Menjelang 17 Agustus 2026 ini, situasi negara kita saat ini semakin carut-marut. Namun, saya ingin sekali berbagi tulisan mengenai hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung. Hal-hal ini diharapkan dapat sedikit memantik kita para pembaca untuk tetap teguh dan mengisi kemerdekaan ini dengan kejujuran dan teladan yang baik yang semakin langka di negeri ini. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber, baik itu lisan maupun tulisan yang saya rangkum menjadi satu kesatuan.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 pagi hari sekitar pukul 09.00, setelah mendengar desas-desus berita tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu, lima orang pemuda Kota Bandung yang merupakan inti barisan pelopor mengadakan pertemuan di rumah Ir. R. Ukar Bratakusumah, di Jalan Merdeka, tidak jauh dari Balai Kota Bandung (sekarang menjadi sebuah pertokoan di Jalan Merdeka).
Kelima orang itu adalah R. Ema Bratakusumah, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Dr. R. Junjunan Setiakusumah, Duyeh Suharsa dan Anwar Sutan Pamuncak. Mereka secara diam-diam berkumpul dan membicarakan situasi dunia pada umumnya dan situasi Kota Bandung pada khususnya. Setelah berita kekalahan Jepang mulai terdengar, lalu sikap kita sebagai bangsa Indonesia ini harus bagaimana? Dan kelima tokoh itu membahasnya hingga tengah malam.
Hasil pertemuan yang dilakukan oleh kelima tokoh pentolan kota Bandung itu adalah membentuk panitia dengan segera untuk mengumumkan kemerdekaan negeri ini dengan berkoordinasi dengan para pemuda dan pergerakan lainnya di kota-kota besar. Salah satu dari kelima tokoh itu pun mengatakan bahwa di Bandung pasti akan terjadi suatu kekacauan yang ditakutkan kaos dan terjadi penjarahan juga perampokan di mana-mana.
Mereka berlima akan meminta kepada wali Kota Bandung pada saat itu adalah R.A. Atmadinata supaya menyerahkan kekuasaan kepada para panitia tersebut di atas. Apabila kekuasaan tersebut diserahkan kepada panitia maka rencananya akan diketuai oleh R. Ema Bratakusuma. Lalu, Duyeh Suharsa dan Anwar Sutan Pamuncak ditunjukkan sebagai utusan menghadap wali Kota Bandung dan menyampaikan kehendak panitia, mumpung rakyat masih kondusif karena belum mengetahui kekalahan telak Jepang. (Informasi ini diperoleh dari sebuah buku keluaran Pemkot Bandung tahun 1981 yang memuat informasi lisan hasil wawancara pada tanggal 8 Februari 1980 bersama Bapak R. Ema Bratakusuma di rumah pribadinya di Jalan Stiabudi No. 24 (sebuah rumah indah yang tidak jauh dari kawasan Hegarmanah, sayang sekarang telah dirubuhkan dan menjadi restoran Jepang).
Ternyata sang wali Kota Bandung masa pendudukan Jepang tersebut tidak menyetujui niat para pemuda panitia tersebut, dengan alasan belum ada perintah langsung dari pemerintah Jepang secara resmi. Lalu utusan panitia itu pun tidak patah arang, mereka pun menjelaskan bahwa Jepang telah kalah telak di tangan Sekutu dan ini adalah kesempatan kita untuk bergabung dengan para panitia lainnya di kota-kota besar untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Sebetulnya para pemuda yang tergabung dalam panitia itu ingin memperlihatkan darma baktinya kepada negara bukan ingin merebut kekuasaan, namun pendirian wali Kota Bandung saat itu tidak berubah, bahkan ia tetap tidak bergeming. Dan benar saja tidak lama setelah itu berita kekalahan Jepang telah terdengar di mana-mana, dan pergolakan di berbagai daerah di negeri ini termasuk Bandung tak terelakkan.
Sementara itu berita kekalahan Jepang telah diketahui oleh para perwira PETA di tanah Priangan, baik melihat perhitungan secara militer ataupun melihat arah perkembangan politik saat itu, maklumlah di tahun 1945 informasi masih sebatas radio dan surat kabar saja. Dan para perwira PETA ini akan menentukan sikapnya terkait kekalahan Jepang tersebut.
Untuk mempersiapkan segala sesuatunya di kalangan Perwira PETA terdapat pemikiran dan rencana melalui pendidikan kepada warga masyarakat di Priangan dalam rangka membentuk kekuatan bersenjata. Kepada siswa-siswa sekolah menengah atas diberikan latihan-latihan kemiliteran. Kurang dari 1000 orang siswa dan pemuda diasramakan di Daidan III yang berada di Sukajadi.
Latihan-latihan yang diberikan kepada para pemuda adalah keterampilan olahraga, menggunakan senjata, baris-berbaris dan kedisiplinan. Di samping itu digembleng juga tentang nasionalisme dan patriotisme, dan kesemuanya ini masih diawasi oleh para perwira militer Jepang, namun mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa, mereka telah mengetahui kekalahan negerinya, hingga mereka pun hanya melihat dari kejauhan tanpa berkata-kata ataupun melakukan kekerasan, terutama ketika mereka telah mendengarkan bom atom telah dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, mereka para perwira dan prajurit Jepang hanya berdiam diri tidak banyak berbicara, bahkan mengizinkan para pemuda-pemuda di Daida III Sukajadi itu untuk berlatih menggunakan senjata mereka.

Ada hal yang jarang diketahui oleh khalayak, pada tanggal 13 Agustus 1945, para prajurit Jepang sempat berperilaku aneh di Daidan III Sukajadi itu. Mereka mengatakan senjata semuanya harus diserahkan karena akan diganti, dirasa janggal oleh beberapa anggota PETA Kota Bandung, mereka sempat kabur dan membawa senjata-senjata mereka dan menyembunyikannya di rumah sodancho Sukanda Bratamanggala yang berada di Jalan Nyland No. 86A (sekarang Cipaganti No. 86A).
Nantinya senjata-senjata ini akan dipakai oleh para tentara pelajar yang tergabung dalam TKR Bandung Utara dalam menggempur Sekutu dan bermarkas di Vila Isola, sebagian dari senjata-senjata penuh sejarah tersebut kini terpajang rapi di Museum Pendidikan Indonesia, dan makam para pemuda yang tewas dalam pertempuran sengit dalam masa agresi tersebut terdapat di Lembang, di makam monumental Oto Iskandar Dinata, lalu monumen untuk mengenang jasa para pelajar tersebut didirikan di pintu gerbang Universitas Pendidikan Indonesia sebelah utara (dekat Terminal Ledeng), monumen itu pun menuliskan dengan lengkap nama-nama korban dari perang masa bersiap di utara Bandung tersebut. (*)