Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Salsafira Farelya Natasha
Ditulis oleh Salsafira Farelya Natasha diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 17:35 WIB
Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)

Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)

Sejak tahun 2023 silam, banyak media dan masyarakat yang mengeluhkan tarif parkir liar yang tidak masuk akal di Kota Bandung. Pungutan parkir liar yang tersebar hampir di seluruh Kota Bandung ini seringkali melampaui batas wajar dari harga tarif normal, hal ini dapat mengganggu citra pariwisata, kenyamanan publik, melanggar hak konsumen, bahkan memperlihatkan buruknya pengawasan pemerintah.

Berdasarkan peraturan Walikota (Perwali) Kota Bandung Nomor 66 Tahun 2021 menyebutkan bahwa tarif zona parkir di kawasan pusat kota tarifnya berkisar antara Rp3.000,00 (tiga ribu rupiah) – Rp7.000,00 (tujuh ribu rupiah). Sedangkan untuk pinggir kota berkisar antara Rp2.000,00 (dua ribu rupiah) – Rp6.000,00 (enam ribu rupiah), tarif ini tergolong wajar dan tidak menyesakkan.

Meskipun peraturan mengenai tarif parkir resmi sudah ada, namun tetap banyak juru parkir liar yang menarifkan harga yang sangat tinggi di pusat kota terutama daerah wisata. Beberapa kasus menyebutkan bahwa tarif parkir liar ini memiliki variasi harga dari harga yang masih dalam batas wajar hingga harga yang selangit. Hal ini menciptakan ketidakpastian biaya parkir bagi masyarakat yang menggunakan lahan/jalanan umum untuk memarkirkan kendaraannya.

Berdasarkan pengalaman saya, untuk sepeda motor diberi tarif Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah), dan untuk mobil Rp30.0000,00 (tiga puluh ribu rupiah) saat akhir pekan di sekitaran Braga dan Asia Afrika. Bahkan, untuk sekedar mampir untuk makan di warung, mampir ke toko oleh-oleh atau minimarket sebentar saja, juru parkir liar sudah selalu setia menunggu di depan toko untuk menagih uang parkir yang entah berapa nominalnya.

Informasi tarif parkir normal di Jalan Braga (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)
Informasi tarif parkir normal di Jalan Braga (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)

Menurut beberapa komentar di Twitter, pada saat momen liburan (long-weekend), tarif parkir liar bisa mencapai hingga Rp150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah) - Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah). Tarif parkir liar ini tentunya sangat mencekik dan menguras dompet masyarakat sehingga banyak masyarakat yang mengeluhkan hal ini.

Walikota Bandung, M. Farhan seolah menutup mata dan mengabaikan praktik parkir liar ini karena sampai sekarang belum ada sanksi/hukuman tegas pada pelaku. Padahal, berdasarkan artikel dari Pikiran Rakyat yang diterbitkan 2 tahun yang lalu, Dishub bandung akan mencari dalang di balik tarif parkir mahal di jalan Asia Afrika, namun saat ini belum ada pembenahan. Keberadaan parkir liar ini terjadi secara terang-terangan diberbagai daerah Bandung dari tahun ke tahun.

Meskipun banyak sekali yang memberitakan penangkapan juru parkir liar, hingga saat ini parkir liar dengan tarif tinggi masih merajalela. Bahkan, di jalan Braga seringkali ada satpol PP yang berjaga namun juru parkir liar itu dibiarkan seolah tidak melanggar aturan. Meskipun razia sering dilakukan di beberapa titik, praktik ini selalu muncul kembali dalam waktu singkat. Hal ini membuktikan bahwa sanksi/hukuman yang diberikan tidak membuat pelaku jera.

Hal ini membuat pertanyaan muncul dibenak saya: Apakah penangkapan juru parkir liar ini hanya sekedar formalitas? Apakah tarif tinggi yang diberi oleh juru parkir itu sebagian di berikan pada oknum keamanan? Apakah pemerintah sebenarnya terlibat dalam proses pungutan tarif parkir liar ini?

Tarif parkir liar ini termasuk salah satu bentuk dari pungutan liar (pungli) yang melanggar aturan hukum. Walikota harusnya segera mengambil tindakan tegas sesuai aturan hukum yang berlaku bagi pelaku. Hal ini bertujuan agar juru parkir liar jera dan tidak mengulangi perbuatannya.

M. Farhan sebagai orang yang memiliki wewenang tertinggi di Kota Bandung seharusnya mengambil tindakan untuk mengintegrasikan pengelolaan parkir di kawasan rawan pungli. Beliau seharusnya merombak sistem pembayaran parkir dengan memasukkan teknologi masa kini didalamnya. Sistem pembayaran non-tunai adalah salah satu solusi untuk menghindari adanya pungutan liar yang dilakukan oleh juru parkir.

Baca Juga: Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Keterlibatan aparat dalam memberantas praktik pungli parkir perlu ditingkatkan lagi dengan adanya sanksi atau hukuman tegas yang dikoordinasikan oleh kepolisian, dishub , dan satpol PP. Pengecekan kartu juru parkir resmi juga perlu dicek secara berkala oleh aparat terutama di kawasan wisata dan pusat kota.

Edukasi masyarakat juga diperlukan agar mereka berani menolak tarif parkir yang harganya sudah diluar nalar dan membuat dompet kering. Masyarakat juga harus mengetahui bahwa mereka memiliki hak untuk mendapatkan karcis parkir resmi dan hak perlindungan dari pemerintah jika terjadi keributan akibat menolak membayar parkir liar.

Apabila M. Farhan ingin mewujudkan visinya yaitu menjadikan Kota Bandung sebagai kota wisata yang ramah dan unggul, maka praktik parkir liar ini perlu diberantas sampai ke akarnya. Bagaimana Kota Bandung bisa menjadi ramah dan unggul apabila banyak masyarakat yang merasa tercekik oleh tarif parkir yang tidak sesuai dan membuat pengalaman buruk bagi orang yang berkunjung? (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salsafira Farelya Natasha
Student majoring in Digital Public Relations at Telkom University

Berita Terkait

News Update

Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 02 Feb 2026, 17:06 WIB

Mojang Bandung Merumput: Geliat Akar Rumput dan Investasi Masa Depan di Kota Sepak Bola

Lapangan hijau Kota Bandung tak lagi hanya didominasi oleh anak laki-laki, melainkan riuh dengan langkah kaki mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia.
Mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia lewat kemeriahan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bandung Seri 2 2025 - 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 02 Feb 2026, 15:58 WIB

Geliat Bisnis Perlengkapan Anak, Mengupas Strategi IMOBY Bandung Menangkap Ledakan Pasar Millennial Parents

Sektor perlengkapan ibu dan anak di Indonesia menunjukkan daya tahan dan pertumbuhan yang sangat progresif. Fenomena ini sejatinya berakar pada data demografis yang solid.
Ribuan orang tua rela mengantre demi mendapatkan kurasi produk terbaik bagi buah hati, mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih mengutamakan kualitas. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Jelajah 02 Feb 2026, 15:24 WIB

Hikayat Toko De Vries, Cikal Bakal Toserba di Bandung

Berlokasi di bekas Societeit Concordia, Toko De Vries menjadi motor tumbuhnya Braga sebagai pusat belanja dan jalan jalan kolonial.
Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)