Romantisme Mendengarkan Radio 'Sempal Guyon Parahyangan'

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Radio transistor jadul milik Kin Sanubary, yang dipakai mendengarkan Dongeng Sunda sejak era tahun 90-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Radio transistor jadul milik Kin Sanubary, yang dipakai mendengarkan Dongeng Sunda sejak era tahun 90-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Ada satu kenangan yang dulu hampir selalu hadir di sore hari, bagi Warga Bandung dan masyarakat Parahyangan yakni radio yang menyala, hampir dari setiap rumah. Dari balik suara kresek halus gelombang udara, terdengar sapaan khas berbahasa Sunda yang hangat dan akrab. Dari sanalah tawa bermula, petuah mengalir pelan, dan potret kehidupan orang Sunda hadir apa adanya sederhana, tapi lekat di ingatan.

Bagi warga Bandung, khususnya pada bulan Ramadhan, mendengarkan Dongeng Sunda Sempal Guyon Parahyangan juga lekat dengan tradisi ngabuburit. Menjelang azan Magrib, saat sore mulai meredup dan waktu berbuka kian dekat, radio kembali menjadi teman setia. Di teras rumah, di dapur sambil menyiapkan takjil, atau di ruang tamu bersama keluarga, suara dongeng itu mengalir menemani detik-detik menunggu buka puasa.

Tawa kecil dari celoteh Kundang dan kawan-kawan berpadu dengan aroma gorengan dan kolak, menciptakan suasana Ramadhan khas Bandung yang hangat, akrab, dan penuh nostalgia. Dalam momen itulah, Sempal Guyon Parahyangan bukan sekadar hiburan sore, melainkan bagian dari ritual kebersamaan yang memperkaya makna ngabuburit masyarakat Parahyangan.

Sempal Guyon Parahyangan bukan sekadar dongeng radio. Ia adalah ruang bersama, tempat kenangan dikumpulkan, dirawat, lalu diwariskan dari satu generasi pendengar ke generasi berikutnya.

 “Wilujeng tepang para mitra sadaya.

Patepang dangu deui sareng acara anu maneuh,

Sempal Guyon Parahyangan ”

Suara itu selalu datang lebih dulu, sebelum cerita dimulai. Bagi pendengar radio di Bandung dan Jawa Barat pada dekade 1980–1990-an, sapaan tersebut bukan cuma pembuka acara. Ia adalah penanda waktu sore, pemanggil kenangan, sekaligus pintu masuk ke dunia dongeng Sunda yang jenaka, hangat, dan penuh cermin kehidupan.

Melalui gelombang radio-radio swasta niaga, Sempal Guyon Parahyangan menjelma menjadi salah satu dongeng Sunda paling populer pada masanya. Diproduksi oleh Radio Garuda Bandung, acara ini disiarkan oleh berbagai radio di hampir seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat. Setiap sore, ia menemani masyarakat Parahyangan dengan kisah-kisah keluarga Sunda yang begitu dekat dengan keseharian pendengarnya.

Andi R Djauhari dan Tisna Suntara, juru dongeng Sempal Guyon Parahyangan yang legendaris. (Sumber: Istimewa)
Andi R Djauhari dan Tisna Suntara, juru dongeng Sempal Guyon Parahyangan yang legendaris. (Sumber: Istimewa)

Selain versi pembuka yang paling dikenal, pendengar juga akrab dengan sapaan lain yang tak kalah melekat yakni :

 “Wilujeng tepang paramitra sadaya,

patepang dangu deui sareng acara anu maneuh Dongeng Sunda Pasosore ti radio kameumeut balarea dina waktos sareng gelombang nu sami, wilujeng ngadangukeun ka paramitra di mana wae ayana.”

Kalimat-kalimat itulah yang selalu mengawali acara Dongeng Sunda Sempal Guyon Parahyangan, sekaligus menegaskan posisinya sebagai dongeng Sunda yang paling dikenal di zamannya.

Acara ini dihidupkan oleh tokoh-tokoh yang celotehnya begitu “nyunda”: Kundang, Mas Paijo, Pak Otong, Nyi Iting, Pak Kurdi, Mang Minta, Abah Jangkung, Oded, dan masih banyak lagi. Tema ceritanya sederhana, urusan rumah tangga, tetangga, salah paham kecil, hingga guyonan khas kampung, namun justru di situlah kekuatannya. Dekat, jujur, dan terasa nyata.

Setiap tokoh punya karakter dan warna suara yang berbeda. Tak sedikit pendengar yang kaget ketika tahu bahwa semua suara itu ternyata hanya dimainkan oleh dua orang yaitu Tisna Suntara dan Andi R. Djauhari. Lewat kepiawaian vokal dan penghayatan karakter, keduanya mampu menghadirkan dunia cerita yang hidup dan meyakinkan di telinga pendengar.

Disiarkan setiap sore hingga dikenal sebagai Dongeng Sunda Pasosore, popularitas acara ini dengan cepat mengangkat nama Tisna Suntara dan Andi R. Djauhari. Kehadirannya tak bisa dilepaskan dari konteks zamannya, ketika radio berada di masa keemasan, terutama di Bandung dan Jawa Barat. Saat itu, radio bukan sekadar hiburan, melainkan ruang budaya yang hidup dan akrab dengan pendengarnya.

Produksi Sempal Guyon Parahyangan juga tak bisa dipisahkan dari peran Radio Garuda Bandung. Di tengah persaingan radio swasta pada era Orde Baru, Radio Garuda dikenal konsisten memberi ruang bagi siaran berbahasa Sunda dan hiburan berbasis budaya lokal. Ketika banyak radio berlomba mengejar musik populer dan nuansa urban, Radio Garuda justru meneguhkan identitasnya lewat kearifan lokal.

Baca Juga: Menjelajahi Waktu di Antara Sunda dan Hindu

Melalui kerja sama siaran dengan berbagai radio di kota dan kabupaten se-Jawa Barat, Radio Garuda berperan sebagai pusat produksi sekaligus penyalur konten. Dari studio inilah Sempal Guyon Parahyangan direkam, dikemas, lalu mengudara ke berbagai daerah, menjadikannya salah satu dongeng Sunda dengan jangkauan terluas pada masanya. Radio Garuda pun tak sekadar menjadi stasiun penyiaran, tetapi simpul penting dalam ekosistem radio dan pelestarian budaya Sunda melalui suara.

Meski telah lama berhenti mengudara, denyut Sempal Guyon Parahyangan tak pernah benar-benar padam. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam logat yang akrab, dalam humor yang jujur, serta dalam nilai-nilai kesundaan yang disampaikan tanpa menggurui. Di tengah perubahan zaman dan media, dongeng ini mengingatkan kita bahwa budaya akan selalu menemukan jalannya, selama masih ada yang mau mendengar, mengingat, dan menceritakannya kembali dengan hati.

Kini, ketika masa keemasan radio telah menjadi bagian dari sejarah, Sempal Guyon Parahyangan tetap tinggal di ingatan kolektif pendengarnya. Suara-suara tokohnya masih terngiang, menjadi penanda sebuah era ketika dongeng Sunda bukan hanya diceritakan, tetapi mengudara, menyapa, menghibur, dan menetap lama di hati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)