Beranda

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Oleh: Rachmadi Rasyad
Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof Agustino Zulys, guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) di reels instagramnya.

Apa yang disampaikan oleh Zulys tersebut relevan ketika kebutuhan air industri pusat data berbasis AI mulai masuk dalam skala puluhan juta liter per hari.

Di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, proyek AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers diproyeksikan membutuhkan air hingga 384 liter per detik ketika beroperasi pada kapasitas pengembangan penuh. Angka itu setara dengan sekitar 33.000 meter kubik atau 33 juta liter air setiap hari.

Pada tahap awal, kebutuhan air proyek tersebut masih sekitar 6.000 meter kubik atau 6 juta liter per hari. Namun, seiring pengembangan fasilitas, konsumsi air diproyeksikan meningkat lebih dari lima kali lipat hingga mencapai 33 juta liter per hari.

Besarnya kebutuhan tersebut menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM. Saat melakukan inspeksi mendadak ke lokasi proyek pada Senin (28/9/2026), ia mengingatkan agar kebutuhan air pusat data tidak mengurangi alokasi untuk sektor pertanian.

"Jangan sampai pas di perjalanan di Indonesia itu kalau sudah ribut-ribut politik, kasihan pengusaha harus fight dari sekarang. Pertanyaannya: airnya cukup enggak? Mengganggu petani enggak?" tegas KDM, Selasa (29/9).

Terlebih pada saat sidak tersebut diketahui dokumen AMDAL proyek BDx ternyata belum diterbitkan karena masih dalam proses perbaikan. Kajian awal disusun oleh konsultan asal Jakarta, sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta menggandeng sejumlah pakar pembanding, termasuk dari Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk menguji dan melihat kajian tersebut secara objektif.

Air yang Dibutuhkan

Untuk membayangkan besarnya angka tersebut, 33 juta liter air setara dengan 66 juta botol berukuran setengah liter.

Jika kebutuhan maksimum itu berlangsung selama satu tahun penuh, volumenya mencapai sekitar 12,05 miliar liter air atau 12,05 juta meter kubik.

Sementara itu, kebutuhan tahap awal sebesar 6 juta liter per hari setara dengan sekitar 12 juta botol air berukuran 500 mililiter setiap hari. Air sebanyak itu bukan digunakan untuk "memberi minum" AI. Air terutama dibutuhkan untuk menjaga mesin dan server tetap berada pada suhu kerja yang aman. Artinya, semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula kebutuhan energi dan sistem pendingin yang harus disiapkan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. Meski ada penyusutan muka air, namun kondisi Jatiluhur masih relatif aman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Air untuk Siapa?

Proyek BDx AI Campus 2 di Jatiluhur memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. Kawasan pengembangannya mencapai 11 hektare dan direncanakan memiliki enam gedung dengan kapasitas keseluruhan hingga 640 MW. Gedung dengan kapasitas IT 120 MW yang sedang dibangun ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

Dengan kapasitas sebesar itu, kebutuhan air menjadi bagian penting dari keberlangsungan operasional pusat data.

KDM mengatakan proyek BDx menggunakan skema berbeda dari sejumlah pusat data lain. Air untuk proyek tersebut berasal dari sistem Jatiluhur, tetapi BDx berstatus sebagai pelanggan komersial dan membeli air melalui PDAM, bukan mengambil langsung dari sungai melalui Perum Jasa Tirta II.

Menurut KDM, hal tersebut penting karena air dari sistem Jatiluhur juga memiliki fungsi lain, terutama untuk kebutuhan masyarakat dan irigasi.

Aliran air Jatiluhur tidak berhenti di Purwakarta. Sistem tersebut menjadi penopang kebutuhan air dan irigasi hingga wilayah Subang, Karawang, Bekasi dan Jakarta. Karena itu, pertanyaan mengenai air bukan sekadar apakah sebuah pusat data mampu membayar air yang digunakannya.

Pertanyaannya adalah dari mana air itu berasal, berapa banyak yang digunakan, bagaimana ketersediaannya ketika musim kering, dan siapa saja yang berbagi sumber air yang sama.

Reporter Rachmadi Rasyad
Editor Andres Fatubun