Beranda

Nyala dari yang Terbuang: Ekonomi Sirkular Guwosari, Mengubah Sampah menjadi Harapan

Oleh: Arif Budianto
Warga binaan SS dan FH membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)

AYOBANDUNG.ID - Suara gesekan mesin gerinda dan denting palu bersahutan dari balik jeruji besi. Pun percikan api dari las listrik menyembur hingga sekitar satu meter, memecah kesunyian sore itu. Tak terdengar percakapan satupun. Hanya belasan pria berseragam biru tua yang sibuk dengan peralatannya masing-masing.

Seorang narapidana duduk tertunduk. Tangannya memegang lempengan benda bulat berwarna merah tua. Sebilah benda tajam digerakkan perlahan oleh tangan kanannya yang kekar. Sementara tangan kirinya mencengkeram erat lempengan benda tersebut agar tak terlepas.

Diukir sedikit demi sedikit, kemudian diamplas. Sesekali ditiupnya serpihan yang menempel. Lalu dikerik kembali. Gerakannya pelan namun terukur, seolah tak ingin ada satu inci pun bagian yang luput dari perhatiannya. Matanya yang tajam terus mengikuti setiap detail.

Lempengan berdiameter sekitar 2,5 sentimeter itu perlahan mulai berbentuk. Warnanya tetap merah tua, khas bahan baku daur ulang. Bentuknya mulai cantik dipandang mata, menyerupai cincin berdiameter besar dengan goresan halus di setiap lengkungnya.

“Ini saya sedang membuat gantungan kunci untuk suvenir. Bahan bakunya dari daur ulang plastik yang didapat dari warga sekitar (Kalurahan Guwosari),” kata pria paruh baya berinisial SS saat ditemui AyoBandung.id di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026.

SS adalah warga binaan rumah tahanan yang berada di Jalan Guwosari, Kalurahan Guwosari, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehari-harinya SS menghabiskan waktu di rumah tahanan yang telah ada sejak 1987 itu. SS saat ini sedang menjalani masa hukuman lima tahun penjara.

SS menjadi bagian dari warga binaan yang terlibat pada program Go-Sari Rehabcycle. Sebuah program yang fokus pada pengolahan sampah dari hulu hingga hilir di Kampung Iroyudan, Kalurahan Guwosari, Bantul. Go-Sari Rehabcycle merupakan platform terpadu berbasis masyarakat yang mengelola sampah menjadi sumber daya bernilai melalui pendekatan ekonomi sirkular.

SS yang kini berusia 47 tahun itu menghabiskan sebagian waktunya dengan berkarya. Dia membuat kerajinan tangan bersama warga binaan lainnya, memanfaatkan lempengan daur ulang sampah yang dihimpun warga Guwosari. Waktu dan pikirannya dicurahkan untuk berkegiatan positif di tengah penantiannya menjalani masa kurungan di penjara seluas sekitar 1,2 hektare itu.

Mengukir menjadi aktivitas keseharian yang ditekuninya. Mengisi waktu di balik kokohnya tembok rutan. Namun SS tak sendiri, dia bersama warga binaan lainnya aktif membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah. Keterlibatan SS di kegiatan positif tersebut karena dianggap memiliki perilaku baik selama di dalam penjara.

Menurut SS, kendati aktivitasnya tersebut membutuhkan ketelitian dan ketekunan, namun baginya sebuah kesempatan emas untuk mendapatkan keahlian baru. “Diberi pelatihan, lalu dipraktikkan di sini. Harapannya bisa bermanfaat buat kami setelah keluar dari sini (rutan),” ujarnya.

Walaupun dunia seni tidak lah asing baginya, namun SS belum pernah memiliki pengalaman mengukir. Dia biasa membuat kerajinan yang berhubungan dengan taman, termasuk papan nama atau merek untuk warung atau UMKM.

“Kalau mengukir memang belum pernah, tapi saya memang sudah punya darah seniman, tapi seniman taman. Daripada di sini nggak ngapa-ngapain, lebih baik saya menimba ilmu untuk bekal ketika keluar nanti,” tuturnya.

Selain keterampilan, kegiatan tersebut juga memberikan peluang untuk memperoleh penghasilan. Karena, dari produk yang dibuat, nantinya akan dijual dan hasilnya akan dibagi kepada mereka yang terlibat.

“Lumayan buat tambahan uang saku,” kata SS berbinar.

Baginya, pendapatan uang satu sen pun sangat berarti. Dia mengaku tidak punya penghasilan pasif atau kiriman rutin dari keluarganya. Walaupun, untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, minum, sabun, deterjen, hingga pasta gigi telah ditanggung negara namun tetap saja memiliki pegangan uang akan menghibur luka dan laranya.

“Di sini tidak bisa mencari apa-apa, tidak bisa bergerak menghasilkan uang. Sementara kiriman dari keluarga sangat jarang. Makanya saya sangat berharap kerajinan yang saya buat bisa laku dan memberi penghasilan bagi saya,” katanya dengan raut muka memelas dan kesedihan mendalam.

Sejak masuk rutan, anak semata wayangnya pergi jauh merantau. Tak terdengar di mana keberadaannya. Begitupun istrinya yang memilih mengadu nasib di kota lain. Kini keluarganya hancur, akibat kekhilafannya terlibat bisnis haram. Mencari uang dengan instan dan kenikmatan sesaat yang telah disesalinya seumur hidup dan tak akan diulanginya kembali.

“Kalau nanti diberi panjang umur oleh Gusti Allah, akan saya gunakan dengan baik keterampilan yang saya dapatkan di sini,” ujarnya.

Beberapa warga binaan di Rutan Kelas II Bantul mengisi waktu dengan membuat berbagai kerajinan berbahan limbah. (Sumber: Istimewa)

Tak hanya SS, di sudut lainnya juga terdapat warga binaan lainnya, sebut saja FH. Dia pun ahli dalam membuat suvenir miniatur tugu Yogyakarta. Usianya terbilang masih belia, 25 tahun. Namun kemauan FH menekuni keterampilan membuat suvenir patut diacungi jempol.

Bagi FH, mengolah limbah menjadi kerajinan merupakan keterampilan yang sebelumnya tidak pernah dimiliki. Dia mengaku senang bisa mendapatkan keterampilan baru selama menjalani masa pembinaan di tahanan.

Menurut FH, membuat kerajinan miniatur membutuhkan ketelitian. Setiap proses harus dilakukan dengan cermat agar menghasilkan bentuk yang sesuai dengan aslinya.

“Saya tidak punya keahlian apa-apa, alhamdulillah di sini saya diajari membuat kerajinan. Kuncinya harus teliti saja,” katanya.

Bagi FH, kemampuan yang didapat bisa menjadi bekal setelah kembali ke kehidupan di luar kelak. Dia sadar, kerasnya kehidupan akan menuntutnya memiliki keahlian untuk sekadar menyambung hidup. Tidak berpangku tangan kepada orang lain.

“Apa yang saya lakukan saat ini, semoga bisa menjadi jalan hidup kelak, agar tidak terjerumus lagi ke dunia yang kelam ini,” imbuhnya. 

Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas IIB Bantul Agus Widodo menunjukkan kerajinan berbahan limbah karya warga binaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)

Bekal Hidup dari Jeruji Besi

SS dan FH hanyalah dua dari belasan warga binaan yang terlibat program pemberdayaan warga binaan untuk mengolah bahan daur ulang sampah. Di rutan tersebut, mereka mendapatkan keterampilan mengukir, membuat, dan merakit berbagai macam kerajinan.

Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas IIB Bantul Agus Widodo mengatakan, warga binaan yang terpilih diberi pelatihan membuat berbagai produk kerajinan, mulai dari meja, kursi, suvenir tempat tisu, miniatur tugu, hingga gantungan kunci.

Pelatihan dilakukan melalui kerja sama antara PT Pertamina Patra Niaga dan Go-Sari. Beberapa tim dari Go-Sari memberikan pelatihan membuat berbagai produk bernilai jual. Pelatihan diberikan secara berkelanjutan hingga mereka betul-betul mahir.

Warga binaan yang mengikuti pembinaan dipilih berdasarkan pertimbangan memiliki perilaku baik. Juga telah menjalankan setengah atau dua pertiga masa kurungan.

“Kami memilih mereka yang berkelakuan baik. Tujuannya untuk bekal mereka ketika nanti sudah kembali ke masyarakat. Harapannya mereka bisa mendapatkan uang dari keterampilan yang telah mereka miliki,” kata Agus.

Selain keterampilan, warga binaan juga akan memperoleh pendapatan dari produk yang dihasilkan. Di dalam rutan, pendapatan tersebut disebut sebagai premi. Bagi hasil keuntungan dilakukan dengan skema 50 persen untuk warga binaan dalam bentuk premi, 15 persen untuk Pendapatan Nasional Bukan Pajak (PNBP), dan 35 persen untuk operasional kegiatan.

Agus mengatakan, program pengolahan limbah plastik yang melibatkan warga binaan baru berjalan sekitar awal Agustus 2026. Sehingga penghasilan yang didapat belum signifikan. Namun jika di total, kegiatan tersebut telah menghasilkan transaksi hingga Rp2 juta.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan pemasaran produk, karena minimnya jaringan penjualan. Walaupun, dia mengaku beberapa kali telah memperkenalkan produknya di pameran Bantul Kreatif Expo.

Menurut dia, terdapat sekitar 10 hingga 15 jenis produk yang telah dibuat warga binaan. Untuk produk meja dan kursi, satu set yang terdiri atas satu meja dan empat kursi dijual sekitar Rp1,6 juta hingga Rp1,8 juta. Sedangkan untuk suvenir mulai dari Rp25.000 hingga Rp50.000.

Menurut Agus, antusiasme warga binaan mengikuti kegiatan tersebut cukup tinggi. Selain untuk mengisi waktu, mereka juga menjadi memiliki kegiatan sekaligus keterampilan baru.

“Alhamdulillah, mereka sangat antusias. Selain membuat mereka tidak bosan, mereka punya kegiatan dan dapat ilmu juga,” katanya.

Kegiatan keterampilan tersebut dilaksanakan setiap Senin hingga Sabtu pada jam kerja. Agus berharap ke depan semakin banyak kegiatan yang dapat diberikan kepada warga binaan, tidak hanya pengolahan limbah plastik.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra didampingi relawan Go-Sari saat meninjau TPS 3R di Kampung Iroyudan, Kalurahan Guwosari, Bantul, DIY. (Sumber: Istimewa)

Mengurai Sampah, Merawat Lingkungan

Keterlibatan warga binaan Rutan Kelas IIB Bantul mengolah limbah menjadi produk bernilai merupakan salah satu bagian dari ekonomi sirkular yang dikembangkan warga Kalurahan Guwosari, Bantul.

Ekonomi sirkular itu berpusat di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Go-Sari, tepat di seberang Rutan kelas II Bantul. Di lingkungan yang tampak tandus itu, ternyata ada pusat kegiatan yang merupakan bagian dari pusat pengolahan sampah di kelurahan tersebut.

Ya, di ujung jalan buntu itu, terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah. Masyarakat yang telah memilah sampah menyetorkan berbagai jenis sampah ke unit tersebut. Ada sampah basah, sampah plastik, kertas, dan material sampah lainnya. Belasan ibu-ibu berada di unit ini. Mereka melakukan kegiatan menyortir sampah lanjutan sebelum diolah.

Sementara di sisi kiri jalan, terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah. Terdapat mesin berukuran panjang untuk memilah sampah sebelum akhirnya diolah menjadi bijih daur ulang.

Direktur BUMDes Guwosari, Hendry mengatakan TPS 3R Go-Sari saat ini mengelola sekitar 4 hingga 4,5 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut dikumpulkan dari warga, kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk melalui proses pemilahan berdasarkan kategori yang telah ditentukan.

“Ada kategori sampah yang namanya sampah bosok, rosok, popok, dan godong tok,” kata Hendry.

Istilah tersebut digunakan untuk membedakan jenis sampah berdasarkan karakteristik dan cara pengolahannya. Sampah bosok atau organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Sementara, sampah anorganik atau rosok dipilah untuk dijual kembali untuk didaur ulang. Adapun sampah popok dipisahkan dalam kategori tersendiri. Sampah daun atau godong tok diolah menjadi bahan baku kompos.

Kehadiran program tersebut tak lepas dari berbagai persoalan yang sebelumnya dihadapi masyarakat di desa tersebut. Mulai dari masalah lingkungan, sosial, hingga persoalan ekonomi. Salah satu persoalan lingkungan yang dihadapi adalah kondisi darurat sampah, karena volume sampah terus meningkat, sementara kapasitas pengelolaannya masih belum optimal.

Permasalahan sampah pun memicu berbagai konflik di tengah masyarakat. Setidaknya terdapat 26 kasus konflik masyarakat yang berkaitan dengan persoalan tersebut, mulai dari pembuangan sampah liar hingga pembakaran sampah yang menyebabkan gangguan lingkungan dan ketidakpuasan masyarakat.

Dari sisi ekonomi, sekitar 2.500 kepala keluarga (KK) juga berada dalam kondisi ekonomi rendah. Minimnya lapangan kerja dan peluang bisnis membuat taraf hidup masyarakat sulit berkembang.

“Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian kami untuk mengembangkan program yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga penciptaan nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata VP Community, Involvement, dan Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati Jumat, 11 September 2026.

Menurut dia, Go-Sari Rehabcycle mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara efektif. Sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan mendukung keberlanjutan lingkungan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Setelah Go-Sari hadir, banyak warga yang mendapatkan penghasilan tambahan bahkan menjadi sumber penghasilan pokok. Tidak banyak, tapi menambah pendapatan warga sekitar yang selama ini kesulitan ekonomi. Setidaknya ada 27 warga Guwosari dari berbagai kalangan usia yang menjadi pekerja. Mereka mendapatkan pemasukan bulanan dari pekerjaan yang tak terpikirkan sebelumnya.

Ekonomi Sirkular

Pengembangan TPS 3R Guwosari merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari (DEB) dari PT Pertamina Patra Niaga. Bentuk dukungan Pertamina diberikan melalui penyediaan sejumlah peralatan pengolahan sampah untuk membantu meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi.

Pengembangan TPS 3R Go-Sari bermula ketika program Desa Energi Berdikari hadir pada 2022. Awalnya, Pertamina hadir bukan untuk pengembangan program pengelolaan sampah, tetapi tahap riset untuk program lainnya. Namun tim riset ternyata menemukan adanya persoalan lain yang lebih kompleks. Di mana, warga menghadapi persoalan sampah dan ekonomi.

Dukungan Pertamina diberikan dari hulu hingga hilir. Di tingkat hulu, program dilakukan dengan memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dari pintu ke pintu. Terdapat 1.554 KK yang menjadi pelanggan pengolahan sampah yang rutin menyetorkan sampah rumah tangga ke TPS 3R ini.

“Sampah yang selama ini menjadi persoalan, saat ini dipilah dan disetorkan ke TPS 3R ini untuk diolah,” lanjut Dian.

Pada tahap pelaksanaan, program ini melibatkan 15 orang untuk mengolah sampah. Di mana, sampah yang telah dipilah kemudian diolah menjadi berbagai produk. Pengolahan tersebut meliputi pengomposan, budidaya maggot, budidaya ayam, serta pengolahan plastik menjadi bahan baku kerajinan.

“Selain pengolahan sampah, terdapat 30 orang yang terlibat dalam pembuatan ecofurniture, termasuk di dalamnya warga binaan di Rutan Kelas II Bantul. Sampah tersebut disulap menjadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti tempat tisu, gantungan kunci, kursi, dan lainnya. Sampah lainnya juga digunakan untuk pupuk, maggot, dan pengembangan budidaya ayam petelur,” ujar dia.

Sementara sirkular lingkungan di kawasan tersebut juga berhasil mengelola sekitar 1.569 ton sampah per tahun. Pengelolaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi aktivitas yang memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok dan masyarakat. Secara ekonomi, kelompok TPS 3R Gosari setidaknya memperoleh pendapatan hingga Rp99,6 juta per bulan.

Sampah organik dari warga hancurkan untuk budidaya maggot. Maggot tersebut kemudian diberikan kepada tim peternak ayam sebagai pakan. Peternak menghasilkan telur dan dijual kepada warga sekitar atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memenuhi gizi bagi anak-anak sekolah. Uang yang dihasilan cukup untuk menggaji para relawan dan pemasukan bagi desa.

Pengembangan program ini juga didukung oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di mana, lahan yang digunakan untuk TPS tersebut merupakan tanah milik Sultan, yang penggunaannya mendapat dukungan dari dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengapresiasi sirkular ekonomi dan lingkungan yang dikembangkan di desa tersebut. Sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan, justru diolah menjadi peluang ekonomi. Bahkan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

PT Pertamina Patra Niaga, kata dia, berkomitmen mendorong ekosistem kepedulian lingkungan ini agar terus berkelanjutan. Program tersebut, masuk dalam program binaan PT Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Rewulu.

Kehadiran Pertamina telah berjalan sejak medio 2022. Masyarakat tidak hanya didorong untuk mengurangi sampah dari sumbernya, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pemilahan dan pengolahan hingga menghasilkan nilai ekonomi.

“Di Guwosari, kita melihat bagaimana sampah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan lingkungan dapat dikelola menjadi peluang ekonomi, membuka kesempatan usaha, sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan,” kata Niaga Mars Ega Legowo Putra.

Menurut dia, sampah tidak harus selalu berakhir sebagai persoalan. Namun dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Dia menilai, Program Go-Sari menjadi contoh bahwa keberlanjutan dapat dibangun dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena, keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi bagaimana upaya tersebut bisa memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Warga Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap menunjukkan mokap instalasi energi bersih program Desa Energi Berdikari PT Pertamina Patra Niaga yang saat ini dikembangkan di kampung tersebut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)

Pemberdayaan Energi Bersih

Tak hanya membantu masyarakat mengelola lingkungannya agar terbebas dari masalah sampah, Pertamina juga mendorong pemanfaatan energi bersih. Salah satunya penyediaan panel surya sebagai sumber energi untuk aktivitas di TPS 3R tersebut. TPS tidak memanfaatkan sambungan listrik untuk menyalakan lampu atau menggerakkan mesin pengolah sampah, tetapi memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energinya.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth Marcelino Verieza Dumatubun mengatakan, program pemberdayaan di desa tersebut yang merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari diharapkan mendorong terciptanya green energy di pelosok desa. Salah satu pendekatannya adalah menghadirkan inovasi pemanfaatan energi alternatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah penerima manfaat.

Menurut Roberth, pemanfaatan tenaga surya menjadi salah satu bentuk dukungan untuk mengatasi kendala energi yang dihadapi masyarakat desa. Teknologi ini dapat digunakan untuk mendukung berbagai aktivitas produktif yang sebelumnya terkendala keterbatasan akses terhadap energi.

“Desa Energi Berdikari ini dibuat untuk tidak saja memberikan masyarakat penerima manfaat nilai tambah, baik dari sisi ekonomi maupun pemberdayaan masyarakatnya. Yang jelas, program ini juga menjunjung inovasi, bagaimana Pertamina mendukung dari sisi ketersediaan energi,” kata Roberth.

Menurut dia, selain pemanfaatan energi surya mendukung pengoperasian TPS di Guwosari, Pertamina juga mendorong operasional pompa air bagi kebutuhan pengairan sawah di desa lainnya. Tepatnya di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, sebuah desa terisolir yang memanfaatkan energi angin untuk mendapatkan listrik.

Begitupun di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Menurut dia, ketersediaan air menjadi persoalan penting bagi masyarakat desa Cilacap yang menghadapi kondisi minim hujan, terutama ketika kegiatan pertanian membutuhkan pasokan air yang memadai.

TPS ataupun pompa air dapat dioperasikan dengan memanfaatkan energi matahari. Teknologi ini menjadi alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan, sehingga kegiatan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.

Roberth menjelaskan, dukungan energi tersebut merupakan bagian dari upaya Pertamina memberikan solusi untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung. Pemanfaatan energi surya tidak berhenti pada penyediaan listrik, tetapi diarahkan untuk menunjang aktivitas yang memiliki manfaat ekonomi.

Selain mendukung pemanfaatan energi surya, program Desa Energi Berdikari juga mendorong pengembangan keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi lokal. Perempuan di desa, misalnya, mendapatkan pelatihan pembuatan telur asin dan pengolahan bahan pangan agar hasil yang tersedia di lingkungan mereka memiliki nilai tambah.

Roberth mencontohkan, masyarakat yang memiliki pisang, hasil tambak udang, maupun cabai didorong untuk tidak hanya menjual hasil tersebut dalam bentuk bahan mentah. Melalui pelatihan pengolahan dan pengemasan, bahan-bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk siap jual.

Cabai, misalnya, dapat diolah menjadi sambal kemasan. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya bergantung pada harga jual cabai sebagai komoditas mentah, tetapi juga berpeluang memperoleh nilai ekonomi dari produk olahan.

“Tidak lagi mengandalkan harga jual cabai, tetapi sudah kemudian mendapatkan benefit dari harga jual sambal kemasan. Nilainya jauh lebih menjanjikan,” ujar Roberth.

Pertamina Patra Niaga mengembangkan Desa Energi Berdikari tidak hanya untuk satu lokasi. Program ini juga diarahkan agar manfaatnya dapat diperluas ke wilayah lain, termasuk desa-desa yang menghadapi keterbatasan akses dan membutuhkan dukungan untuk mengembangkan potensi lokal.

Hingga saat ini program Desa Energi Berdikari telah dikembangkan di ratusan desa di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu wilayah yang menjadi bagian dari pengembangan program tersebut adalah Jawa Tengah.

“Kami tidak saja menyediakan energi, tetapi juga mencoba memberikan manfaat dari energi alternatif. Tidak saja melalui bahan bakar minyak, tetapi juga mengaplikasikan energi alternatif dari tenaga surya, serta memberikan pelatihan sehingga masyarakat menjadi lebih mandiri dan ekonomis,” imbuh Roberth.***

Reporter Arif Budianto
Editor Andres Fatubun