Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)

SELAIN memahami teknik dasar fotografi, seorang fotografi seyogianya memahami jarak. Bukan hanya jarak kamera dengan objek, melainkan jarak antara keinginan mendapatkan gambar dan kenyataan bahwa objek yang sedang difoto mungkin berbahaya. 

Nah, fenomena blue fire di Gunung Papandayan setidaknya mengingatkan kita pada persoalan jarak itu.

Tidak bisa diatur

Fotografi alam memang memiliki godaan yang agak berbeda dari fotografi di dalam studio. Di studio, fotografer dapat mengutak-atik cahaya, posisi objek, bahkan mengulang-ulang sesi pemotretan. 

Di alam, tidak semuanya bisa diatur-atur. Kabut bisa tiba-tiba datang dan langsung pergi. Cahaya berubah cepat. Burung terbang melintas hanya sekejap. Petir tidak memberi kesempatan kedua.  Dan api di kawasan vulkanik bisa muncul dalam kondisi yang tidak dapat diperlakukan seperti objek foto biasa. 

Justru karena tidak bisa diulang-ulang seperti di dalam studio, kerap muncul dorongan untuk mendapatkan gambar dengan sebaik-baiknya.

Di situlah persoalannya. Foto yang bagus sering lahir dari keputusan fotografer untuk menemukan posisi yang tepat. Sedikit bergeser, komposisinya berubah. Sedikit lebih rendah, garis gunung menjadi lebih kuat. Sedikit lebih dekat, objek menjadi lebih besar. 

Dalam fotografi, berpindah tempat beberapa meter bisa membuat perbedaan besar. Tetapi, di kawasan gunung api, beberapa meter juga bisa berarti perubahan kondisi lingkungan yang tidak kecil.

Fenomena blue fire Papandayan menarik secara fotografis karena cahaya biru keunguan itu sendiri sudah memiliki daya visual yang kuat. Warna yang tidak lazim selalu mudah menarik perhatian mata. 

Api biasanya diasosiasikan dengan merah, kuning atau jingga. Ketika yang muncul justru biru, kamera mendapatkan sebuah anomali visual. Apalagi jika lingkungan sekitarnya gelap. Secara fotografis, kontras semacam itu hampir seperti sudah menyediakan komposisinya sendiri.

Namun, mekanisme kamera tidak pernah sesederhana itu. Warna yang terlihat dalam foto merupakan hasil pertemuan antara cahaya, objek, kondisi atmosfer, sensor, pengaturan kamera dan pengolahan gambar. 

Dalam fotografi vulkanik bahkan ada persoalan yang lebih mendasar, yakni tidak semua yang penting bagi ilmuwan dapat dilihat mata manusia. 

United States Geological Survey (USGS), misalnya, menjelaskan bahwa gas vulkanik seperti sulfur dioksida tidak terlihat oleh mata, sementara kamera ultraviolet dapat membantu memvisualisasikan keberadaannya karena SO₂ menyerap radiasi ultraviolet. Kamera dengan demikian bukan hanya alat untuk membuat gambar indah, tetapi juga dapat menjadi alat observasi. 

Hal ini menarik karena memperlihatkan perbedaan antara “melihat” dan “mengetahui”. Fotografer melihat api biru, misalnya. Vulkanolog melihat kemungkinan proses di baliknya. Keduanya sama-sama menggunakan mata, tetapi pertanyaannya berbeda. 

Fotografer bertanya: dari mana cahaya terbaik? Vulkanolog bertanya: gas apa yang keluar, melalui jalur mana, dalam kondisi bagaimana, dan apa artinya terhadap sistem vulkanik? 

Foto dapat memperlihatkan gejala. Namun, ia tidak otomatis menjelaskan penyebabnya.

Karena itu, foto blue fire yang spektakuler tidak boleh membuat kita lupa bahwa sumber fenomenanya bukan sekadar cahaya. 

Pembakaran belerang

Badan Geologi Kementerian ESDM, melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menginterpretasikan blue fire Papandayan sebagai fenomena yang berkaitan dengan pembakaran belerang di area solfatara. 

Secara umum, gas vulkanik dapat mengandung antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan hidrogen sulfida. Beberapa di antaranya berbahaya pada konsentrasi tertentu. 

Sulfur dioksida, misalnya, merupakan iritan bagi mata dan saluran pernapasan, sementara karbon dioksida dapat terakumulasi di daerah rendah karena lebih berat daripada udara.

Yang menarik, bahaya itu justru memiliki karakter yang berlawanan dengan kebutuhan fotografi. Fotografer membutuhkan sesuatu yang bisa dilihat. Adapun gas vulkanik tertentu justru tidak terlihat. 

Di sisi lain, fotografer membutuhkan posisi yang memungkinkan kamera mendapatkan cahaya. Sedangkan bahaya gas tidak selalu mengikuti apa yang terlihat dalam frame. Angin dapat mengubah arah penyebaran gas. Konsentrasi dapat berbeda menurut lokasi dan kondisi atmosfer. 

Bahkan, sebuah tempat yang secara visual terlihat tenang tidak otomatis berarti komposisi udaranya sama dengan beberapa meter di sebelahnya. 

USGS mencatat bahwa kondisi gas di sekitar lubang keluarnya gas vulkanik dapat berubah dan area segera di arah angin dari sumber emisi dapat tetap berbahaya meskipun tidak sedang terjadi letusan.

Maka, persoalan fotografi alam sebenarnya bukan sekadar “berani atau tidak berani”. Ada fotografer yang mendekati objek karena memahami situasinya, ada pula yang kebetulan berada pada posisi yang aman. 

Sebaliknya, ada fotografer berpengalaman yang justru memilih mundur karena memahami bahwa informasi yang dimilikinya belum cukup meyakinkan. 

Keberanian dan pengetahuan bukan hal yang sama. Jarak aman juga bukan angka yang bisa ditentukan fotografer sendiri berdasarkan seberapa kuat tripod atau seberapa mahal kameranya.

Di sinilah fotografi memiliki persoalan etika yang menarik. Sebuah foto tidak pernah membawa cerita lengkap tentang bagaimana foto itu dibuat. 

Khalayak cuma melihat hasil akhirnya, bukan proses di belakang kamera. Mereka tidak melihat apakah fotografer berdiri di tempat yang aman, apakah lokasi itu sebenarnya terlarang, bagaimana kondisi anginnya, atau apakah ada petugas yang mengawasi. 

Akibatnya, foto yang berhasil mendapatkan posisi ekstrem dapat secara tidak sengaja mengubah perilaku orang lain. Orang yang melihatnya mungkin hanya berpikir, kalau fotografer itu bisa berdiri di sana dan mengambil gambar spektakuler, berarti saya juga bisa.

Media sosial memperbesar persoalan tersebut. Foto yang paling dekat, paling dramatis, paling bersih dari gangguan dan paling berbeda dari foto orang lain memiliki peluang lebih besar mendapatkan perhatian. 

Tetapi, algoritma tidak mengenal jarak aman. Algoritma hanya mengenal gambar yang membuat orang berhenti menggulir. Dalam situasi seperti ini, fotografi alam berhadapan dengan ekonomi perhatian. Semakin sulit sebuah gambar diperoleh, semakin besar pula cerita yang melekat padanya. Padahal, sulit diperoleh tidak selalu berarti layak dilakukan.

Menariknya, fotografi justru dapat mengajarkan kebalikan dari dorongan untuk mendekat. Komposisi tidak selalu membutuhkan kedekatan fisik. Dengan lensa yang berbeda, perubahan sudut pandang, pemanfaatan siluet, pemberian ruang kosong di sekitar objek, atau menempatkan manusia sebagai pembanding skala, sebuah objek yang jauh dapat menjadi lebih kuat daripada objek yang memenuhi seluruh frame. 

Dalam banyak kasus, fotografer tidak perlu mendekati gunung. Ia hanya perlu mengubah cara melihat gunung. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di situlah kedewasaan visual mulai bekerja.

Fotografer berani

Foto alam yang berhasil pada dasarnya bukan foto yang membuktikan bahwa fotografer berani berada paling dekat dengan bahaya. Foto yang berhasil adalah foto yang mampu menyampaikan sesuatu tentang alam tanpa harus mengalahkan alam itu sendiri. 

Blue fire alias api biru Papandayan bisa dipotret sebagai cahaya. Bisa dipotret sebagai gejala vulkanik. Bisa dipotret sebagai pengalaman manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahaminya. Pilihan itu berada pada fotografer. Kamera hanya menyediakan alatnya.

Karena itu, memahami fotografi tingkat tinggi mungkin bukan hanya memahami teknik, komposisi, angle, momen, dan content. Mungkin juga memahami kapan harus berhenti mengejar gambar -- termasuk kapan harus berhenti mengambil risiko demi mendapatkan sudut yang lebih dramatis.

Tidak ada kamera dengan komposisi otomatis, angle otomatis, atau momen otomatis.

Tetapi, seharusnya juga tidak ada kamera yang membuat kita kehilangan kemampuan mengatakan: dari sini saja sudah cukup. Dalam fotografi alam, posisi terbaik untuk mendapatkan gambar belum tentu posisi yang terbaik untuk menyelamatkan diri kita.

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak. Kadang, justru sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa fotografer memahami jarak itu sendiri. 

Gunung tetap menjadi gunung, gas tetap menjadi gas, dan api biru tetap menjadi fenomena alam yang tidak membutuhkan manusia untuk berdiri sedekat mungkin dengannya agar terlihat indah. 

Kamera adalah alat untuk melihat. Kebijaksanaan fotografi mungkin dimulai ketika kita sadar sepenuhnya bahwa tidak semua yang ingin kita lihat harus kita dekati sedekat mungkin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)