Di Bandung pada era 1990-an, Ramadhan selalu hadir dengan rasa yang khas. Bukan semata karena udara sore yang mulai sejuk atau aroma kolak yang menyeruak dari dapur-dapur rumah, melainkan karena satu bunyi yang hampir tak pernah absen yakni radio yang menyala sejak dini hari hingga larut malam. Dari kotak-kotak suara itulah Ramadhan diwarnai oleh tausyiah, lantunan ayat suci, canda penyiar, hingga azan maghrib yang dinanti dengan khidmat.
Selama bulan suci, radio-radio di Kota Bandung seakan berlomba menghadirkan program-program khusus Ramadhan, baik on-air maupun off-air. Studio berubah menjadi ruang ibadah yang hangat, sementara para penyiar menjelma sahabat setia yang menemani pendengar dari sahur hingga malam. Ada tausyiah, talkshow religi, lomba menyanyi lagu Islami, festival Al-Qur’an, sampai peluncuran single religi dari musisi lokal maupun nasional.
Waktu dini hari menjadi saat paling sunyi, sekaligus paling akrab. Program sahur biasanya mengudara sejak pukul dua pagi dengan judul-judul yang bersahabat di telinga seperti Sahur Ceria, Sahur Sahabat, atau nama-nama khas lain. Lagu-lagu religi diputar lembut, diselingi kultum singkat, jadwal imsakiyah, dan sapaan penyiar yang hangat meski mata masih setengah terpejam. Tak jarang, pendengar menelepon hanya untuk menyapa, melapor sedang sahur bersama keluarga, atau mengirim salam ke kampung halaman.
Memasuki pagi hingga siang hari, radio tetap setia menemani. Program Tadarus on Radio menjadi salah satu sajian khas juga lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dibacakan dengan tartil, lalu diikuti terjemahan atau penjelasan singkat. Ada pula Klinik Ramadhan, ruang tanya jawab seputar fiqih puasa dan persoalan keseharian. Di sela-selanya, kuis Ramadhan dan bagi-bagi hadiah, yang kini mungkin bisa disebut THR versi radio, menjadi hiburan kecil yang menghangatkan suasana.
Puncak romantika siaran Ramadhan radio-radio-radio Bandung terasa menjelang sore, saat waktu ngabuburit. Program-program ringan dan penuh canda mengisi udara. Lagu religi bercampur obrolan santai, cerita pendengar, hingga laporan suasana jalanan Bandung yang mulai padat. Menjelang azan maghrib, kultum tujuh menit, yang akrab disebut kultum menjelang berbuka, menjadi penanda bahwa waktu hampir tiba. Banyak keluarga menunggu azan sambil tetap setia mendengarkan radio.
Malam hari, suasana kembali khusyuk. Sejumlah radio menyiarkan langsung salat tarawih dari masjid-masjid besar di Bandung. Ada pula program Tarawih Keliling yang menghadirkan nuansa ibadah dari berbagai penjuru kota. Setelahnya, kisah-kisah Islami, sejarah Nabi dan para sahabat, atau kajian ringan menjadi pengantar malam yang menenangkan.
Bagi warga Bandung era 1990-an, radio di bulan Ramadhan bukan sekadar media hiburan. Ia adalah penjaga waktu, pengingat ibadah, sekaligus ruang kebersamaan yang tak terlihat namun terasa dekat. Di tengah keterbatasan teknologi kala itu, radio berhasil menghadirkan harmoni spiritual dan sosial. Mengalun lembut, menemani puasa, dan meninggalkan jejak kenangan yang masih hidup hingga kini.

Gelombang Kreativitas di Udara
Sejak akhir 1980-an hingga memasuki 1990-an, Kota Kembang menjadi ruang bermain bagi imajinasi. Musik-musik baru diperdengarkan, sapaan akrab penyiar menyelinap di sela malam, dan lagu-lagu permintaan pendengar menjadi pengikat rasa kebersamaan. Radio bukan sekadar medium hiburan ia adalah teman setia, penanda waktu, sekaligus jendela dunia.
Sebelum istilah streaming dikenal, sebelum kejernihan audio menjadi keharusan, jalur AM adalah rumah bagi mimpi-mimpi itu. Di frekuensi inilah anak-anak muda belajar siaran, bereksperimen dengan format, dan menyapa kota dari balik mikrofon sederhana. Suara berderak tak pernah jadi soal yang penting, pesan sampai dan perasaan terhubung.
Bandung kala itu dipenuhi pemancar radio amatir. Dari gang-gang sempit, rumah petak, hingga studio darurat, gelombang suara berseliweran memenuhi udara. Banyak di antaranya kemudian tumbuh menjadi stasiun radio swasta komersial yang dikenal hingga hari ini. Jalur AM menjadi semacam ruang inkubasi, tempat belajar, jatuh bangun, dan menemukan jati diri siaran.

Daftar Frekuensi Radio AM di Bandung (Era 1980–1990-an)
Berikut adalah sebagian nama yang pernah menemani pagi, sore, dan malam warga Bandung. Nama-nama yang mungkin kini tinggal kenangan, tetapi suaranya pernah akrab di telinga:
- RRI Bandung, Mara,
- Dwikarya '69, Mercy ’73, Kencana, Sonatha'4, Leidya, Fortune, Columbia BMW, Estrellita , Budaya Sari,
- Contessa, Continental
- Megantara, Warga Karya, Maestro, Volvo, Paramuda Mustika Parahyangan,
- Ariestiara, Garuda,
- Ganesha, Chevy'88
- Dahlia, Elgangga,
- Famor, Ardan,
- Mutiara Gegana , Radio OZ, Young Generation (Way Jie), Unasko
- Shinta Buana, Lita,
- Sangkuriang, Sarra' 88 , Cendrawasih, Paksi dan Radio Adhika Swara.
Baca Juga: Romantisme Mendengarkan Radio 'Sempal Guyon Parahyangan'
Ketika itu di tengah kepadatan jalur AM, FM masih menjadi barang langka, nyaris eksklusif. Hanya segelintir yang mengudara, di antaranya Radio KLCBS dan Radio 101 FM. Kehadirannya menandai awal perubahan, suara yang lebih jernih, format yang lebih rapi, dan perlahan-lahan, pergeseran zaman.
Kini, banyak frekuensi itu telah sunyi. Namun bagi mereka yang pernah memutar knop radio perlahan, mencari sinyal di antara desir, nama-nama itu bukan sekadar daftar. Ia adalah potongan ingatan tentang malam panjang, lagu favorit, dan Bandung yang pernah berbicara lewat udara. (*)