Di bawah Pohon Rindang atau yang dikenal “DPR”, ada satu jajanan yang sudah menjadi kegemaran mahasiswa UIN Bandung yaitu cilung Mang Iwan. Setiap pagi sejak pukul setengah delapan, aroma aci, bumbu dan telur yang digulung panas-panas sudah menyambut mahasiswa yang lewat menuju kelas. Murah, penjual ramah dan selalu ramai, cilung ini pelan-pelan menjelma jadi legenda kecil kampus.
“Kurang lebih saya sudah jualan 4-5 tahunan. Alhamdulillah mahasiswa banyak yang beli, dosen juga kadang-kadang ada yang beli,” kata Mang Iwan sambil menggulung aci dengan gerakan yang sudah seperti refleks. Harganya yang super terjangkau, mulai dari seribu rupiah membuat cilung ini jadi tambatan hati mahasiswa, terutama yang butuh camilan cepat tanpa harus merogoh dompet dalam-dalam.
“Cilungnya tuh enak banget, apalagi kalau pake telor jadi lebih besar dan ngenyangin, bumbunya ada tiga rasa bisa di campur, asin pedas terus barbeque. Bapaknya juga baik, ramah gitu, pernah waktu itu kurang seribu, tapi katanya nggak apa-apa, sedekah aja,” ujar Najwa, salah satu mahasiswa UIN Bandung.
Hingga kini, Ia tetap tidak memakai QRIS. Di samping karena handphonenya rusak, selama bertahun-tahun mahasiswa yang membeli selalu berlaku jujur.
”Kalau ada yang nggak bawa uang cash, saya suruh cari dulu. Tapi mahasiswa di sini jujur-jujur, pasti balik lagi bayar. Nggak ada yang kabur,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Baca Juga: Beda dari yang Lain, Cilor, Bilor, dan Sempol Aci ‘Mang Jajang’ Jualan hingga Larut Malam
Sikap saling percaya itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Antrean di bawah pohon itu bukan hanya soal cilung, tetapi juga soal budaya kecil yang tumbuh. Mahasiswa yang menghargai penjualnya, dan penjual yang percaya penuh pada mahasiswa.
Tak heran kalau cilung Mang Iwan disebut-sebut sebagai jajanan favorit mahasiswa UIN Bandung. Sederhana, murah, dan penuh kehangatan merupakan sebuah kombinasi yang membuat siapa pun yang pernah mencobanya pasti kembali lagi. (*)