SELAIN memahami teknik dasar fotografi, seorang fotografi seyogianya memahami jarak. Bukan hanya jarak kamera dengan objek, melainkan jarak antara keinginan mendapatkan gambar dan kenyataan bahwa objek yang sedang difoto mungkin berbahaya.
Nah, fenomena blue fire di Gunung Papandayan setidaknya mengingatkan kita pada persoalan jarak itu.
Tidak bisa diatur
Fotografi alam memang memiliki godaan yang agak berbeda dari fotografi di dalam studio. Di studio, fotografer dapat mengutak-atik cahaya, posisi objek, bahkan mengulang-ulang sesi pemotretan.
Di alam, tidak semuanya bisa diatur-atur. Kabut bisa tiba-tiba datang dan langsung pergi. Cahaya berubah cepat. Burung terbang melintas hanya sekejap. Petir tidak memberi kesempatan kedua. Dan api di kawasan vulkanik bisa muncul dalam kondisi yang tidak dapat diperlakukan seperti objek foto biasa.
Justru karena tidak bisa diulang-ulang seperti di dalam studio, kerap muncul dorongan untuk mendapatkan gambar dengan sebaik-baiknya.
Di situlah persoalannya. Foto yang bagus sering lahir dari keputusan fotografer untuk menemukan posisi yang tepat. Sedikit bergeser, komposisinya berubah. Sedikit lebih rendah, garis gunung menjadi lebih kuat. Sedikit lebih dekat, objek menjadi lebih besar.
Dalam fotografi, berpindah tempat beberapa meter bisa membuat perbedaan besar. Tetapi, di kawasan gunung api, beberapa meter juga bisa berarti perubahan kondisi lingkungan yang tidak kecil.
Fenomena blue fire Papandayan menarik secara fotografis karena cahaya biru keunguan itu sendiri sudah memiliki daya visual yang kuat. Warna yang tidak lazim selalu mudah menarik perhatian mata.
Api biasanya diasosiasikan dengan merah, kuning atau jingga. Ketika yang muncul justru biru, kamera mendapatkan sebuah anomali visual. Apalagi jika lingkungan sekitarnya gelap. Secara fotografis, kontras semacam itu hampir seperti sudah menyediakan komposisinya sendiri.
Namun, mekanisme kamera tidak pernah sesederhana itu. Warna yang terlihat dalam foto merupakan hasil pertemuan antara cahaya, objek, kondisi atmosfer, sensor, pengaturan kamera dan pengolahan gambar.
Dalam fotografi vulkanik bahkan ada persoalan yang lebih mendasar, yakni tidak semua yang penting bagi ilmuwan dapat dilihat mata manusia.
United States Geological Survey (USGS), misalnya, menjelaskan bahwa gas vulkanik seperti sulfur dioksida tidak terlihat oleh mata, sementara kamera ultraviolet dapat membantu memvisualisasikan keberadaannya karena SO₂ menyerap radiasi ultraviolet. Kamera dengan demikian bukan hanya alat untuk membuat gambar indah, tetapi juga dapat menjadi alat observasi.
Hal ini menarik karena memperlihatkan perbedaan antara “melihat” dan “mengetahui”. Fotografer melihat api biru, misalnya. Vulkanolog melihat kemungkinan proses di baliknya. Keduanya sama-sama menggunakan mata, tetapi pertanyaannya berbeda.
Fotografer bertanya: dari mana cahaya terbaik? Vulkanolog bertanya: gas apa yang keluar, melalui jalur mana, dalam kondisi bagaimana, dan apa artinya terhadap sistem vulkanik?
Foto dapat memperlihatkan gejala. Namun, ia tidak otomatis menjelaskan penyebabnya.
Karena itu, foto blue fire yang spektakuler tidak boleh membuat kita lupa bahwa sumber fenomenanya bukan sekadar cahaya.
Pembakaran belerang
Badan Geologi Kementerian ESDM, melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menginterpretasikan blue fire Papandayan sebagai fenomena yang berkaitan dengan pembakaran belerang di area solfatara.
Secara umum, gas vulkanik dapat mengandung antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan hidrogen sulfida. Beberapa di antaranya berbahaya pada konsentrasi tertentu.
Sulfur dioksida, misalnya, merupakan iritan bagi mata dan saluran pernapasan, sementara karbon dioksida dapat terakumulasi di daerah rendah karena lebih berat daripada udara.
Yang menarik, bahaya itu justru memiliki karakter yang berlawanan dengan kebutuhan fotografi. Fotografer membutuhkan sesuatu yang bisa dilihat. Adapun gas vulkanik tertentu justru tidak terlihat.
Di sisi lain, fotografer membutuhkan posisi yang memungkinkan kamera mendapatkan cahaya. Sedangkan bahaya gas tidak selalu mengikuti apa yang terlihat dalam frame. Angin dapat mengubah arah penyebaran gas. Konsentrasi dapat berbeda menurut lokasi dan kondisi atmosfer.
Bahkan, sebuah tempat yang secara visual terlihat tenang tidak otomatis berarti komposisi udaranya sama dengan beberapa meter di sebelahnya.
USGS mencatat bahwa kondisi gas di sekitar lubang keluarnya gas vulkanik dapat berubah dan area segera di arah angin dari sumber emisi dapat tetap berbahaya meskipun tidak sedang terjadi letusan.
Maka, persoalan fotografi alam sebenarnya bukan sekadar “berani atau tidak berani”. Ada fotografer yang mendekati objek karena memahami situasinya, ada pula yang kebetulan berada pada posisi yang aman.
Sebaliknya, ada fotografer berpengalaman yang justru memilih mundur karena memahami bahwa informasi yang dimilikinya belum cukup meyakinkan.
Keberanian dan pengetahuan bukan hal yang sama. Jarak aman juga bukan angka yang bisa ditentukan fotografer sendiri berdasarkan seberapa kuat tripod atau seberapa mahal kameranya.
Di sinilah fotografi memiliki persoalan etika yang menarik. Sebuah foto tidak pernah membawa cerita lengkap tentang bagaimana foto itu dibuat.
Khalayak cuma melihat hasil akhirnya, bukan proses di belakang kamera. Mereka tidak melihat apakah fotografer berdiri di tempat yang aman, apakah lokasi itu sebenarnya terlarang, bagaimana kondisi anginnya, atau apakah ada petugas yang mengawasi.
Akibatnya, foto yang berhasil mendapatkan posisi ekstrem dapat secara tidak sengaja mengubah perilaku orang lain. Orang yang melihatnya mungkin hanya berpikir, kalau fotografer itu bisa berdiri di sana dan mengambil gambar spektakuler, berarti saya juga bisa.
Media sosial memperbesar persoalan tersebut. Foto yang paling dekat, paling dramatis, paling bersih dari gangguan dan paling berbeda dari foto orang lain memiliki peluang lebih besar mendapatkan perhatian.
Tetapi, algoritma tidak mengenal jarak aman. Algoritma hanya mengenal gambar yang membuat orang berhenti menggulir. Dalam situasi seperti ini, fotografi alam berhadapan dengan ekonomi perhatian. Semakin sulit sebuah gambar diperoleh, semakin besar pula cerita yang melekat padanya. Padahal, sulit diperoleh tidak selalu berarti layak dilakukan.
Menariknya, fotografi justru dapat mengajarkan kebalikan dari dorongan untuk mendekat. Komposisi tidak selalu membutuhkan kedekatan fisik. Dengan lensa yang berbeda, perubahan sudut pandang, pemanfaatan siluet, pemberian ruang kosong di sekitar objek, atau menempatkan manusia sebagai pembanding skala, sebuah objek yang jauh dapat menjadi lebih kuat daripada objek yang memenuhi seluruh frame.
Dalam banyak kasus, fotografer tidak perlu mendekati gunung. Ia hanya perlu mengubah cara melihat gunung. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di situlah kedewasaan visual mulai bekerja.
Fotografer berani
Foto alam yang berhasil pada dasarnya bukan foto yang membuktikan bahwa fotografer berani berada paling dekat dengan bahaya. Foto yang berhasil adalah foto yang mampu menyampaikan sesuatu tentang alam tanpa harus mengalahkan alam itu sendiri.
Blue fire alias api biru Papandayan bisa dipotret sebagai cahaya. Bisa dipotret sebagai gejala vulkanik. Bisa dipotret sebagai pengalaman manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahaminya. Pilihan itu berada pada fotografer. Kamera hanya menyediakan alatnya.
Karena itu, memahami fotografi tingkat tinggi mungkin bukan hanya memahami teknik, komposisi, angle, momen, dan content. Mungkin juga memahami kapan harus berhenti mengejar gambar -- termasuk kapan harus berhenti mengambil risiko demi mendapatkan sudut yang lebih dramatis.
Tidak ada kamera dengan komposisi otomatis, angle otomatis, atau momen otomatis.

Tetapi, seharusnya juga tidak ada kamera yang membuat kita kehilangan kemampuan mengatakan: dari sini saja sudah cukup. Dalam fotografi alam, posisi terbaik untuk mendapatkan gambar belum tentu posisi yang terbaik untuk menyelamatkan diri kita.
Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak. Kadang, justru sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa fotografer memahami jarak itu sendiri.
Gunung tetap menjadi gunung, gas tetap menjadi gas, dan api biru tetap menjadi fenomena alam yang tidak membutuhkan manusia untuk berdiri sedekat mungkin dengannya agar terlihat indah.
Kamera adalah alat untuk melihat. Kebijaksanaan fotografi mungkin dimulai ketika kita sadar sepenuhnya bahwa tidak semua yang ingin kita lihat harus kita dekati sedekat mungkin. (*)