Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

7 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)

PENGGUNAAN sistem pemilihan elektronik atau e-voting dinilai dapat memperkuat transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam pelaksanaan demokrasi di tingkat desa.

Hal tersebut disampaikan Komisi I DPRD Jabar saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Desa Wanasari, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Rabu (2/9/2026) silam. 

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari evaluasi dan koordinasi dengan mitra kerja mengenai kesiapan pelaksanaan Pilkades serentak, termasuk persiapan menghadapi peralihan dari sistem pemilihan konvensional menuju sistem digital.

Tahun ini, ada 566 desa di Jawa Barat bersiap menjadi peserta Pilkades. Di Bekasi, ada 154 desa dan Pilkades dijadwalkan pada 20 September, Cianjur 47 desa pada 18 Oktober, Sumedang 93 desa pada 28 Oktober, Karawang 67 desa pada 22 November, Subang 165 desa pada 6 Desember, dan Ciamis 40 desa pada 13 Desember. 

Masuk akal

Dorongan ke arah penggunaan sistem pemilihan elektronik atau e-voting memang masuk akal. E-voting menjanjikan proses yang lebih cepat, mengurangi penggunaan kertas, memudahkan rekapitulasi dan, dengan desain yang tepat, dapat mempersempit sejumlah ruang kesalahan manusia.

Pada sistem pemilihan secara konvensional, kelemahan umumnya sangat manusiawi. Misal, surat suara dapat rusak, salah coblos, tertukar atau bahkan dimanipulasi. Penghitungan juga bisa keliru. 

Tetapi, ada satu kelebihan besar yakni prosesnya relatif kasatmata. Pemilih melihat surat suara. Saksi melihat kotak suara. Panitia menghitung. Orang dapat menyaksikan berapa surat suara yang masuk dan bagaimana suara dihitung. 

E-voting mengubah karakter persoalan itu. Ketika seorang pemilih menekan layar, apa yang sesungguhnya terjadi setelah itu yakni suaranya diterjemahkan menjadi data, diproses perangkat lunak, disimpan dalam sistem, mungkin dienkripsi, kemudian dihitung oleh mekanisme elektronik. 

Sebagian besar proses tersebut tidak terlihat oleh mata. Pemilih hanya melihat input dan output. Bagian yang paling menentukan justru berlangsung di tengah-tengahnya.

Keamanan elektronik

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan. Ini penting karena keamanan elektronik tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa data telah dienkripsi. 

Enkripsi melindungi data dari akses tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perangkat lunaknya menghitung suara secara benar, bahwa konfigurasi sistem tidak berubah, atau bahwa setiap suara tercatat sebagaimana kehendak pemilih.

Dengan kata lain, aman belum tentu dapat diaudit. Sistem bisa saja memiliki pengamanan berlapis, tetapi publik tetap membutuhkan mekanisme untuk mengetahui apakah hasil akhirnya sesuai dengan suara yang diberikan. 

Maka. desain e-voting menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar menyediakan tablet dan jaringan. Demokrasi membutuhkan bukan hanya cybersecurity, tetapi juga verifiability.

Ketergantungan baru

Teknologi dibuat untuk mengurangi ketergantungan pada manusia, tetapi pada saat yang sama menciptakan ketergantungan baru kepada manusia yang merancang dan mengelola teknologi. 

Dalam sistem pemilihan secara manual, orang mungkin bisa curiga kepada panitia TPS. Dalam sistem digital, lingkaran kepercayaan menjadi lebih panjang, mulai dari panitia, operator, administrator, pembuat perangkat lunak, pengelola jaringan, penyedia perangkat dan mereka yang memiliki akses terhadap sistem.

Ini bukan berarti e-voting pasti lebih buruk daripada pencoblosan manual. Kesimpulan seperti itu juga terlalu sederhana. Teknologi justru dapat mengurangi sejumlah risiko yang muncul dalam sistem konvensional. Rekapitulasi bisa lebih cepat dan kesalahan penghitungan manual dapat ditekan. 

Jejak digital juga, bila dirancang dengan benar, dapat membantu pemeriksaan. Masalahnya bukan memilih antara teknologi dan manusia seolah-olah salah satunya pasti bersih. Masalahnya adalah bagaimana membuat teknologi dapat diperiksa manusia.

Karena itu, transparansi e-voting seharusnya tidak berhenti pada persoalan apakah sistem menggunakan enkripsi, jaringan tertutup atau autentikasi, melainkan pula pada siapa yang boleh mengaudit sistem, kapan audit dilakukan, apa yang dapat diperiksa, dan apakah hasil pemeriksaan bisa dijelaskan kepada publik dengan bahasa yang dapat dipahami. 

Meminta rakyat percaya

Sistem demokrasi tidak boleh meminta rakyat percaya hanya karena sebuah perangkat disebut “aman”.

Persoalan lain terkait dengan waktu sebelum pemilih menyentuh layar, yakni data pemilih, juga tidak boleh diabaikan. Sistem digital tidak menghapus masalah daftar pemilih. Ia justru membuat kualitas data semakin penting. 

Jika seseorang tidak tercatat, atau tercatat dua kali, atau juga data identitasnya tidak sesuai, secanggih apa pun perangkat pemungutan suara tidak akan memperbaiki masalah tersebut. Teknologi pada dasarnya hanya mempercepat proses yang sudah ada. Jika input-nya bermasalah, hasil digitalnya pun dapat bermasalah.

Karena itu, perdebatan tentang Pilkades digital sebaiknya tidak terlalu sibuk pada jenis tablet, jumlah TPS atau kecanggihan perangkatnya. Yang lebih penting adalah rantai kepercayaan dari daftar pemilih sampai hasil akhir. 

Itu berarti publik harus mengatahui siapa yang memverifikasi pemilih, bagaimana satu orang dipastikan hanya memberikan satu suara, bagaimana suara tersebut dicatat tanpa dapat diubah,  bagaimana perubahan atau gangguan sistem dideteksi, bagaimana hasil akhir dapat diperiksa ulang.

Teknologi yang seragam

Ada pula persoalan yang lebih membumi, yaitu desa tidak hidup dalam kondisi teknologi yang seragam. Ada desa yang jaringan internetnya bagus, listriknya stabil dan warganya akrab dengan teknologi. Ada pula wilayah desa yang konektivitasnya terbatas dan sebagian pemilihnya mungkin tidak terbiasa berhadapan dengan layar digital untuk urusan yang sangat menentukan. 

Karakter lokal seperti itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan transformasi digital. Sistem yang baik justru harus mampu mengantisipasi kondisi ketika teknologi tidak bekerja sempurna.

Menariknya, penggunaan jaringan lokal tertutup seperti yang disiapkan untuk Pilkades di Cianjur menunjukkan bahwa pemerintah daerah sendiri memahami bahwa konektivitas publik bukan selalu jawaban. Tetapi, jaringan tertutup juga bukan mantra keamanan. Ia memang dapat mengurangi ketergantungan pada internet eksternal, namun tetap menyisakan persoalan perangkat, konfigurasi, akses operator, integritas perangkat lunak dan prosedur ketika terjadi gangguan. 

Semakin penting sebuah sistem, semakin penting pula rencana ketika sistem itu gagal. Di titik ini, efisiensi anggaran juga perlu dihitung secara jujur. Menghilangkan kertas tidak otomatis berarti demokrasi menjadi lebih murah. 

Pasalnya, ada perangkat yang harus dibeli atau disewa, baterai yang harus dipastikan, sistem yang harus dipelihara, petugas yang harus dilatih, perangkat lunak yang harus diuji, keamanan yang harus diperbarui dan mekanisme cadangan yang harus tersedia. 

Biaya semacam itu kadang tidak terlihat karena tidak muncul dalam satu lembar surat suara. Padahal, ia tetap merupakan biaya demokrasi.

Yang tak kalah penting, jangan sampai efisiensi dijadikan alasan untuk mengurangi keterbukaan. Demokrasi memang membutuhkan biaya. Yang harus dikejar bukan demokrasi semurah mungkin, melainkan demokrasi yang biayanya masuk akal dan prosesnya dapat dipercaya. 

Jika penghematan Rp2,5 miliar menghasilkan sistem yang sulit diaudit, masyarakat sebenarnya tidak memperoleh keuntungan penuh. Sebab biaya terbesar dari sistem pemilu bukan selalu harga kertas atau perangkat, melainkan hilangnya kepercayaan ketika hasil dipersoalkan.

Memiliki posisi khusus

Pilkades memiliki posisi khusus dalam demokrasi Indonesia karena politik desa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kepala desa bukan figur yang jauh di ibu kota. Ia bersentuhan dengan tanah, jalan desa, bantuan, pelayanan administratif, pembangunan dan hubungan sosial antarwarga.

Karena itu, sengketa hasil Pilkades dapat dengan cepat menjadi persoalan sosial. Semakin dekat kekuasaan dengan kehidupan warga, semakin penting pula hasil pemilihan dapat diterima sebagai sesuatu yang sah dan dapat dipercaya.

Maka, e-voting Pilkades Jawa Barat sebaiknya diperlakukan sebagai laboratorium demokrasi, bukan sekadar proyek digitalisasi. Keberhasilannya jangan diukur hanya dari berapa banyak desa yang berhasil menggunakan tablet atau seberapa cepat hasil diumumkan. 

Ukurannya harus lebih keras, yakni apakah pemilih memahami prosesnya, apakah sistem dapat diaudit, apakah gangguan dapat ditangani, apakah data pemilih akurat, apakah saksi dan pengawas dapat melakukan pemeriksaan, dan apakah masyarakat memiliki alasan yang rasional untuk mempercayai hasilnya.

Bagaimanapun, ada perbedaan besar antara demokrasi yang cepat dan demokrasi yang dapat dipercaya. Teknologi sangat mungkin membuat pemungutan suara menjadi cepat. Tetapi, kepercayaan membutuhkan sesuatu yang lebih sulit, yaitu keterbukaan, verifikasi, prosedur cadangan dan kemampuan untuk membuktikan bahwa angka yang muncul di layar memang berasal dari kehendak pemilih. 

Jangan sampai surat suara yang dahulu bisa dilihat semua orang digantikan oleh sebuah kotak hitam yang hanya bisa dipercaya karena pemerintah mengatakan sistemnya aman.

Jika demokrasi desa memang hendak memasuki era digital, standar transparansinya justru harus dinaikkan, bukan diturunkan. 

Rakyat tidak harus menjadi programmer untuk memahami bagaimana pemilihan berlangsung. Tetapi, mereka berhak mengetahui aturan mainnya, siapa yang mengawasinya, bagaimana hasilnya diverifikasi dan apa yang terjadi ketika sistem gagal. 

Demokrasi boleh menggunakan teknologi yang rumit. Pertanggungjawabannya tidak boleh ikut menjadi rumit. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)