AYOBANDUNG.ID - Saat sebagian besar warga Kota Bandung berlindung di balik selimut tebal ketika suhu udara turun menjelang subuh, ada kelompok pekerja yang justru harus tetap berjibaku di jalanan.
Berdasarkan data BMKG, suhu udara Kota Bandung pada tengah malam hingga menjelang fajar dalam beberapa waktu terakhir dapat menyentuh angka 18 derajat Celsius, cukup untuk membuat tubuh muringkak bagi mereka yang beraktivitas di ruang terbuka.
Namun bagi pedagang kaki lima, pengemudi ojek online, hingga pekerja sektor informal lainnya, dinginnya malam bukan alasan untuk berhenti. Di saat mayoritas warga memilih bertahan di dalam rumah, jalanan Kota Kembang justru menjadi panggung perjuangan mereka mencari nafkah, berkarib dengan angin malam yang menusuk tulang demi membawa pulang penghasilan.
Di bawah flyover Pasupati yang membelah kawasan Dago Cikapayang, Raja Saut Martua Sinaga berdiri di balik roda dagangannya. Sejak pukul 19.00 hingga menjelang subuh, Raja menggantungkan hidupnya dari bulatan-bulatan cilok kuah hangat.
Bagi Raja, cuaca dingin ekstrem dalam sepekan terakhir menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, hawa dingin membuat mobilitas warga Bandung di ruang terbuka selepas tengah malam berkurang drastis. Jalanan lebih cepat sepi. Namun di sisi lain, dingin justru membawa berkah tersendiri bagi dagangan kulinernya.
"Lumayan berpengaruh. Orang yang berkegiatan di luar memang berkurang karena dingin. Tapi karena saya jualan cilok kuah yang hangat, pembeli yang datang malah bertambah karena nyari yang hangat-hangat," ujar Raja saat ditemui di lapaknya, Rabu 16 Juni 2026.
Menghadapi angin malam Dago yang terkenal kencang, Raja mengaku beruntung karena posisinya selalu berada dekat kompor dagangan. Panas api dari panci cilok menjadi tameng alami yang mengusir hawa dingin. Meski begitu, ia menyadari risiko bekerja di luar ruangan pada tengah malam bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga keamanan.

"Tantangan terbesar selain cuaca ya risiko kriminalitas. Kalau malam posisinya agak lebih bahaya, jadi harus lebih waspada saja," pungkas Raja yang berharap usahanya tetap bisa bertahan di tengah perubahan atmosfer kota.
Kontras dengan Raja yang terbantu oleh hangatnya kompor, nasib kurang beruntung harus ditelan Galih (38), seorang pengemudi ojek online yang malam itu merapatkan jaketnya di sudut trotoar Jalan Ahmad Yani, kawasan pertokoan Kosambi, Bandung.
Pria yang sudah lima tahun mengaspal sejak pandemi Covid-19 ini merupakan potret nyata kelas pekerja yang terlempar ke jalanan. Dulu, Galih bekerja di sebuah showroom mobil. Namun hantaman pandemi dan ketatnya regulasi batas usia kerja formal membuatnya kehilangan banyak pilihan selain menyerahkan nasib pada ketidakpastian algoritma aplikasi ojek online.
Bagi para pengemudi ojol yang beroperasi hingga pukul 01.00 dini hari, momen bediding dalam sepekan terakhir terasa seperti siksaan fisik. Pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari menjadi waktu ketika dingin terasa paling menusuk, membuat jari-jari tangan kaku dan hidung perih akibat embusan angin yang menembus sela-sela helm.
Bagi Galih, musuh terbesar malam hari bukanlah saat motor melaju membelah jalanan, melainkan ketika ia harus diam menunggu pesanan masuk.
"Nu paling berat mah pas ngantosan orderan, Kang. Kalau motor jalan badan ada gerak jadi agak hangat. Tapi pas nunggu lama, bisa terlantar di trotoar satu sampai dua jam aplikasi," keluh Galih.

Hancurnya sistem pendapatan akibat perang tarif antar-aplikator seperti Gojek, Grab, Maxim, dan InDrive memaksa Galih tetap berada di jalanan malam hari demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil. Untuk bertahan dari gigitan hawa dingin, Galih harus mengeluarkan modal tambahan yang memangkas pendapatan hariannya.
Dulu, memperoleh Rp100.000 bersih dari pagi hingga siang bukan perkara sulit. Kini, bekerja dari pagi hingga tengah malam pun belum tentu menghasilkan jumlah yang sama. Bahkan, menembus 10 pesanan dalam sehari pun kerap sulit tercapai. Satu-satunya momen yang menghadirkan harapan justru datang melalui anomali cuaca lain: hujan.
"Rame-ramena lagi hujan weh. Kalau hujan dijamin rame karena kebanyakan driver yang lain off. Hajar ku Akang mah," ceritanya.
Namun tubuhnya harus membayar mahal untuk itu. Galih mengaku kini menjadi langganan penyakit malam seperti masuk angin, batuk, hingga nyeri sendi. Untuk bertahan, ia menempelkan koyo cabai di punggung sebelum berangkat, memakai jaket dobel, dan mengenakan buff berbahan tebal. Imbasnya, pengeluaran harian membengkak Rp15.000 hingga Rp20.000 per malam hanya untuk membeli secangkir kopi hitam atau STMJ guna meredam gigil.
Sama seperti Raja, ketakutan Galih di tengah dinginnya Bandung juga diperparah maraknya fenomena kriminalitas malam berupa "begal aplikasi"—modus kejahatan ketika pelaku memancing pengemudi menggunakan akun palsu menuju lokasi sepi sebelum melakukan aksi kriminal.
"Motifna eta sengaja mesen via aplikasi, terus tujuanna diarahkan ke daerah sepi maranehna. Begitu sampai langsung dieksekusi. Rekan-rekan saya sudah banyak yang jadi korban," tutur Galih getir.
Dinginnya cuaca dalam sepekan terakhir seolah merefleksikan dinginnya perlindungan yang dirasakan para pekerja sektor informal. Baik Raja maupun Galih, keduanya berjuang secara mandiri tanpa jaminan kesehatan dari perusahaan maupun kepastian keamanan saat mencari nafkah di jalanan Kota Bandung.