Beranda

Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

Oleh: Restu Nugraha Sauqi
Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Musim kemarau menyebabkan debit air Situ Ciburuy di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menyusut. Fenomena menyusut ini terjadi setiap tahun saat musim kemarau. Kondisi tersebut justru dimanfaatkan anak-anak untuk mengisi waktu libur dengan bermain, berenang, hingga mencari ikan di kawasan situ bersejarah peninggalan era kolonial Belanda itu.

Hamparan daratan yang muncul akibat surutnya air terlihat di sisi utara Situ Ciburuy. Area yang biasanya terendam kini berubah menjadi tempat bermain anak-anak. Suara tawa mereka terdengar saat bermain bola, membuat kolam kecil dari lumpur, mengapungkan rakit sederhana, hingga berburu ikan di tepian situ yang kini dangkal.

Aktivitas tersebut menjadi pemandangan rutin, terutama pada sore hari setelah pulang sekolah maupun saat masa libur. Bagi mereka, surutnya air menghadirkan ruang bermain yang hanya bisa dinikmati ketika musim kemarau tiba.

Salah seorang anak, Muhammad Faturahman (13), mengaku hampir setiap hari datang ke Situ Ciburuy bersama teman-temannya. "Kalau sore habis sekolah pasti main ke sini. Pas libur juga sering datang dari pagi," ujarnya.

Menurut Faturahman, kondisi air yang kini hanya setinggi leher anak-anak membuat mereka berani berenang di pinggiran situ. Meski demikian, mereka tetap menghindari bagian tengah yang lebih dalam.

"Sekarang enggak terlalu dalam, jadi berani berenang," katanya.

Tak hanya bermain air, ia bersama teman-temannya juga kerap membawa pulang hasil tangkapan berupa ikan kecil untuk dimasak di rumah.

"Kadang dapat ikan boboso, gabus, nila, bahkan lobster kecil," tuturnya.

Surutnya air Situ Ciburuy di tengah kemarau panjang tak hanya berdampak pada irigasi warga, tetapi juga mengubah dasar danau menjadi ruang bermain bagi anak-anak sekitar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Data Teknis dan Fungsi Infrastruktur Situ Ciburuy

Penyusutan air di Situ Ciburuy yang memiliki luas sekitar 25 hektare memang menjadi fenomena tahunan saat kemarau panjang. Situ yang mengandalkan pasokan air hujan itu kini diperkirakan hanya memiliki kedalaman sekitar satu hingga dua meter di sejumlah titik.

Secara historis dan teknis, Situ Ciburuy merupakan salah satu infrastruktur penampung air bersejarah di Jawa Barat yang terus menjalankan fungsinya dalam mendukung sektor pertanian di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan data teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU, bendungan yang selesai dibangun sejak tahun 1925 ini mencatatkan volume tampung total hingga 12.050.000 meter kubik.

Secara administratif, Situ Ciburuy berlokasi di Kelurahan Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, dan berada dalam lingkup Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Dengan luas genangan mencapai 345.000 meter persegi, keberadaan bendungan ini diprioritaskan untuk menyokong kebutuhan irigasi lahan pertanian masyarakat sekitar seluas 50 hektar. Dari segi konstruksi, Bendungan Situ Ciburuy dirancang menggunakan tipe urugan tanah dengan inti (earthfill dam with core) serta dilengkapi dengan bangunan pelimpah tipe pelimpah samping (side channel spillway).

Meskipun saat ini pengelolaannya berfokus pada suplai air irigasi dan tidak difungsikan untuk penyediaan air baku maupun pembangkit listrik (PLTA), keberadaan Situ Ciburuy di bawah pengelolaan BBWS Citarum tetap menjadi bagian penting dalam sistem tata air dan potensi kawasan di wilayah Padalarang.

Musim kemarau yang diprediksi BMKG lebih kering tahun ini membuat Situ Ciburuy dangkal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dampak Ekonomi dan Harapan Warga

Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, mengatakan kondisi menyusutnya air tersebut bukan hal baru. Bahkan pada musim kemarau yang lebih ekstrem, pulau kecil di tengah situ dapat dicapai dengan berjalan kaki karena sebagian besar dasar danau mengering.

"Setiap kemarau memang selalu surut. Kalau benar-benar kering, akses ke pulau di tengah situ bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena air hanya tersisa di bagian depan," ujar Firmansyah.

Selain menjadi sumber air bagi sektor pertanian dan perikanan warga, Situ Ciburuy juga menjadi destinasi wisata yang menopang perekonomian masyarakat. Pelaku usaha kuliner, penyedia jasa wisata perahu, hingga pemerintah desa memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan objek wisata tersebut.

Firmansyah berharap musim kemarau segera berakhir agar debit air kembali normal. Pasalnya, berbagai aktivitas wisata, termasuk wisata perahu dan latihan atlet dayung, sangat bergantung pada ketinggian air di Situ Ciburuy.

"Mudah-mudahan hujan segera turun juga di wilayah sini sehingga debit air Situ Ciburuy bisa kembali meningkat," pungkasnya.

Proyeksi Kemarau Menurut BMKG

Kondisi menyusutnya debit air ini sejalan dengan analisis iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada awal Juni lalu, BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026. Kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memaparkan, puncak kemarau pada Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) pada Agustus dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) pada September.

Lalu pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Sebanyak 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) memasuki puncak kemarau pada September 2026, meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” pungkas Ardhasena.

Reporter Restu Nugraha Sauqi
Editor Andres Fatubun