Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

HANYA Rp7.000. Begitulah angka tarif yang segera menempel pada Angkot Listrik Bandung Utama, saat nanti setelah diluncurkan. Tarif itu terlihat simpel, dan mungkin juga cukup terjangkau. Tinggal nyetop, lalu naik angkot. Duduk cantik.  Dan bayar Rp7.000, lantas turun. 

Selama puluhan tahun, ekonomi angkot Bandung bertumpu pada pemandangan yang sangat sederhana, yakni angkot berseliweran,  penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Pemandangan seperti itu memang punya fleksibilitas, tetapi juga menghasilkan konsekuensi yang sudah akrab di jalan: rebutan penumpang, waktu tunggu tidak pasti dan kendaraan yang berhenti di tempat yang sebenarnya tidak ideal. Belum lagi risiko kecopetan.

Nah, Angkot Listrik Bandung Utama mencoba memutus sebagian rantai itu. Kabarnya, lewat model tata kelola angkot baru, pengemudi angkot lama tetap dipertahankan, tetapi pola kerjanya diarahkan menuju sistem penggajian. Artinya, pendapatan pengemudi tidak lagi secara langsung bergantung pada berapa banyak penumpang yang berhasil dikumpulkan hari itu. Secara ekonomi, ini perubahan yang lebih penting daripada melengkapi angkot dengan AC atau Wi-Fi. 

Mengapa ini penting? Karena kualitas transportasi publik pada dasarnya adalah persoalan insentif. Kalau pendapatan pengemudi bergantung pada jumlah penumpang yang didapat sendiri, perilaku mengejar penumpang menjadi rasional dari sudut pandang individu. Tetapi, yang rasional bagi pengemudi belum tentu efisien bagi jaringan transportasi.

Bagaimana tarif yang Rp7.000 itu? Tarif ini harus dilihat sebagai harga yang dibayar penumpang, bukan biaya sebenarnya untuk menyediakan perjalanan. Biaya sebenarnya so pasti terdiri dari banyak komponen. Kendaraan harus dibeli. Baterai harus dirawat dan suatu saat diganti. Listrik harus dibayar. SPKLU perlu dibangun dan dioperasikan. Ban, rem, suspensi, AC dan komponen elektronik tetap membutuhkan perawatan. Pengemudi harus menerima upah. Kendaraan juga mengalami depresiasi setiap hari.

Sopir angkot sedang menunggu penumpang di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Rabu 22 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sopir angkot sedang menunggu penumpang di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Rabu 22 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Karena itu, pertanyaan ekonomi yang lebih menarik bukan apakah Rp7.000 cukup atau tidak untuk operasional angkot, melainkan berapa biaya perjalanan per penumpang, dan berapa bagian yang ditutup oleh tarif. Selisihnya, kalau ada, harus berasal dari mana, apakah dari efisiensi operasional, dari volume penumpang, dari kontribusi pemerintah, atau dari model bisnis lain dalam ekosistem transportasi?

Ada pula alasan untuk tidak langsung menganggap angkot listrik pasti lebih mahal sepanjang hidupnya. Sebuah penelitian 2026 mengenai kendaraan listrik di Indonesia menemukan bahwa banyak model kendaraan listrik sudah kompetitif dari sisi total cost of ownership, meskipun hasilnya sensitif terhadap harga baterai dan jarak tempuh tahunan. 

Artinya, kendaraan listrik memang dapat menghemat biaya tertentu, tetapi keuntungan ekonominya sangat bergantung pada bagaimana kendaraan itu digunakan.

Kasus angkot Bandung kiranya bisa memberi ilustrasi yang menarik. Dalam uji coba Kopamas, angkot konvensional yang menempuh sekitar 180–200 kilometer per hari disebut membutuhkan bahan bakar sekitar Rp150.000–Rp170.000. Adapun kendaraan listrik yang diuji menggunakan sekitar 50 kWh untuk sekali pengisian, dengan asumsi tarif listrik sekitar Rp1.700 per kWh, biaya energinya berada di bawah Rp50.000. Ini menunjukkan ruang penghematan energi yang cukup besar. Tetapi, jangan berhenti di sini. Penghematan listrik bukan otomatis berarti penghematan total biaya.

Kenapa? Sebab, kendaraan listrik membawa struktur biaya yang berbeda. Mesin pembakaran mempunyai banyak komponen mekanis yang memerlukan perawatan. Kendaraan listrik relatif lebih sederhana pada bagian penggeraknya. Tetapi, baterai menjadi komponen strategis. Ia bukan sekadar “tangki listrik”. Umurnya dipengaruhi oleh pola pengisian, temperatur, kedalaman siklus, dan intensitas pemakaian. 

Dalam armada yang berjalan setiap hari, biaya degradasi baterai harus masuk ke kalkulasi sejak awal, bukan baru dipikirkan ketika baterai mulai menurun performanya.

Di situlah total cost of ownership menjadi lebih penting daripada harga beli. Misalnya, sebuah kendaraan listrik lebih mahal ketika dibeli, tetapi menghabiskan lebih sedikit energi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan selama bertahun-tahun. Secara ekonomi, perbandingan harus dilakukan sepanjang umur kendaraan. Studi tentang armada bus listrik, misalnya, menunjukkan bahwa degradasi baterai dan strategi pengisian dapat memengaruhi biaya operasi secara signifikan.

Namun demikian, ada satu variabel yang sering lebih menentukan daripada teknologi, yakni okupansi. Angkot dengan 12 kursi yang berangkat dalam keadaan separuh kosong adalah persoalan ekonomi yang berbeda dari kendaraan yang hampir selalu penuh. Biaya listrik per kilometer mungkin murah, tetapi kalau hanya sedikit orang yang membayar Rp7.000, bisa dibayangkan biaya per penumpang tetap tinggi. Sebaliknya, kendaraan yang selalu terisi penuh dapat membuat biaya perjalanan per penumpang turun.

Karena itu, sebagai feeder bus raya terpadu (BRT) tidak boleh dinilai hanya dari berapa banyak angkot listrik yang nantinya berhasil dijalankan. Ukurannya adalah apakah ia berhasil membawa penumpang dari rumah dan kawasan permukiman menuju jaringan utama dengan waktu tunggu yang masuk akal. Angkot feeder pada dasarnya bukan pesaing BRT. Ia adalah tangan dan kaki BRT. Kalau sambungannya buruk, seluruh jaringan ikut kehilangan daya tarik.

BRT sendiri sudah berjalan melalui Metro Jabar Trans sejak 1 Agustus 2026, sementara Pemkot Bandung telah menganggarkan Rp56 miliar untuk PSO BRT, meski mekanisme kontribusi antardaerah masih dimatangkan. Fakta ini memperlihatkan sesuatu yang penting bahwa transportasi publik modern memang hampir selalu membutuhkan model pembiayaan yang lebih kompleks daripada sekadar mengandalkan tiket penumpang.

Maka, ongkos Rp7.000 sebetulnya bukan angka yang berdiri sendiri. Ia bagian dari fare policy. Jika tarif dibuat terjangkau untuk menjaga akses publik, maka pemerintah harus mengetahui dengan transparan berapa biaya layanan dan berapa kebutuhan dukungannya. Di sinilah subsidi atau PSO bukan kata kotor. Yang penting bukan ada atau tidak ada dukungan pemerintah, melainkan apakah dukungan itu dihitung berdasarkan layanan yang benar-benar diberikan dan dapat diaudit.

Justru karena itu, langkah digitalisasi menjadi penting. Pembayaran nontunai bukan hanya menggantikan uang tunai dengan QR. Jika seluruh transaksi tercatat, operator dapat mengetahui jumlah perjalanan, waktu ramai, tingkat okupansi dan pola permintaan. Data itu bisa digunakan untuk mengatur jadwal, jumlah kendaraan, pengemudi dan kebutuhan pengisian baterai. Angkot yang selama ini terasa sebagai bisnis jalanan perlahan bisa berubah menjadi layanan yang datanya dapat dihitung.

Dan jika data perjalanan, pembayaran, energi, perawatan kendaraan dan kinerja armada dapat terintegrasi dengan tata kelola yang baik, maka dapat diketahui berapa biaya satu kilometer, berapa biaya satu penumpang, berapa konsumsi energi, berapa tingkat okupansi, berapa produktivitas pengemudi, dan berapa kebutuhan subsidi per perjalanan. 

Dengan data yang terintegrasi, setiap rupiah subsidi dapat ditelusuri kembali ke biaya dan layanan yang dihasilkannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)