Beranda

Punahnya Angkot di Kota Bandung, Dalam 8 Tahun Susut Ribuan Unit

Oleh: Andres Fatubun
Suasana lengang di Terminal Cicaheum pada Rabu 22 April 2026. Di tahun 1990-an, angkot berbagai trayek ini berderet rapi dan panjang terutama di jam-jam sibuk. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di tahun 1990-an pekik "Ledeng-ledang!", "Binong-binong!" atau "Royom-royom!" di Terminal Cicaheum masih terdengar nyaring. Di belakang teriakan para kernet tersebut, berderet panjang dan rapi angkutan kota warna hijau dengan polet hitam, jingga dan kuning, sebagai penanda rute. Angkutan kota tersebut menunggu gilirannya untuk keluar dari terminal.

Angkot, kependekan dari angkutan kota, selama puluhan tahun menjadi tulang punggung mobilitas warga, menghubungkan sudut-sudut kota Kota Bandung. Dari Barat ke Timur, dan Utara ke Selatan. Bagi yang mengalami zaman keemasan angkot Kota Bandung, pasti pernah punya kisah menarik.

Namun data terbaru Dinas Perhubungan Kota Bandung menunjukkan armada yang dulu memadati jalan itu kini menyusut drastis, dan sebagian trayek bahkan sudah punah dari peta.

Susut Ribuan Unit

Berdasarkan data Jumlah Armada dan Trayek Angkutan Kota Bandung yang dirilis Dinas Perhubungan Kota Bandung, pada 2017 terdapat 39 trayek angkot dengan total sekitar 5.552 unit armada beroperasi. Angka itu relatif bertahan di kisaran 5.489–5.497 unit sepanjang 2018 hingga 2021, seolah pandemi COVID-19 belum benar-benar mengguncang industri ini secara resmi tercatat.

Perubahan besar baru terlihat jelas mulai 2022, ketika trayek yang tercatat dalam data menyusut menjadi 28 dan total armada turun ke sekitar 3.889 unit. Setahun berikutnya, penurunan itu bak terjun bebas.

Pada 2023 total armada yang tercatat tinggal 423 unit, tersebar di hanya 18 trayek. Angka itu nyaris tak bergerak pada 2024 (360 unit) dan 2025 (352 unit).

Dengan kata lain, dalam rentang delapan tahun, jumlah armada angkot yang tercatat aktif di Kota Bandung susut lebih dari 90 persen. Dari lebih dari 5.500 unit pada 2017, menjadi di bawah 400 unit pada 2025.

Data penyusutan jumlah armada dan trayek angkot di Kota Bandung.

Trayek yang Punah

Penyusutan ini bukan cuma soal jumlah unit, tapi juga soal keberadaan trayeknya sendiri. Dari 39 trayek yang beroperasi pada 2017, hanya 18 yang masih tercatat pada 2025. Artinya, lebih dari separuh jalur angkot yang dulu melayani warga kini sudah tidak lagi eksis, setidaknya dalam catatan resmi.

Sejumlah trayek yang hilang dari data itu antara lain jalur-jalur legend yang dulu cukup ramai seperti Cicaheum-Cibaduyut dengan angkot khasnya berwarna merah. Selain itu adalah Cibaduyut-Karang Setra dan Bumi Panyileukan-Sekemirung. Sementara trayek pendek seperti Cibogo-Elang dan Abdul Muis-Mengger, yang armadanya memang sudah sedikit juga tak lagi tercatat dalam data terbaru.

Angkot Cicaheum-Cibaduyut (merah) yang kini sudah punah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ramadhani)

Trayek-trayek yang masih bertahan pun tak luput dari pemangkasan armada yang tajam. Jalur Abdul Muis-Cicaheum via Binong, salah satu trayek dengan armada terbanyak turun dari 369 unit pada 2017 menjadi hanya 22 unit pada 2025. Sederhana-Cipagalo anjlok dari 276 unit menjadi 12 unit. Trayek legendaris Abdul Muis-Dago, yang dulu punya 273 unit, kini tersisa 20 unit saja.

Susutnya jumlah angkot ini sangat terasa pada waktu malam hari. Misalnya untuk trayek Cicaheum-Ciroyom atau Cicaheum-Ledeng sudah sangat jarang beroperasi mulai pukul 8 malam. Padahal sebelum waktu pandemi, mereka masih hilir mudik hingga tengah malam bahkan dini hari.

Kemana Hilangnya Angkot

Ada beberapa faktor yang biasa disebut para pemerhati transportasi kota untuk menjelaskan tren semacam ini, meski data Dishub sendiri tidak merinci penyebabnya secara langsung.

Pertama, persaingan dengan moda transportasi berbasis aplikasi. Ojek online dan taksi online menawarkan kepastian waktu tunggu dan tarif yang jelas, sesuatu yang sulit ditandingi angkot dengan sistem "ngetem" menunggu penumpang penuh.

Kedua, perluasan transportasi publik massal. Kehadiran bus Trans Metro Bandung dan layanan sejenis di sejumlah koridor turut menggeser sebagian penumpang yang sebelumnya bergantung pada angkot.

Ketiga, faktor usia kendaraan dan biaya operasional. Banyak angkot di Bandung yang beroperasi dengan usia kendaraan sudah cukup tua, sementara biaya perawatan dan bahan bakar terus naik, sedangkan tarif sulit dinaikkan karena daya beli penumpang yang terbatas.

Keempat, pukulan pandemi. Penurunan mencolok yang mulai tampak di angka 2022 dan menganga lebar pada 2023 sejalan dengan periode pemulihan pascapandemi, ketika banyak pengemudi angkot yang beralih profesi selama masa pembatasan sosial dan tidak kembali ke trayeknya.

Sopir angkot sedang menunggu penumpang di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Rabu 22 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Gaya Hidup yang Berubah

Penyusutan angkot bukan sekadar statistik dinas. Bagi warga yang tinggal di kawasan yang trayeknya menghilang atau armadanya menipis drastis, ini berarti waktu tunggu yang lebih lama, jarak berjalan kaki yang lebih jauh ke titik naik-turun, dan ketergantungan yang makin besar pada moda transportasi pribadi atau berbasis aplikasi yang lebih mahal.

Ironisnya, angkot selama ini menjadi opsi transportasi paling terjangkau bagi kelompok berpendapatan rendah yang tidak selalu terbiasa dengan aplikasi pemesanan online. Ketika trayek-trayek ini menghilang tanpa pengganti yang setara, kelompok inilah yang paling merasakan dampaknya.

Setidaknya data delapan tahun terakhir menunjukkan satu arah yang jelas. Angkot, ikon transportasi umum khas Kota Bandung ini perlahan menuju kelangkaan dan mungkin suatu saat akan punah seperti dinosaurus.

Reporter Andres Fatubun
Editor Andres Fatubun