Théâtre D'opéra Spatial, karya Jason M. Allen, menjadi karya yang menang dalam kontes seni murni Colorado State Fair pada tahun 2022 untuk kalangan “emerging artists”. Karya ini menjadi salah satu karya karya awal yang diciptakan oleh AI untuk memenangkan kontes. Setelah kemenangannya, karya ini menuai banyak kritik karena penggunaan AI oleh Jason. Isu ini kurang lebih mencerminkan apa yang sedang terjadi di dunia seni, termasuk Indonesia pada saat ini, dengan banyaknya konten-konten entertainment , karya karya seni, bahkan film yang sudah dibuat tanpa bantuan manusia. Karena itu, kita terpaksa bertanya, “Sampai batas apakah mesin dapat menggantikan seni hasil tangan manusia?”
Ide untuk menciptakan karya seni melalui mesin daripada tangan manusia dirintis oleh artis Harold Cohen dengan ciptaannya, AARON. AARON dapat menciptakan karya dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan oleh Harold. Yang awalnya karyanya hanyalah sebatas abstrak di 1970-an, AARON makin berkembang dengan karya-karya yang makin kompleks mulai dari batu, pohon, hingga manusia.
Konsep menciptakan seni dengan mesin selanjutnya dilakukan oleh Artificial Intelligence (AI). AI menciptakan karyanya dengan melakukan ekstrapolasi terhadap jutaan data-data, dalam hal ini karya karya seni yang sudah dimasukkan ke dalam databasenya, lalu mencari suatu pola yang cocok dengan tema yang diberikan. Pola tersebut kemudian digunakan oleh AI untuk menciptakan karya yang paling sesuai dengan tema. Dengan kata lain, AI bertindak seperti kuas yang memiliki suatu kumpulan peraturan yang berfungsi untuk memberi arah tentang apa yang ingin digambarkannya.
Proses yang lumayan enteng menjadi alasan bagi banyak pencipta seni AI untuk menggunakan AI. Klaim tersebut memang benar. Karya karya seni yang diciptakan oleh AI tidak memerlukan jam yang diperlukan oleh artis konvensional untuk bertukar pikiran maupun menciptakan karya mereka. Hanya dengan menyalurkan ide kita dan menekan tombol submit, mesin tersebut akan mencetak gambar yang paling sesuai dengan ide yang kita berikan. Seiring dengan berkembangnya zaman, AI juga makin pintar dalam menciptakan karya karya tersebut, bahkan sampai karya tersebut tampak sangat asli.
Jadi, jika hanya dengan satu klik kita dapat menciptakan karya dalam waktu singkat, apa gunanya bagi kita untuk menciptakan karya dengan tangan lagi?
Penggunaan Artificial Intelligence yang masif dalam era ini telah mendorong kembali suatu konsep penting di dunia seni, yaitu estetika.
Pada dasarnya, kita bukan mesin. Manusia telah diberi kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk makhluk hidup yang lain: kemampuan untuk merasa. Dengan berkembangnya kecerdasan manusia di setiap zaman, kita telah diberi kemampuan untuk berpikir lebih dari sekadar insting hewan kita. Sementara makhluk hidup lain berjodoh hanya demi keberlangsungan spesies mereka, kita telah diberi kemampuan untuk berpikir lebih jauh. Kita berjodoh karena ada bagian di dalam diri kita yang ingin melanjutkan kehidupan kita dengan pihak tersebut, bukan hanya untuk menciptakan keturunan demi memastikan keberlangsungan hidup spesies kita. Perasaan-perasaan ini, digabung dengan ratusan perasaan lain yang kita rasakan, menghasilkan kreativitas yang ada di dalam diri kita.
Cara kita mengekspresikan kreativitas adalah seni, baik melalui menciptakannya maupun menikmatinya. Seni merupakan wadah bagi semua orang untuk menyalurkan kreativitas mereka masing masing, baik dengan karya tulisan, gambaran di kanvas, maupun ukiran patung. Semua ini adalah bagian dari apa yang membuat kita hidup. Walaupun kita tidak aktif menciptakan seni setiap hari, kita secara tidak sadar sering mencari karya karya seni yang bermakna untuk kita nikmati. Beberapa mencari film yang enak untuk ditonton, dengan tipe film yang bervariasi juga. Beberapa menonton video-video di media sosial yang menggugah rasa yang bermacam macam; rasa senang, rasa sedih , rasa marah , dsb.
Demikian juga mengapa, ide untuk menggantikan manusia sepenuhnya dengan mesin untuk menciptakan karya-karya yang ada tidak akan berlangsung baik untuk kita. Kreativitas tidak lahir dari seperangkat peraturan universal yang disetujui. Di balik kreativitas manusia, terdapat ribuan detik pengalaman yang sudah ada sejak kita kecil hingga sekarang. Kreativitas tersebut lahir dari segala hal yang telah kita raba, lihat, rasakan, dan dengar. Dengan kata lain, setiap orang memiliki kreativitas yang berbeda. AI tidak memiliki semua itu. Mesin tidak memiliki ratusan pengalaman yang manusia miliki. AI hanya memiliki kumpulan data sebagai sumber untuk melakukan ekstrapolasi. Segala yang diciptakan oleh AI berasal dari algoritma, rumus matematika, yang kemudian melahirkan karya yang “‘aman”, karya yang mengikuti pola-pola karya dahulu tanpa adanya kreativitas apa pun yang dituang ke dalam karya tersebut.
Jika tradisi untuk menciptakan karya tanpa adanya asistensi apa pun dari manusia terus dilakukan, karya yang bermunculan di dunia seni lambat laun akan menjadi jenuh dengan karya-karya yang sudah ada sebelumnya. Menggunakan AI untuk menciptakan cerita saat ini hanya akan menghasilkan cerita yang generik, cerita yang memiliki kiasan yang sudah sering kita dengar seribu kali. Kebiasaan untuk menciptakan karya dengan mesin hanya akan menciptakan karya-karya yang sudah kita lihat berkali-kali sebelumnya, dan pastinya setiap orang akan muak dengan dunia seni lambat laun.
Kebiasaan untuk menciptakan karya dengan AI juga mencerminkan sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi pada generasi kita. Kita diajari untuk mencari jalur yang “aman” ; mencari gelar yang bagus di universitas yang bergengsi, lalu bekerja keras dari jam 9 pagi hingga 5 sore setiap hari di bilik kantor kita. Kehidupan ini dipaparkan sebagai kehidupan yang “ideal”, yang paling aman bagi generasi pada saat ini, apalagi dengan krisis ekonomi yang terjadi di kiri dan kanan. Lambat laun, kita diajarkan untuk menjadi roda gigi di mesin perekonomian dunia ini, nothing more, nothing less. Memang, tampaknya masuk akal untuk bersikap demikian, agar kita dapat menafkahi diri kita sendiri serta keluarga kita. Namun, tradisi ini mengikis kreativitas yang kita miliki setiap hari.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan bagi Mahasiswa: Peluang atau Ancaman?
Seni harus menjadi sebuah kekuatan yang menginspirasi kita di zaman ini untuk menjadi lebih dari roda gigi mesin tersebut. Bukannya hasil rumusan matematika yang mengutamakan kenormatifan dari dunia seni, seni seharusnya memberi inspirasi bagi kita untuk melihat dunia dengan kacamata yang berbeda, untuk melihat koneksi-koneksi, hubungan antar konsep yang tidak dapat kita lihat jika kita bergerak di jalur yang “aman”. Kreativitas pada dasarnya tidak harus menuruti norma yang ada. Di banyak kasus, kreativitas bahkan menentang norma yang ada. Memang, memiliki pekerjaan dari jam 9 sampai 5 bukanlah hal yang buruk, tetapi kita tetap harus memelihara dan mengembangkan kreativitas yang kita miliki di sampingnya, bukan meredupkan nyala dari lampu tersebut untuk upaya menjadi sebuah roda gigi. Seni dengan demikian, seharusnya bertindak sebagai inspirasi kita untuk menyalakannya.
Walaupun AI tidak memiliki kreativitas yang cukup untuk menggantikan manusia, AI tetap dapat membantu dunia seni dalam banyak hal. Artis-artis dapat menggunakan AI untuk mencari panduan untuk menciptakan sesuatu. AI juga dapat digunakan untuk mencari sesuatu di Google, sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mencari suatu laman yang cocok. Selain itu, AI masih dapat digunakan untuk membantu hal-hal repetitif yang tidak memerlukan kreativitas. Dengan demikian, kita dapat lebih fokus pada proses kreatif dalam pembuatan seni.
Dengan demikian, dengan segala ancaman yang ada di balik penggunaan AI, ketika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi pendukung kreativitas kita. AI dapat digunakan untuk mendorong kreativitas kita lebih jauh, baik dengan mencarikan panduan yang baik bagi kita, membantu memoles karya kita sedikit, dan sebagainya. AI layaknya adalah sebuah kuas di saku kita; kuas tersebut tidak dibentuk untuk menggantikan kita, tetapi untuk membantu kita menyalurkan kreativitas kita ke dalam kanvas yang ada. (*)
Daftar Pustaka
Corrall, Matt. “The Harm & Hypocrisy of AI Art.” Matt Corrall, Matt Corrall, 2023, www.corralldesign.com/writing/ai-harm-hypocrisy.
Reinhart, Eric. “The Trouble with AI Art Isn’t Just Lack of Originality. It’s Something Far Bigger.” The Guardian, The Guardian, 20 Mei 2025, www.theguardian.com/commentisfree/2025/may/20/ai-art-concerns-originality-connection.
Vinther, Bianca. “Creativity in Art: The Ultimate Overview to Understanding the Foundation of Your Art.” Medium, 22 Sept. 2021, medium.com/@the_pointless_artist/creativity-in-art-the-ultimate-overview-to-understanding-the-foundation-of-your-art-8fbbfa0625e.
Wikipedia Contributors. “Théâtre d’Opéra Spatial.” Wikipedia, Wikimedia Foundation, 18 Mei 2023, en.wikipedia.org/wiki/Th%C3%A9%C3%A2tre_d%27Op%C3%A9ra_Spatial.