelisahan terkait kekerasan terhadap perempuan yang kerap hilang seiring cepatnya arus isu publik.
“Kadang orang bilang isu kekerasan terhadap perempuan sudah basi. Perempuan sekarang sudah banyak punya ruang, sudah banyak yang jadi pemimpin. Tapi ternyata ketika dilihat lebih dekat, kekerasan itu tetap ada. Mungkin bukan di ranah besar, tapi di ruang domestik, di rumah, di lingkungan yang dekat dengan kita,” katanya.
Menurut Galih, persoalan terbesar bukan karena isu tersebut tidak dibicarakan, melainkan karena perhatian publik terlalu cepat berpindah dari satu persoalan ke persoalan lainnya.
“Bukan isunya yang dialihkan. Memang isunya terlalu banyak. Maka kita butuh ruang yang membuat kita berhenti sebentar dan fokus dulu pada satu persoalan supaya ia tidak padam,” ujarnya.
Namun di balik berbagai upaya edukasi, kampanye, dan kebijakan, ada satu hal yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar: empati.
“Edukasi sudah banyak dilakukan. Di sekolah ada, di seni ada, di media ada. Tapi rasa empati itu yang belum benar-benar terbentuk. Orang masih melihat penderitaan di sebelahnya lalu memilih diam,” katanya.
Karena itulah seni, menurut Galih, menjadi salah satu medium untuk memperpanjang suara-suara yang selama ini tidak terdengar.
“Kalau tidak bisa bicara langsung, mungkin bisa lewat karya.”
Empati yang Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Jika Galih berbicara dari posisi kurator dan penyelenggara, perspektif lain datang dari Ima Suswanto, salah satu narasumber diskusi sekaligus bagian dari komunitas Senimom Bandung.
Bagi Ima, persoalan kekerasan terhadap perempuan belum bisa dianggap selesai hanya karena masyarakat hari ini lebih mudah berbicara di media sosial. Kesadaran publik mengenai berbagai bentuk kekerasan, menurutnya, masih jauh dari utuh.
“Belum sangat paham. Dan menurut aku, kita juga belum sepakat sebenarnya batasan kekerasan itu sampai mana. Orang masih sering menganggap kekerasan cuma sebatas luka fisik, padahal bentuknya jauh lebih luas dari itu,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana pembungkaman suara, pembatasan ruang gerak, hingga pengendalian terhadap tubuh perempuan sering kali tidak dianggap sebagai bentuk kekerasan. Padahal, praktik-praktik tersebut hidup dalam keseharian banyak perempuan.

“Kalau fisik jelas kelihatan bekasnya. Tapi kalau mental? Kalau penghilangan suara? Kalau perempuan dibatasi terus hidupnya? Itu masih sering dianggap biasa. Makanya kita sebenarnya belum benar-benar sepakat soal batas minimal kekerasan itu sendiri,” katanya.
Menurut Ima, menjadi perempuan sering kali berarti hidup berdampingan dengan seperangkat aturan yang hadir bahkan sejak seseorang lahir.
“Ada banyak sekali ‘jangan’. Jangan begini karena perempuan, jangan begitu karena perempuan. Dari kecil sudah ada kotak-kotak itu. Bukan soal membela perempuan semata karena aku perempuan, tapi faktanya memang begitu yang terjadi.”
Baginya, persoalan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar atau terang-terangan. Banyak di antaranya justru menyamar dalam kebiasaan sehari-hari yang telah dianggap normal oleh masyarakat.
Karena itulah, ketika isu kekerasan terhadap perempuan dibicarakan, masih banyak miskonsepsi yang muncul. Salah satu yang paling sering ditemui adalah kecenderungan menyalahkan korban atau victim blaming.
Alih-alih mendengarkan pengalaman penyintas, masyarakat justru kerap menjadikan korban sebagai pihak pertama yang diadili.
“Yang paling sering ditemui ya penyintas tetap disalahkan. ‘Kamu sih pakai baju begitu’, ‘kamu sih pulang malam’, ‘kamu sih begini’. Kata siapa perempuan ngerokok itu nakal? Kata siapa perempuan pulang malam itu PSK? Kenapa fokus kita malah menghakimi korban? Yang perlu dibangun itu empati,” cecar Ima.
Menurutnya, mengubah cara pandang masyarakat tidak cukup hanya dengan memperbanyak pengetahuan atau membaca teori. Yang jauh lebih penting adalah membangun kepekaan dan empati terhadap pengalaman orang lain.
Empati, kata Ima, tidak lahir semata-mata dari pendidikan formal atau tumpukan literatur. Empati menuntut kemampuan untuk mendengar dan memahami tanpa buru-buru menghakimi.

“Pola pikir mungkin bisa diasah lewat buku, pendidikan, pengalaman. Tapi empati beda. Itu urusan hati. Orang perlu belajar peka. Ketika melihat ada kekerasan, apa pun alasannya, jangan buru-buru membenarkan.”
Karena itulah ia berharap diskusi semacam ini tidak berhenti sebagai agenda satu hari. Baginya, percakapan tentang neofemisida perlu terus diperpanjang melalui berbagai bentuk kegiatan yang lebih berkelanjutan.
Ia membayangkan isu tersebut dapat berkembang menjadi lokakarya, proyek kolaboratif, kegiatan sosial, hingga produksi film dokumenter yang melibatkan lebih banyak pihak.
“Aku pribadi enggak mau isu ini selesai di sini. Mumpung orang mulai membuka mata, kenapa enggak dilanjutkan? Mau bentuknya diskusi lagi, program sosial, karya, kolaborasi media, apa pun. Yang penting jangan berhenti.”
Harapan itu muncul dari keyakinan bahwa perubahan sosial tidak lahir dari satu diskusi atau satu pameran. Ia membutuhkan percakapan yang terus dirawat dan ruang-ruang yang memungkinkan orang untuk saling mendengar.
Sebab bagi Ima, persoalan kekerasan terhadap perempuan bukan hanya tentang data, regulasi, atau kampanye publik. Pada akhirnya, persoalan itu juga tentang bagaimana masyarakat belajar memahami pengalaman sesamanya sebagai manusia.
Dari Dinding Galeri ke Ruang Aman yang Masih Dicari
Di antara pengunjung yang hadir sore itu, Dekha Paskha Rinofan datang membawa alasannya sendiri.
Mahasiswa 19 tahun asal Rancaekek tersebut mengetahui acara itu dari media sosial. Tema yang diangkat membuatnya merasa perlu datang dan mendengarkan langsung.
“Aku memang suka sama isu-isu perempuan, terutama soal femisida ini. Karena menurut aku istilah ini masih sangat awam didengar, terutama di kalangan anak muda dan mahasiswa,” katanya.
Namun ketertarikannya bukan sekadar rasa ingin tahu akademik. Bagi Dekha, tema yang diangkat bersinggungan langsung dengan berbagai pengalaman yang pernah ia lihat dan dengar di lingkungan sekitarnya.
“Di lingkungan akademik aku sering banget melihat atau mendengar soal pelecehan, kekerasan, pembungkaman suara. Tapi yang bikin sedih, respons masyarakat masih sering biasa aja. Seolah ini cuma masalah kecil yang lewat begitu saja.”
Saat berkeliling menikmati pameran, ada satu hal yang paling membekas baginya. Bukan semata bentuk visual atau teknik artistik dari karya-karya yang dipajang, melainkan cerita dan pengalaman yang tersimpan di baliknya.
Karya-karya tersebut membuatnya membayangkan berapa banyak perempuan yang selama ini memilih diam karena tidak memiliki ruang aman untuk berbicara.
“Aku jadi mikir, berapa banyak perempuan di Bandung yang selama ini diam karena mereka enggak punya ruang aman buat bicara. Jangan ngomong soal keadilan dulu, kadang buat bersuara aja mereka enggak punya tempat.”
Perasaan itu bahkan membuatnya sempat menangis di tengah pameran.
Bukan karena dramatisasi ruang seni, melainkan karena berbagai pengalaman yang selama ini sulit dibicarakan tiba-tiba hadir begitu dekat dan nyata di hadapannya.
“Yang kena banget buat aku itu ketika sadar ternyata femisida bukan cuma soal pembunuhan fisik. Bisa jadi pembunuhan mental, pembunuhan karakter, penghilangan akses, pembatasan hidup. Dan mungkin selama ini masyarakat masih menganggap itu wajar.”
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa ruang aman seperti diskusi dan pameran independen masih sangat dibutuhkan.
Menurutnya, di banyak tempat, termasuk kampus, isu kekerasan sering kali berhenti sebagai formalitas. Dibicarakan ketika ada kasus, lalu perlahan menghilang tanpa tindak lanjut yang nyata.
“Kadang di kampus dibahas, tapi cuma formalitas. Belum benar-benar ada ruang aman buat cerita, buat konsultasi, atau buat merasa dilindungi. Makanya ruang seperti ini penting. Orang jadi merasa enggak sendirian.”
Di akhir percakapan, Dekha menyampaikan harapannya kepada generasi muda, lingkungan kampus, dan masyarakat luas.
Ia berharap segala bentuk kekerasan dan pelecehan tidak lagi dinormalisasi, termasuk yang dibungkus dalam candaan, komentar verbal, maupun berbagai bentuk pembatasan terhadap perempuan.
“Tolong stop normalisasi kekerasan dan pelecehan dalam bentuk apa pun. Jangan anggap remeh korban. Dan buat kampus-kampus, semoga bisa benar-benar bikin ruang aman yang berpihak pada korban, bukan sibuk menjaga nama baik institusi.”
Sore itu, pameran memang akan berakhir. Lampu ruang diskusi akan dipadamkan, pengunjung pulang satu per satu, dan percakapan perlahan usai.
Namun pesan yang dibawa pulang para pengunjung tampaknya tidak berhenti di dinding galeri.
Sebab neofemisida, seperti yang dibicarakan sepanjang diskusi, bukan hanya soal kekerasan yang terlihat. Ia juga hidup dalam berbagai bentuk yang lebih sunyi: pembungkaman, penghilangan ruang, hingga rasa takut yang membuat seseorang memilih diam.
Dan mungkin, langkah pertama untuk melawannya adalah memastikan suara-suara itu tetap terdengar.