Beranda

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Oleh: Gilang Fathu Romadhan
Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

AYOBANDUNG.ID – Sejumlah warga menolak rencana revitalisasi lapangan Teuku Umar, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, karena dinilai merenggut ruang kebersamaan. Lapangan sepak bola yang selama ini bisa dipakai gratis itu direncanakan menjadi ruang publik multifungsi dengan arena skateboard. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyatakan proyek tetap berjalan.

Lapangan yang Tak Pernah Sepi

Hujan baru saja reda di kawasan Jalan Teuku Umar, Minggu, 25 Oktober 2026, sekira pukul 16.00 WIB, ketika anak-anak hingga orang dewasa berkumpul untuk bermain sepak bola di lapangan tanah itu. Meski bukan pemain profesional, mereka tampak menikmati pertandingan.

Di sudut lapangan terpasang tiga spanduk hitam dan putih. Spanduk hitam bertuliskan “Sepak bola adalah alat perjuangan” dan “save lapangan Teuku Umar”, sementara spanduk putih berisi tanda tangan warga.

Bagi Arbot (28), pemuda RW 10 Kelurahan Lebakgede, lapangan itu bukan sekadar tempat menendang bola. Ia tumbuh di sana bersama teman sebayanya dan kini menyaksikan generasi berikutnya meneruskan kebiasaan yang sama.

“Ya dari kecil saya SSB di sni. Terus ya dari kecil emang main bola di sini lah sama warga sekitar. Terus beranjak sampai ke SMA juga masih aktif. Terus si generasinya turun ke bawah terus ngelanjutin,” ujarnya.

Anak-anak bermain sepak bola di Lapangan Teuku Umar, Coblong, Kota Bandung, Kamis 29 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Menurut Arbot, lapangan itu hampir tidak pernah sepi. Setiap Rabu dan Minggu sore ia bersama warga lain rutin bermain bola. Pada akhir pekan, anak-anak datang sejak pagi untuk berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Teuku Umar Soccer. Sebagian warga juga memakainya untuk berlatih tinju dan senam.

Lapangan itu juga menjadi ruang perjumpaan. Pertandingan sepak bola membuat warga yang tidak saling kenal bisa bertegur sapa, dan perbedaan lingkungan tempat tinggal melebur dalam permainan yang sama.

“Ya buat jaga silaturahmi antara warga lain gitu, RW-RW lain gitu yang di kewilayahan lah. Ya biar silaturahmi aja biar akrab satu sama lain. Biar di jalan bisa say hai say hai gitu,” ucapnya.

Warga pernah memakai lapangan ini untuk nonton bareng final Persib Bandung pada 2024. Arbot mengingatkan bahwa dulu area itu masih menyerupai taman. Warga bergotong royong membenahi bagian tengahnya hingga layak untuk sepak bola, dan fasilitas kebugaran bantuan pemerintah menyusul kemudian.

Pemuda lain, Evan, menyebut warga mempertahankan lapangan bukan hanya demi tempat bermain bola, tetapi juga ruang bersama yang menjadi bagian dari keseharian dan tempat anak-anak bertumbuh.

“Ini suka dipakai sama warga buat berbagai kegiatan, kaya acara atau ibu-ibu senam,” katanya.

Kabar Mendadak dan Pagar Seng

Arbot baru mengetahui wacana alih fungsi lapangan menjadi taman skateboard pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keesokan harinya, pagar seng dipasang di sisi lapangan. Warga geram, lalu menyampaikan keberatan lewat surat kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung dan meminta pemasangan pagar dihentikan.

“Iya, jelas itu ga setuju lah. Karena ya ini masih aktif gitu. Kenapa tiba-tiba mau diubah jadi itu tanpa ada dialog sama yang pengguna fasilitas lah gitu,” kata Arbot seusai bermain bola, Minggu, 25 Oktober 2026.

“Sebenernya ngedadak ya dapet kabar mau dirubah jadi skate park karena emang bener ga ada dialog banget sama masyarakat yang menggunakan fasilitas ini. Jadi bener-bener tiba-tiba lah. Jadi ya kaget lah,” ujarnya.

Pemuda dari gerakan Peduli Lapangan Teuku Umar, Novian Hardiansyah, menuturkan warga baru sadar ada perubahan ketika material bangunan berdatangan saat mereka sedang beraktivitas.

“Kita lagi latihan gitu kan, lagi main gitu kan, tahu-tahu material datang gitu kan. Kan kita bertanya-tanya gitu kan, ada apa, kenapa gitu kan,” tuturnya.

Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Penjelasan Pemkot: Lapangan Kumuh, Dibuat Multifungsi

Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan, mengatakan revitalisasi dilakukan karena lapangan itu dinilai kumuh. Selain perbaikan, akan dibangun fasilitas tambahan di lapangan berukuran sekitar 45x90 meter tersebut, yakni arena skateboard, jogging track, dan taman.

“Alhamdulillah desain segala macam sudah selesai. Jadi nanti itu lapang akan menjadi multifungsi,” kata dia, Senin, 26 Oktober 2026.

“Multifungsi tuh ada berbagai di situ, mau main bola ada mini soccer-nya. Ada bukan skate park, ada satu bagian ada buat memfasilitasi teman-teman yang hobinya skateboarding,” ujarnya.

Menurut Nana, arena skateboard disiapkan untuk memfasilitasi para penggemar papan seluncur, mengingat Bandung memiliki banyak atlet skateboard berbakat.

“Kebetulan Kota Bandung tuh punya juara-juara skateboarding di dunia. Ternyata orang Bandung itu saya baru hafal tuh. Ternyata banyak juara dunia di orang Bandung,” ucapnya.

Ia menyebut lapangan hasil revitalisasi nantinya terbuka untuk umum, dengan catatan warga menjaga ketertiban. Pemkot juga akan menyediakan tempat khusus bagi pedagang.

“Nah, itu saya difasilitasi jadi disediain lahan-lahan tempatnya, jadi dia datang bersih, pulang bersih,” katanya.

Proyek ini memakai anggaran sekitar Rp3 miliar dan ditargetkan rampung akhir tahun ini. Pengerjaan, kata Nana, sudah dimulai.

“Sekitar Rp3 miliar. Insyaallah (Januari 2027) bisa (dipakai). Sudah mulai, sudah mulai. Masalahnya kan targetnya dari Pak Wali Kota harus beres tahun ini.” ucapnya.

Soal penolakan warga, Nana menilai perbedaan pendapat adalah hal wajar.

“Kalau kalau kita mah kan pemerintah kota mah tidak melihat ke sana. Melihatnya kan kepentingan masyarakat, masyarakat butuh ruang publik yang representatif. Nah, pada saat masyarakat butuh ruang publik yang representatif, ya kita akomodir,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kebiasaan buruk di kawasan itu dan berharap penataan akan memperbaikinya.

“Selama ini kan banyak mabok. Karena dibangun, (khawatir) yang maboknya jadi lebih parah. Mudah-mudahan enggak jalan seperti itu gitu, mudah-mudahan dibangun lebih tertata gitu kan,” katanya.

Seorang warga menuliskan pesan dan membubuhkan tanda tangan pada kain spanduk sebagai bentuk dukungan terhadap penolakan rencana revitalisasi Lapangan Teuku Umar, Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Sosialisasi: Pemkot Klaim Sudah, Warga Mengaku Belum

Nana mengklaim pemerintah sudah menyosialisasikan rencana ini kepada warga sekitar, sehingga pengerjaan akan berlanjut. Ia mengakui ada kekurangan dalam komunikasi.

“Tapi kita sosialisasi ya, kita udah ajak bicara mulai dari kewilayahan, kelurahan, seperti rata-rata mah ya gitu, ada miss aja sih. Miss komunikasi lah istilahnya kan.”

Novian membantah klaim tersebut. Ia mengaku warga belum menerima undangan maupun penjelasan langsung dari pemerintah.

“Belum sosialisasi ke warga gitu kan. Apalagi surat-menyurat ke kita juga untuk undangan enggak ada gitu kan, warga,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga juga belum tahu desain yang akan dibangun, termasuk pembagian area untuk sepak bola, skateboard, dan BMX.

“Ini gambarnya juga belum tahu gitu kan, seperti apa gitu kan. Kalau misalkan mini soccer, mini soccer seperti apa gitu kan. Kita kan pengennya tetap lapangan bola yang udah ada gitu kan,” kata dia, Kamis, 29 Oktober 2026.

Skateboard dan BMX Dinilai Tak Menjangkau Warga

Warga mempertanyakan apakah fasilitas baru itu sesuai kebutuhan mereka. Evan khawatir ruang aktivitas warga jadi terbatas.

“Ini kan lapangan, luas, bisa dipakai banyak kegiatan. Kalau dijadikan skateboard park, nanti jadi terbatas. Kan ga semua orang bisa main skateboard,” bebernya.

Ia juga menyoroti nasib anak-anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola dan berlatih di SSB di lapangan itu, serta mahasiswa dari luar Coblong yang kerap datang.

“Nanti ngga ada tempat buat main bola. Ini satu-satunya lapang yang gratis di Coblong, mungkin di Kota Bandung juga. Lapang juga dipakai buat latihan SSB. Kalau diubah jadi skate park nanti mereka gimana? Mahasiswa juga suka banyak datang ke sini,” ucapnya.

Pemuda lainnya, Linda Janalia, menilai biaya bermain skateboard besar dan tidak semua warga punya sepeda BMX.

“Kalau untuk BMX dan skateboard, kalau untuk di wilayah sini kayaknya tidak memungkinkan untuk warga kami yang mencobanya. Karena untuk biaya permainan skateboard sendiri pun butuhin biaya yang besar,” katanya.

Sebaliknya, sepak bola bisa dimainkan anak-anak dengan biaya murah.

“Biarkan anak-anak kami yang bermain bola dan menikmati fasilitas ini. Biarkan mereka yang berpatungan untuk membeli bola Rp2.000 satu orang dan mereka bisa bermain tanpa harus di dalam gang dan lain-lain,” ujarnya.

Linda juga mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memperbaiki fasilitas skateboard yang sudah ada.

“Kalaupun memang ada budget-nya untuk memperbaiki lapang skateboard, kenapa enggak perbaiki lapang skateboard yang ada aja?” ucapnya.

Spanduk terpasang di sudut lapangan sebagai bentuk penolakan warga terhadap rencana perubahan fungsi lapangan sepak bola menjadi ruang publik multifungsi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Bukan Menolak Perbaikan, Minta Fungsi Dipertahankan

Warga menegaskan mereka tidak menolak pembenahan. Arbot tidak mempersoalkan pembaruan fasilitas selama kebutuhan warga diperhatikan, tetapi khawatir ruang bermain bola anak-anak hingga dewasa hilang.

“Ya bagus gitu ini teh main bola di sini teh. Kenapa tiba-tiba gitu jadi buat skate park. Dan gratis gitu buat main di sini mah,” sebutnya.

Linda pun menyatakan warga tidak akan keberatan jika lapangan dan tamannya diperbaiki.

“Jadi kalau mau diperbaiki, dibagus, tamannya dibagusin ya silahkan, kami juga enggak akan komplain sejauh ini gitu. Tapi ini kan jadi ada perubahan. Jadi seolah-olah bukan untuk memfasilitasi warga kami dong,” katanya.

Dialog dan Sikap Warga

Novian menyebut warga terbuka berdialog dengan komunitas lain, termasuk komunitas skateboard yang sudah mereka ajak berkomunikasi.

“Ya insya Allah dia datang ke sini gitu kan, untuk sekarang berdialog gitu kan, bareng-bareng di sini gitu kan,” katanya.

Warga berencana menghimpun aspirasi dan menyampaikannya tertulis kepada DPKP Kota Bandung, serta berharap ada pertemuan terbuka dengan dinas terkait.

“Yang udah kita tampung ntar mungkin ada masukan yang lain gitu kan. Nah ntar kita di suratan-surat gitu kan ke DPKP. Ada pertemuan lah gitu kan secara terbuka gitu kan, dari kita maupun di DPKP-nya seperti apa,” ucapnya.

Namun sikap mereka tegas jika desain tidak mengakomodasi aspirasi warga.

“Kita tetep menolak,” tegasnya.

Evan berharap lapangan Teuku Umar tidak beralih fungsi menjadi taman skateboard dan meminta pemerintah membuka dialog sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, lapangan itu perlu dipertahankan sebagai ruang publik yang bisa diakses berbagai kalangan dan tempat warga merawat kebersamaan.

Reporter Gilang Fathu Romadhan
Editor Andres Fatubun