Romantisme Mendengarkan Radio 'Sempal Guyon Parahyangan'

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Minggu 08 Feb 2026, 18:22 WIB
Radio transistor jadul milik Kin Sanubary, yang dipakai mendengarkan Dongeng Sunda sejak era tahun 90-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Radio transistor jadul milik Kin Sanubary, yang dipakai mendengarkan Dongeng Sunda sejak era tahun 90-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Ada satu kenangan yang dulu hampir selalu hadir di sore hari, bagi Warga Bandung dan masyarakat Parahyangan yakni radio yang menyala, hampir dari setiap rumah. Dari balik suara kresek halus gelombang udara, terdengar sapaan khas berbahasa Sunda yang hangat dan akrab. Dari sanalah tawa bermula, petuah mengalir pelan, dan potret kehidupan orang Sunda hadir apa adanya sederhana, tapi lekat di ingatan.

Bagi warga Bandung, khususnya pada bulan Ramadhan, mendengarkan Dongeng Sunda Sempal Guyon Parahyangan juga lekat dengan tradisi ngabuburit. Menjelang azan Magrib, saat sore mulai meredup dan waktu berbuka kian dekat, radio kembali menjadi teman setia. Di teras rumah, di dapur sambil menyiapkan takjil, atau di ruang tamu bersama keluarga, suara dongeng itu mengalir menemani detik-detik menunggu buka puasa.

Tawa kecil dari celoteh Kundang dan kawan-kawan berpadu dengan aroma gorengan dan kolak, menciptakan suasana Ramadhan khas Bandung yang hangat, akrab, dan penuh nostalgia. Dalam momen itulah, Sempal Guyon Parahyangan bukan sekadar hiburan sore, melainkan bagian dari ritual kebersamaan yang memperkaya makna ngabuburit masyarakat Parahyangan.

Sempal Guyon Parahyangan bukan sekadar dongeng radio. Ia adalah ruang bersama, tempat kenangan dikumpulkan, dirawat, lalu diwariskan dari satu generasi pendengar ke generasi berikutnya.

 “Wilujeng tepang para mitra sadaya.

Patepang dangu deui sareng acara anu maneuh,

Sempal Guyon Parahyangan ”

Suara itu selalu datang lebih dulu, sebelum cerita dimulai. Bagi pendengar radio di Bandung dan Jawa Barat pada dekade 1980–1990-an, sapaan tersebut bukan cuma pembuka acara. Ia adalah penanda waktu sore, pemanggil kenangan, sekaligus pintu masuk ke dunia dongeng Sunda yang jenaka, hangat, dan penuh cermin kehidupan.

Melalui gelombang radio-radio swasta niaga, Sempal Guyon Parahyangan menjelma menjadi salah satu dongeng Sunda paling populer pada masanya. Diproduksi oleh Radio Garuda Bandung, acara ini disiarkan oleh berbagai radio di hampir seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat. Setiap sore, ia menemani masyarakat Parahyangan dengan kisah-kisah keluarga Sunda yang begitu dekat dengan keseharian pendengarnya.

Andi R Djauhari dan Tisna Suntara, juru dongeng Sempal Guyon Parahyangan yang legendaris. (Sumber: Istimewa)
Andi R Djauhari dan Tisna Suntara, juru dongeng Sempal Guyon Parahyangan yang legendaris. (Sumber: Istimewa)

Selain versi pembuka yang paling dikenal, pendengar juga akrab dengan sapaan lain yang tak kalah melekat yakni :

 “Wilujeng tepang paramitra sadaya,

patepang dangu deui sareng acara anu maneuh Dongeng Sunda Pasosore ti radio kameumeut balarea dina waktos sareng gelombang nu sami, wilujeng ngadangukeun ka paramitra di mana wae ayana.”

Kalimat-kalimat itulah yang selalu mengawali acara Dongeng Sunda Sempal Guyon Parahyangan, sekaligus menegaskan posisinya sebagai dongeng Sunda yang paling dikenal di zamannya.

Acara ini dihidupkan oleh tokoh-tokoh yang celotehnya begitu “nyunda”: Kundang, Mas Paijo, Pak Otong, Nyi Iting, Pak Kurdi, Mang Minta, Abah Jangkung, Oded, dan masih banyak lagi. Tema ceritanya sederhana, urusan rumah tangga, tetangga, salah paham kecil, hingga guyonan khas kampung, namun justru di situlah kekuatannya. Dekat, jujur, dan terasa nyata.

Setiap tokoh punya karakter dan warna suara yang berbeda. Tak sedikit pendengar yang kaget ketika tahu bahwa semua suara itu ternyata hanya dimainkan oleh dua orang yaitu Tisna Suntara dan Andi R. Djauhari. Lewat kepiawaian vokal dan penghayatan karakter, keduanya mampu menghadirkan dunia cerita yang hidup dan meyakinkan di telinga pendengar.

Disiarkan setiap sore hingga dikenal sebagai Dongeng Sunda Pasosore, popularitas acara ini dengan cepat mengangkat nama Tisna Suntara dan Andi R. Djauhari. Kehadirannya tak bisa dilepaskan dari konteks zamannya, ketika radio berada di masa keemasan, terutama di Bandung dan Jawa Barat. Saat itu, radio bukan sekadar hiburan, melainkan ruang budaya yang hidup dan akrab dengan pendengarnya.

Produksi Sempal Guyon Parahyangan juga tak bisa dipisahkan dari peran Radio Garuda Bandung. Di tengah persaingan radio swasta pada era Orde Baru, Radio Garuda dikenal konsisten memberi ruang bagi siaran berbahasa Sunda dan hiburan berbasis budaya lokal. Ketika banyak radio berlomba mengejar musik populer dan nuansa urban, Radio Garuda justru meneguhkan identitasnya lewat kearifan lokal.

Baca Juga: Menjelajahi Waktu di Antara Sunda dan Hindu

Melalui kerja sama siaran dengan berbagai radio di kota dan kabupaten se-Jawa Barat, Radio Garuda berperan sebagai pusat produksi sekaligus penyalur konten. Dari studio inilah Sempal Guyon Parahyangan direkam, dikemas, lalu mengudara ke berbagai daerah, menjadikannya salah satu dongeng Sunda dengan jangkauan terluas pada masanya. Radio Garuda pun tak sekadar menjadi stasiun penyiaran, tetapi simpul penting dalam ekosistem radio dan pelestarian budaya Sunda melalui suara.

Meski telah lama berhenti mengudara, denyut Sempal Guyon Parahyangan tak pernah benar-benar padam. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam logat yang akrab, dalam humor yang jujur, serta dalam nilai-nilai kesundaan yang disampaikan tanpa menggurui. Di tengah perubahan zaman dan media, dongeng ini mengingatkan kita bahwa budaya akan selalu menemukan jalannya, selama masih ada yang mau mendengar, mengingat, dan menceritakannya kembali dengan hati.

Kini, ketika masa keemasan radio telah menjadi bagian dari sejarah, Sempal Guyon Parahyangan tetap tinggal di ingatan kolektif pendengarnya. Suara-suara tokohnya masih terngiang, menjadi penanda sebuah era ketika dongeng Sunda bukan hanya diceritakan, tetapi mengudara, menyapa, menghibur, dan menetap lama di hati. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)