Beranda

Ratusan Ton Sampah per Hari Bisa Lenyap Jika Warga Bandung Kelola Sisa Makanan Sendiri

Oleh: Rachmadi Rasyad, Andres Fatubun
Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Dari semua sampah yang dibuang warga Kota Bandung setiap hari, ternyata hampir separuhnya adalah sisa makanan.

Menurut data berjudul Jumlah Produksi Sampah Menurut Jenisnya di Kota Bandung Dinas Lingkungan Hidup yang diterbitkan di Open Data Bandung, dari tahun 2018 hingga 2024 sampah sisa makanan selalu menyumbang sekitar 44–45% dari total sampah harian kota. Jumlah ini  jauh mengungguli jenis sampah lain seperti plastik, kertas, atau kain.

Padahal, sisa makanan termasuk sampah organik yang sebenarnya paling mudah diolah sendiri di rumah. Artinya, jika setiap keluarga di Bandung mau mengelola sisa dapurnya sendiri, jumlah sampah kota bisa berkurang secara signifikan—tanpa perlu teknologi mahal atau kebijakan rumit.

Jumlah produksi sampah menurut jenisnya di Kota Bandung tahun 2018-2025. (Sumber: Open Data Bandung)

Penyumbang Konsisten

Selama tujuh tahun (2018–2024), jumlah sisa makanan yang dibuang warga Bandung selalu berada di kisaran 660 sampai 780 ton per hari. Bandingkan dengan jenis sampah lain yang jauh lebih sedikit: plastik sekitar 250–330 ton per hari, kertas sekitar 195–230 ton per hari, dan sisanya (logam, kain, karet, limbah B3, dan lain-lain) hanya sepersekian dari total sampah kota.

Pada 2025, proporsinya memang tampak lebih kecil karena ada perubahan cara pencatatan data karena beberapa kategori sampah kini dilaporkan dengan pola berbeda. Namun, tren tujuh tahun sebelumnya sudah cukup jelas menunjukkan satu hal yaitu sisa makanan adalah "raja" sampah di Kota Bandung.

Sisa makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) tidak hanya memenuhi lahan, tapi juga menghasilkan gas metana saat membusuk. Gas metana ini jauh lebih berbahaya bagi iklim dibanding karbon dioksida. Selain itu, sisa makanan yang bercampur dengan sampah lain seperti plastik, logam, dan sebagainya membuat proses pemilahan di TPA jadi lebih sulit dan mahal.

Hal ini dikonfirmasi salah seorang petugas kebersihan di Kecamatan Cisaranten Kulon, Yaya (36). Ia mengakui tingginya jumlah sisa makanan yang mesti diangkutnya dalam sehari. Namun, dia tak menyebut angkanya secara rinci.

"Banyak sisa makanan," ujar dia.

Menurut Yaya, sampah sisa makanan biasanya diangkut dari rumah-rumah warga. Usai diangkut, sampah sisa makanan itu biasanya langsung dipilah dan dipisah dengan sampah anorganik.

"Biasanya langsung dipilah supaya mudah terurai," ujar dia.

Kabar baiknya, sisa makanan adalah sampah organik yang gampang terurai. Berbeda dengan plastik yang butuh ratusan tahun untuk terurai, sisa makanan bisa diolah hanya dalam hitungan minggu. Bahkan bisa dilakukan sendiri di rumah, tanpa perlu dibuang ke TPA sama sekali.

Sejumlah petugas mengolah sampah organik di TPS Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, menjadi pakan ternak. Melalui kerja sama dengan pihak swasta, sekitar 25 ton sampah sisa sayuran dan buah per hari tak lagi dibuang ke TPA Sarimukti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Tanggapan Kadis Lingkungan Hidup

Menanggapi tingginya volume sampah sisa makanan di Kota Bandung yang menjadi sorotan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, angkat bicara. Dia menyatakan bahwa pihaknya belum bisa mengonfirmasi angka spesifik terkait sisa makanan tersebut karena ketiadaan rujukan data yang presisi.

"Saya belum bisa mengonfirmasi kebenaran data itu. Berdasarkan data yang kami pahami, komposisi sampah kita itu anorganik sekitar 60 persen, dan organiknya 40 persen," jelas Darto saat dikonfirmasi.

Meski demikian, Darto tidak menampik bahwa dari 40 persen total sampah organik tersebut, porsi sampah sisa makanan memang cukup besar.

Festival Kuliner Bandung (FKB) Vol. 2 yang digelar sejak 28 Agustus hingga 28 September 2025.

Dampak dari Status 'Kota Kuliner'

Tingginya sisa makanan di Kota Bandung, menurut Darto, sangat berkaitan erat dengan predikat Bandung sebagai destinasi wisata kuliner. Mobilitas masyarakat yang tinggi membuat konsumsi makanan di luar rumah meningkat drastis setiap harinya.

Darto memaparkan, jumlah penduduk Kota Bandung tercatat sebanyak 2,6 juta jiwa. Namun, pada siang hari, jumlah tersebut membengkak menjadi sekitar 3,5 juta jiwa.

"Ada tambahan kurang lebih sekitar 1 juta orang yang masuk ke Kota Bandung pada siang hari, termasuk wisatawan. Mereka tentu perlu makan di kafe, restoran, maupun warung. Dan tentu tidak semua makanan yang dibeli itu termakan semuanya. Jadi, indikasi bahwa di kota kuliner ini selalu ada sisa makanan, itu sangat masuk akal," papar dia.

Darto menambahkan, sampah sisa makanan lebih mudah terurai dibanding sampah plastik. Sampah plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk hancur, sedangkan sampah organik seperti sisa makanan bisa terurai dengan sangat cepat. Namun, sisa makanan akan memicu masalah lingkungan jika penanganannya salah.

"Masalahnya timbul apabila sampah organik ini tercampur dengan sampah anorganik. Itu yang sulit. Proses pembusukan sampah organik inilah yang menimbulkan bau tak sedap hingga gas amonia. Oleh karena itu, sangat penting untuk memisahkan sampah organik dengan anorganik sejak awal," tegas dia.

Untuk menekan dampak lingkungan dari sampah sisa makanan, Pemerintah Kota Bandung telah mengambil sejumlah langkah konkret.

Bagi sektor komersial seperti restoran dan kafe, Darto menyebut sudah ada regulasi yang mewajibkan mereka melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Sementara untuk sampah rumah tangga, Pemkot Bandung telah menerjunkan ribuan petugas khusus.

"Awal tahun 2024, Pak Wali Kota sudah meluncurkan Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Saat ini kita sudah punya 1.597 orang petugas Gaslah yang setiap hari sanggup memilah dan mengolah rata-rata 60 hingga 65 ton sampah rumah tangga sehari," pungkas Darto.

Reporter Rachmadi Rasyad, Andres Fatubun
Editor Andres Fatubun