Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

7 menit baca
Rachmadi Rasyad
Ditulis oleh Rachmadi Rasyad diterbitkan
Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Bagi warga asli Kota Bandung, istilah hareudang dan nyelecep mungkin semakin sering terdengar belakangan ini. Siang terasa menyengat, sementara malam atau pagi hari bisa terasa cukup dingin.

Lantas, apakah Kota Kembang memang semakin panas sekaligus tetap menyimpan sisi dinginnya?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai temperatur per bulan di Kota Bandung selama satu dekade, 2014-2023, menunjukkan adanya perubahan yang menarik. Suhu Bandung memang mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kota ini semakin sering mencatat suhu ekstrem.

Tahun 2023 menjadi salah satu contohnya.

Pada Oktober 2023, suhu maksimum Kota Bandung mencapai 36,0 derajat Celsius. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan suhu maksimum yang umumnya berada di kisaran 29 hingga 31 derajat Celsius pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun, 2023 bukan tahun dengan rata-rata suhu tahunan tertinggi. Rekor tersebut justru tercatat pada 2020, ketika suhu rata-rata tahunan mencapai 25,87 derajat Celsius.

Sementara itu, rata-rata suhu tahunan pada 2014 berada di angka 23,39 derajat Celsius. Pada 2023, angkanya mencapai 24,25 derajat Celsius.

Artinya, suhu Bandung tidak meningkat secara lurus setiap tahun. Ada naik turun, tetapi data tersebut menunjukkan bahwa Bandung dalam beberapa tahun tertentu mampu mencapai suhu yang lebih tinggi dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Yang menarik, di tengah catatan suhu maksimum yang tinggi, Bandung juga masih mengalami suhu minimum yang cukup rendah.

Pada Mei 2023, suhu minimum tercatat mencapai 15,4 derajat Celsius.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan suhu Bandung tidak sesederhana kota yang "semakin panas". Warga dapat merasakan panas yang menyengat pada siang hari, tetapi pada malam dan pagi hari suhu bisa turun cukup jauh. Tentunya suhu di kota Bandung juga dipengaruhi kondisi global.

Perbedaan suhu yang semakin kontras ini membuat pertanyaan tentang kondisi lingkungan perkotaan menjadi penting. Salah satunya adalah bagaimana keberadaan pohon dan ruang terbuka hijau dapat membantu menjaga keseimbangan suhu di dalam kota.

Bandung Kehilangan "AC Alaminya"

Bagi kawasan yang berada di bentang Cekungan Bandung, pohon dan ruang hijau bukan sekadar penghias kota. Keduanya merupakan bagian dari infrastruktur alami yang membantu mengendalikan suhu, menyerap air hujan, sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Ridwan Sutriadi, menegaskan bahwa vegetasi harus dilihat sebagai urat nadi kehidupan kota.

Ketika lahan hijau berubah menjadi lautan aspal dan beton, kemampuan permukaan tanah untuk menyerap air dan meredam panas ikut berkurang. Penyusutan tutupan lahan hijau yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan kawasan permukiman dan komersial dapat memperkuat fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.

"Kondisi inilah yang memicu urban heat island atau fenomena pulau panas perkotaan. Menanam pohon bukan sekadar urusan estetika, tapi soal ketahanan hidup dan kenyamanan warga Bandung," tegas Ridwan.

Pohon bekerja dengan cara yang sederhana tetapi penting. Tajuknya memberikan bayangan, mengurangi paparan langsung sinar matahari ke permukaan jalan dan bangunan, sementara proses evapotranspirasi dari vegetasi membantu mendinginkan lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, kawasan yang memiliki banyak pepohonan dapat menciptakan mikroklimat yang lebih nyaman dibandingkan kawasan yang didominasi beton dan aspal.

Data temperatur juga menunjukkan adanya perbedaan kondisi mikroklimat antara kawasan yang memiliki banyak vegetasi dan koridor jalan yang minim pepohonan. Area seperti Taman Lansia, Hutan Kota Babakan Siliwangi, dan Taman Ganesha, misalnya, dapat memiliki suhu yang relatif lebih rendah dibandingkan koridor jalan raya yang minim vegetasi.

Bagi Ridwan, kondisi ini harus menjadi perhatian ketika pemerintah ingin mendorong masyarakat berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum.

"Jalur pejalan kaki itu harus nyaman, teduh, dan aman. Kanopi pohon menciptakan koridor hijau yang melindungi warga dari sengatan matahari dan polusi kendaraan," paparnya.

Dengan kata lain, membangun trotoar saja belum cukup. Kota juga membutuhkan "AC alami" dalam bentuk pepohonan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. Taman kota ini menyuguhkan ketenangan serta kesejukan hutan di tengah-tengah jantung Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. Taman kota ini menyuguhkan ketenangan serta kesejukan hutan di tengah-tengah jantung Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pohon Tidak Selalu Berarti Membuat Kota Lebih Dingin

Namun, ada satu hal penting yang sering luput ketika membicarakan pohon dan suhu kota.

Pohon memang sangat efektif membantu mengurangi panas pada siang hari, tetapi pengaruhnya terhadap suhu tidak selalu berarti "semakin banyak pohon, semakin dingin setiap saat".

Pada malam hari, keberadaan kanopi pohon juga dapat memengaruhi pelepasan panas dari permukaan bumi. Tajuk yang lebat dapat mengurangi kehilangan panas melalui radiasi ke langit, sekaligus mengurangi terpaan angin di permukaan.

Secara sederhana, pohon dapat berfungsi sebagai pengatur mikroklimat.

Pada siang hari, pepohonan memberikan keteduhan dan membantu mendinginkan lingkungan. Pada kondisi malam tertentu, kanopi dapat mengurangi pelepasan panas secara langsung dan melindungi area di bawahnya dari angin, sehingga perubahan suhu menjadi tidak terlalu ekstrem.

Fenomena ini berbeda dengan konsep pohon sebagai "penghangat kota" seperti yang diterapkan di wilayah yang mengalami musim dingin. Di kota-kota beriklim dingin, pepohonan dapat digunakan sebagai windbreak, yaitu penghalang angin yang mengurangi terpaan udara dingin terhadap bangunan dan manusia.

Jadi, dalam konteks Bandung yang beriklim tropis, fungsi utama pohon bukanlah membuat kota menjadi panas atau dingin, melainkan membantu menciptakan mikroklimat yang lebih stabil dan nyaman.

Hal ini penting karena masalah Bandung bukan hanya angka suhu rata-rata. Yang juga perlu diperhatikan adalah paparan panas di siang hari, suhu permukaan yang tinggi, serta perbedaan kondisi antara kawasan yang teduh dan kawasan yang didominasi beton serta aspal.

Bandung dan Efek "Mangkuk Raksasa"

Persoalan vegetasi di Bandung juga tidak bisa dilepaskan dari bentuk wilayahnya.

Kota Bandung berada dalam bentang Cekungan Bandung yang secara sederhana dapat dibayangkan seperti sebuah mangkuk raksasa. Air dari kawasan yang lebih tinggi secara alami bergerak menuju kawasan yang lebih rendah.

Ketika kawasan resapan berubah menjadi permukaan kedap air seperti beton dan aspal, air hujan kehilangan banyak ruang untuk meresap ke tanah. Akibatnya, limpasan permukaan meningkat dan risiko banjir ikut bertambah.

Di sinilah ruang hijau memiliki fungsi ganda.

Pohon membantu menciptakan keteduhan dan memperbaiki kondisi mikroklimat, sementara tanah terbuka dan ruang hijau menyediakan ruang bagi air untuk meresap.

"Artinya, satu pohon yang Anda pertahankan atau satu taman yang dijaga, manfaatnya dirasakan oleh seluruh ekosistem Cekungan Bandung," ungkap Ridwan.

Karena itu, persoalan ruang hijau tidak bisa hanya dilihat berdasarkan batas administratif Kota Bandung. Pengelolaan lingkungan perlu melihat hubungan kawasan hulu, perkotaan, hingga hilir sebagai satu ekosistem.

Jangan Hanya Menanam Pohon, Bangun Jaringan Hijau

Penghijauan kota juga tidak cukup dilakukan dengan menanam pohon secara sporadis.

Dalam pendekatan ekologi lanskap, ruang hijau akan memberikan manfaat yang lebih besar jika saling terhubung. Taman kota, pepohonan di tepi jalan, bantaran sungai, lahan terbuka, hingga pekarangan rumah dapat membentuk sebuah jaringan hijau.

Jaringan tersebut bukan hanya membantu mengendalikan suhu dan air, tetapi juga menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati sekaligus membantu menyaring polusi di tengah kepadatan kendaraan.

Karena itu, pohon seharusnya tidak dipandang sebagai elemen tambahan yang ditanam setelah pembangunan selesai. Vegetasi perlu dipertimbangkan sejak awal ketika sebuah kawasan dirancang.

Pilihan jenis pohon pun perlu disesuaikan dengan lokasi, fungsi ruang, kebutuhan air, kondisi tanah, serta karakter kawasan. Pohon peneduh untuk koridor pejalan kaki, misalnya, membutuhkan pertimbangan yang berbeda dengan vegetasi untuk bantaran sungai atau ruang terbuka.

Tidak Harus Menunggu Proyek Triliunan Rupiah

Menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan Bandung tidak selalu membutuhkan proyek besar.

Ridwan merekomendasikan pendekatan lowest hanging fruit, yaitu langkah yang relatif murah, cepat dilakukan, tetapi memiliki dampak nyata.

Masyarakat dapat memulainya dengan mempertahankan pohon yang sudah ada di halaman rumah, membuat lubang biopori, mengubah lahan terbengkalai di ujung gang menjadi pocket park, atau menambahkan tanaman pada lorong-lorong permukiman yang gersang.

Teknologi juga dapat dilibatkan.

Anak muda, komunitas, hingga warga dapat melakukan pemetaan partisipatif menggunakan sensor suhu sederhana atau aplikasi pada telepon seluler. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui titik-titik yang paling panas, kawasan yang minim pohon, atau lokasi yang membutuhkan peneduh.

"Teknologi ini membuat penghijauan jadi lebih cerdas. Warga tahu persis di mana pohon harus ditanam dan bisa memantau perkembangannya dari waktu ke waktu," jelas Ridwan.

Dengan cara tersebut, penghijauan tidak lagi sekadar berdasarkan perkiraan. Kota dapat mulai memiliki peta mikroklimat yang menunjukkan bagian mana yang membutuhkan intervensi.

Pada akhirnya, data suhu 2014-2023 memberi satu pesan penting: Bandung bukan sekadar sedang menghadapi persoalan "panas".

Kota ini menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan mikroklimat di tengah pembangunan, kepadatan, perubahan tutupan lahan, dan berkurangnya ruang hijau.

Siang yang semakin menyengat dan malam yang tetap bisa terasa dingin bukanlah dua persoalan yang sepenuhnya terpisah. Keduanya menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara suhu, bentuk kota, material permukaan, angin, vegetasi, dan kondisi lingkungan.

Karena itu, pohon bukan sekadar dekorasi kota.

Ia adalah peneduh saat matahari terik, bagian dari sistem resapan air, penghalang angin, habitat bagi makhluk hidup, sekaligus salah satu komponen penting untuk membuat perubahan suhu di lingkungan perkotaan menjadi lebih terkendali.

"Menjaga pohon bukan berarti kita anti-pembangunan dan menghentikan kemajuan kota. Sebaliknya, pohon justru memastikan bahwa kota yang dibangun ini tetap menyisakan ruang bagi air untuk meresap, udara yang sejuk untuk dihirup, dan lingkungan yang layak huni bagi anak cucu kita nanti," pungkas Ridwan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)