Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)

Menjelang 17 Agustus 2026 ini, situasi negara kita saat ini semakin carut-marut. Namun, saya ingin sekali berbagi tulisan mengenai hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung. Hal-hal ini diharapkan dapat sedikit memantik kita para pembaca untuk tetap teguh dan mengisi kemerdekaan ini dengan kejujuran dan teladan yang baik yang semakin langka di negeri ini. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber, baik itu lisan maupun tulisan yang saya rangkum menjadi satu kesatuan.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 pagi hari sekitar pukul 09.00, setelah mendengar desas-desus berita tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu, lima orang pemuda Kota Bandung yang merupakan inti barisan pelopor mengadakan pertemuan di rumah Ir. R. Ukar Bratakusumah, di Jalan Merdeka, tidak jauh dari Balai Kota Bandung (sekarang menjadi sebuah pertokoan di Jalan Merdeka).

Kelima orang itu adalah R. Ema Bratakusumah, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Dr. R. Junjunan Setiakusumah, Duyeh Suharsa dan Anwar Sutan Pamuncak. Mereka secara diam-diam berkumpul dan membicarakan situasi dunia pada umumnya dan situasi Kota Bandung pada khususnya. Setelah berita kekalahan Jepang mulai terdengar, lalu sikap kita sebagai bangsa Indonesia ini harus bagaimana? Dan kelima tokoh itu membahasnya hingga tengah malam.

Hasil pertemuan yang dilakukan oleh kelima tokoh pentolan kota Bandung itu adalah membentuk panitia dengan segera untuk mengumumkan kemerdekaan negeri ini dengan berkoordinasi dengan para pemuda dan pergerakan lainnya di kota-kota besar. Salah satu dari kelima tokoh itu pun mengatakan bahwa di Bandung pasti akan terjadi suatu kekacauan yang ditakutkan kaos dan terjadi penjarahan juga perampokan di mana-mana.

Mereka berlima akan meminta kepada wali Kota Bandung pada saat itu adalah R.A. Atmadinata supaya menyerahkan kekuasaan kepada para panitia tersebut di atas. Apabila kekuasaan tersebut diserahkan kepada panitia maka rencananya akan diketuai oleh R. Ema Bratakusuma. Lalu, Duyeh Suharsa dan Anwar Sutan Pamuncak ditunjukkan sebagai utusan menghadap wali Kota Bandung dan menyampaikan kehendak panitia, mumpung rakyat masih kondusif karena belum mengetahui kekalahan telak Jepang. (Informasi ini diperoleh dari sebuah buku keluaran Pemkot Bandung tahun 1981 yang memuat informasi lisan hasil wawancara pada tanggal 8 Februari 1980 bersama Bapak R. Ema Bratakusuma di rumah pribadinya di Jalan Stiabudi No. 24 (sebuah rumah indah yang tidak jauh dari kawasan Hegarmanah, sayang sekarang telah dirubuhkan dan menjadi restoran Jepang).

Ternyata sang wali Kota Bandung masa pendudukan Jepang tersebut tidak menyetujui niat para pemuda panitia tersebut, dengan alasan belum ada perintah langsung dari pemerintah Jepang secara resmi. Lalu utusan panitia itu pun tidak patah arang, mereka pun menjelaskan bahwa Jepang telah kalah telak di tangan Sekutu dan ini adalah kesempatan kita untuk bergabung dengan para panitia lainnya di kota-kota besar untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Sebetulnya para pemuda yang tergabung dalam panitia itu ingin memperlihatkan darma baktinya kepada negara bukan ingin merebut kekuasaan, namun pendirian wali Kota Bandung saat itu tidak berubah, bahkan ia tetap tidak bergeming. Dan benar saja tidak lama setelah itu berita kekalahan Jepang telah terdengar di mana-mana, dan pergolakan di berbagai daerah di negeri ini termasuk Bandung tak terelakkan.

Sementara itu berita kekalahan Jepang telah diketahui oleh para perwira PETA di tanah Priangan, baik melihat perhitungan secara militer ataupun melihat arah perkembangan politik saat itu, maklumlah di tahun 1945 informasi masih sebatas radio dan surat kabar saja. Dan para perwira PETA ini akan menentukan sikapnya terkait kekalahan Jepang tersebut.

Untuk mempersiapkan segala sesuatunya di kalangan Perwira PETA terdapat pemikiran dan rencana melalui pendidikan kepada warga masyarakat di Priangan dalam rangka membentuk kekuatan bersenjata. Kepada siswa-siswa sekolah menengah atas diberikan latihan-latihan kemiliteran. Kurang dari 1000 orang siswa dan pemuda diasramakan di Daidan III yang berada di Sukajadi.

Latihan-latihan yang diberikan kepada para pemuda adalah keterampilan olahraga, menggunakan senjata, baris-berbaris dan kedisiplinan. Di samping itu digembleng juga tentang nasionalisme dan patriotisme, dan kesemuanya ini masih diawasi oleh para perwira militer Jepang, namun mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa, mereka telah mengetahui kekalahan negerinya, hingga mereka pun hanya melihat dari kejauhan tanpa berkata-kata ataupun melakukan kekerasan, terutama ketika mereka telah mendengarkan bom atom telah dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, mereka para perwira dan prajurit Jepang hanya berdiam diri tidak banyak berbicara, bahkan mengizinkan para pemuda-pemuda di Daida III Sukajadi itu untuk berlatih menggunakan senjata mereka.

Ada hal yang jarang diketahui oleh khalayak, pada tanggal 13 Agustus 1945, para prajurit Jepang sempat berperilaku aneh di Daidan III Sukajadi itu. Mereka mengatakan senjata semuanya harus diserahkan karena akan diganti, dirasa janggal oleh beberapa anggota PETA Kota Bandung, mereka sempat kabur dan membawa senjata-senjata mereka dan menyembunyikannya di rumah sodancho Sukanda Bratamanggala yang berada di Jalan Nyland No. 86A (sekarang Cipaganti No. 86A).

Nantinya senjata-senjata ini akan dipakai oleh para tentara pelajar yang tergabung dalam TKR Bandung Utara dalam menggempur Sekutu dan bermarkas di Vila Isola, sebagian dari senjata-senjata penuh sejarah tersebut kini terpajang rapi di Museum Pendidikan Indonesia, dan makam para pemuda yang tewas dalam pertempuran sengit dalam masa agresi tersebut terdapat di Lembang, di makam monumental Oto Iskandar Dinata, lalu monumen untuk mengenang jasa para pelajar tersebut didirikan di pintu gerbang Universitas Pendidikan Indonesia sebelah utara (dekat Terminal Ledeng), monumen itu pun menuliskan dengan lengkap nama-nama korban dari perang masa bersiap di utara Bandung tersebut. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)