Beranda

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Oleh: Gilang Fathu Romadhan
Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID – Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya di tengah Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, memunculkan kekhawatiran baru soal kemacetan. Jalan satu arah yang sudah lama dikenal padat itu kini kian tersendat. Pantauan di lokasi menunjukkan bangunan fisik halte mulai terlihat, sementara kendaraan yang melintas harus memperlambat laju.

Sudah Langganan Macet, Kini Makin Parah

Keluhan datang dari pengguna jalan yang setiap hari melintas. Daffa (26), pengendara sepeda motor, mengaku terganggu karena pengerjaan halte membuat jalanan semakin padat.

"Sebelum ada pembangunan (halte) juga udah macet, sekarang ada jadi lebih macet," sebutnya.

Menurut Daffa, antrean kendaraan mengular dari Jalan Supratman hingga persimpangan Jalan Jakarta-Kiaracondong. Ia berharap BRT benar-benar mempermudah warga bepergian. "Ya harapannya kalau ini (BRT) buat mempermudah warga berpergian, jangan memperparah macet," harapnya.

Pengemudi ojek online, Ginanjar, punya pengalaman serupa. Hampir setiap hari ia melintasi Jalan Ahmad Yani, terutama saat jam sibuk dan jam pulang. Kemacetan, katanya, mulai terjadi sekitar pukul 14.00 dan bertahan hingga pukul 19.00, dengan antrean kendaraan sampai ke flyover Antapani.

"Di sini mah emang langganan macet. Apalagi sebelum ada ini juga udah macet," ungkapnya.

Ginanjar berharap pemerintah segera mencari solusi agar pengendara nyaman. "Harapannya mah kalau dari sini sih kalau ada flyover sih bagus sih sama ada petugas yang ngatur," katanya.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Desain halte BRT tipe B, dimana halte berada di tengah jalan. (Sumber: transportforbandung.org)

Pengamat Nilai Desain Tak Sesuai Karakter Jalan

Keluhan warga sejalan dengan kritik Pengamat Tata Kota ITB Frans Ari Prasetyo. Ia menilai BRT sebagai kebijakan bermuka dua. Bandung memang membutuhkan transportasi publik yang lebih baik, tetapi jalur khusus berpotensi mengurangi kapasitas jalan jika tidak dirancang sesuai kondisi eksisting.

"Bandung membutuhkan sarana transportasi publik yang upgrade dan update, yang memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat Kota Bandung. Tapi di sisi lain, kontur geografi dan kapasitas jalan di Kota Bandung juga harus dipikirkan," ujar Frans, Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurut Frans, BRT membantu penyediaan transportasi publik, tetapi juga meninggalkan "residu" berupa penyusutan ruang jalan. Untuk halte di Jalan Ahmad Yani, ia menyebut ada kesalahan desain karena perancang dinilai tidak memahami koridor tersebut. Halte di tengah jalan, kata dia, hanya dapat dibangun di dua koridor yang berlawanan arah dan berkapasitas besar seperti Jalan Soekarno-Hatta. Desain semacam itu juga idealnya disertai jembatan penyeberangan orang (JPO).

"Kalau di tengah berarti ada dua jalurnya di koridor itu, tapi itu kan satu jalur," ucapnya.

Frans juga menilai proyek ini terkesan tergesa-gesa. BRT Bandung Raya merupakan bagian dari proyek nasional MASTRAN yang didukung Pemerintah Indonesia, Bank Dunia, dan AFD, dengan total pembiayaan Rp3,8 triliun dan nilai investasi Rp1,3 triliun. Menurutnya, pinjaman tersebut turut mendorong proyek harus cepat selesai.

"BRT ini seakan kayak buru-buru pembangunannya. Kenapa? salah satu faktornya karena adanya pinjaman dari bank dunia, jadi seperti harus segera selesai," bebernya.

Ia mengingatkan bahwa karakter jalan Bandung berbeda dengan kota lain. "Karakteristik jalan di Bandung dengan Jakarta beda, nggak bisa disamakan. Pemerintah harus punya solusi sendiri," ujarnya. Frans menyarankan evaluasi dan desain ulang skema BRT sebelum penerapannya diperluas, agar kualitas transportasi publik meningkat tanpa mengorbankan kapasitas jalan.

"Dua-duanya ini yang harus dipikirkan oleh Pemerintah Kota Bandung, bagaimana caranya membuat ini menjadi win-win solution," tuturnya.

Menanggapi keluhan kemacetan akibat pembangunan Halte BRT, Wali Kota Bandung menyebut solusinya adalah mempercepat proyek. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Wali Kota Tak Punya Pilihan Lain

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pihaknya telah menemukan solusi, yakni mempercepat pengerjaan proyek. Menurutnya, menutup Jalan Ahmad Yani atau mengalihkan arus ke ruas lain justru akan memperparah kemacetan. Ia merujuk pengalaman Pemkot Cimahi yang menutup ruas jalan utama untuk pembangunan infrastruktur.

"Solusinya adalah kita harus segera percepat proyeknya karena nggak ada pilihan lain," kata Farhan, Selasa, 6 Oktober 2026. "Belajar dari pengalaman Cimahi yang sekarang sedang menutup ruas jalan utama wah kemacetan lebih mengerikan," ungkapnya.

Percepatan itu berkaitan dengan target BRT Bandung Raya beroperasi pada 2027, sehingga pekerjaan fisik harus tuntas tahun ini. Pemkot akan menyosialisasikan percepatan tersebut kepada warga, dan jadwal pengerjaan akan disesuaikan dengan jam perjalanan masyarakat. Titik pekerjaan lain, seperti galian kabel dan perbaikan jalan, juga dikurangi untuk sementara. Perbaikan trotoar dan galian kabel akan dikerjakan pada malam hari untuk meminimalkan kemacetan.

"Kita akan lebih fokus pada perbaikan trotoar dan juga perbaikan galian kabel itu kita lakukan di tengah malam. Itu antisipasinya," sebut Farhan.

Soal kritik terhadap desain halte, Farhan belum mau banyak berkomentar. Ia mengaku perlu bertemu pemegang proyek BRT lebih dulu. "Saya belum bisa komentar. Saya harus ketemu dengan orang BRT insya Allah malam ini saya mau rapat BRT," ucapnya.

Lokasi pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps)

Waktu Akan Membuktikan

Di tengah kritik tersebut, dikutip dari Kawal BRT, perencana proyek mengklaim BRT dirancang menyesuaikan kondisi jalan dan berangkat dari kebutuhan mobilitas yang jelas.

Koridor utamanya membentang 21,7 km melalui jalan-jalan utama Kota Bandung. Sementara bus beroperasi di jalur khusus yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi tiap segmen, baik terpisah penuh dari kendaraan pribadi maupun berupa lajur campuran.

Sebagai gambaran halte BRT di Cicadas merupakan tipe B dimana lokasinya berada di jalan satu arah empat lajur. Konfigurasinya terdiri dari satu lajur kendaraan pribadi, halte pulau, satu jalur BRT dengan separator fisik, dan dua lajur kendaraan pribadi.

Soal kemacetan selama masa konstruksi, hal ini tak terhindarkan karena pembangunan halte, pelebaran trotoar, dan pemasangan separator akan menyempitkan jalan untuk sementara di sejumlah ruas.

Reporter Gilang Fathu Romadhan
Editor Andres Fatubun