Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)

Pertandingan Persib Bandung versus FC Seoul, Korea Selatan pertengahan September 2026 ini, di Seoul World Cup Stadium tidak saja menjadi pengalaman berharga dari sisi kompetisi sepak bola, tetapi memberikan banyak inspirasi tentang bagaimana sebuah klub profesional membangun ekosistem pertandingan yang nyaman, aman, dan berkelas dunia. Stadion yang digunakan FC Seoul menunjukkan bahwa sepak bola modern selain berbicara tentang kualitas permainan di lapangan tetapi juga tentang pengalaman para penonton yang datang untuk menikmati pertandingan dengan indah secara bersama-sama.

Saat menyaksikan atmosfer pertandingan di Seoul, banyak penyuka sepak bola Indonesia, khususnya bobotoh, membayangkan betapa manisnya jika Persib Bandung suatu hari nanti memiliki stadion dengan standar yang setara Seoul World Cup Stadium. Stadion tersebut termasuk salah satu stadion terbaik di Asia. Infrastruktur yang tertata rapi, akses transportasi yang mudah, kursi yang nyaman, area makanan yang bersih, hingga sistem keamanan yang profesional menjadi bagian dari pengalaman menonton yang menyenangkan.

Penonton dapat datang lebih awal, menikmati suasana stadion, berbincang dengan teman-teman, mencicipi jajanan, lalu menyaksikan pertandingan tanpa rasa khawatir. Sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia dengan basis suporter yang sangat besar, Persib layak memiliki stadion yang akan menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat sekaligus ikon sepak bola nasional. Stadion tersebut bukan hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga pusat aktivitas olahraga, hiburan, dan wisata yang hidup sepanjang tahun.

Namun, kemegahan stadion saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah budaya menonton yang tumbuh di dalamnya. Salah satu hal yang patut diapresiasi dari banyak stadion modern di dunia adalah tingginya kesadaran penonton untuk menjaga kenyamanan bersama. Mereka datang untuk mendukung tim kesayangan, bukan untuk menciptakan keributan atau mengganggu orang lain.

Di Indonesia, termasuk dalam beberapa pertandingan sepak bola, masih ditemukan perilaku yang perlu diperbaiki. Lemparan botol ke lapangan, tindakan menghina pemain atau suporter lawan, hingga munculnya ujaran yang mengandung unsur rasisme masih sesekali terjadi. Padahal tindakan-tindakan tersebut tidak memberikan manfaat apa pun bagi tim yang didukung. Sebaliknya, perilaku seperti itu justru merugikan klub karena dapat mengakibatkan sanksi, denda, bahkan larangan penonton pada pertandingan tertentu.

Sudah saatnya sepak bola Indonesia memasuki era baru, di mana stadion menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi semua orang. Anak-anak, perempuan, lansia, maupun keluarga harus dapat datang ke stadion tanpa rasa takut. Mereka harus bisa menikmati pertandingan dengan tenang, merasakan atmosfer dukungan yang luar biasa, dan pulang membawa kenangan yang menyenangkan.

Budaya saling menghormati juga perlu menjadi bagian dari identitas baru sepak bola Indonesia. Rivalitas dalam olahraga adalah sesuatu yang wajar dan bahkan membuat pertandingan menjadi lebih menarik. Namun rivalitas tidak boleh berubah menjadi kebencian. Menghormati lawan, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk rasisme merupakan tanda kedewasaan sebuah komunitas suporter.

Stadion Si Jalak Harupat di Soreang yang jadi markas Persib Bandung dan Persikab. (Sumber: Pemkab Bandung)
Stadion Si Jalak Harupat di Soreang yang jadi markas Persib Bandung dan Persikab. (Sumber: Pemkab Bandung)

Persib Bandung memiliki sejarah panjang dan basis pendukung yang terkenal loyal. Bobotoh selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki klub. Dengan jumlah yang sangat besar, Bobotoh sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi contoh positif bagi perkembangan budaya sepak bola nasional. Dukungan yang kreatif, koreografi yang menarik, nyanyian yang membangkitkan semangat, serta sikap yang tertib dapat menciptakan citra positif yang membanggakan.

Bayangkan suatu hari Persib memiliki stadion modern berstandar internasional. Penonton datang melalui sistem transportasi yang terintegrasi. Tiket dibeli secara digital sehingga proses masuk stadion berlangsung cepat dan tertib. Area stadion dipenuhi ruang publik yang nyaman. Tersedia toko resmi klub, museum Persib, area bermain anak, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Sebelum pertandingan dimulai, para suporter dapat menikmati secangkir bajigur atau bandrek hangat sambil berbincang mengenai peluang tim kesayangan mereka. Berbagai pilihan makanan ringan tersedia dengan penyajian yang praktis dan ramah lingkungan.

Ketika pertandingan berlangsung, seluruh perhatian tertuju pada aksi para pemain di lapangan. Tidak ada lemparan botol. Tidak ada tindakan provokatif. Tidak ada penghinaan terhadap pemain, wasit, maupun suporter lawan. Tidak ada ujaran rasis yang mencederai nilai-nilai olahraga. Yang terdengar hanyalah dukungan penuh semangat dan sportifitas tinggi. Suasana seperti ini bukan sesuatu yang mustahil. banyak negara telah membuktikan bahwa budaya menonton yang positif dapat dibangun melalui pendidikan empati, keteladanan, regulasi yang tegas, serta kerja sama antara klub, suporter, operator liga, dan pemerintah.

Perubahan memang tidak dapat terjadi dalam semalam. Dibutuhkan proses yang panjang dan konsisten. Namun setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil. Mengurangi perilaku negatif di stadion, menjaga kebersihan, menghormati lawan, serta mendukung tim dengan cara yang positif dan belajar berempati adalah bagian penting dari proses tersebut.

Pengalaman bermain di kandang FC Seoul perlu menjadi inspirasi, bukan sekadar kenangan. Inspirasi bahwa sepak bola dapat dinikmati dalam suasana yang aman, nyaman, dan berkelas dunia. Inspirasi bahwa stadion bukan hanya tempat pertandingan, tetapi juga tempat berkumpulnya masyarakat untuk merayakan kecintaan terhadap olahraga. Harapan terbesar tentu adalah melihat Persib Bandung suatu hari memiliki stadion yang tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga dipenuhi oleh budaya suporter yang matang dan membanggakan.

Jika impian itu dapat diwujudkan, maka Persib Bandung tidak hanya akan dikenal sebagai klub besar karena prestasinya di lapangan, tetapi juga sebagai simbol kemajuan sepak bola Indonesia yang modern dan berkelas dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)