Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)

BECAK listrik bantuan Presiden sudah tiba di Kota Bandung. Sebanyak 200 unit mulai disalurkan kepada para pengayuh becak, terutama mereka yang berusia 55 tahun ke atas. 

Bantuan ini terutama dimaksudkan untuk mengganti sebagian tenaga kaki dengan tenaga listrik agar pekerjaan ngaboseh becak tidak terlalu berat. 

Untuk ngaboseh becak tentu perlu kaki dan tenaga yang kuat. Apalagi saat becak mengangkut penumpang dan jalan sedikit nanjak. Di usia 55 tahun ke atas, pasti lumayan beurat dan ripuh untuk ngaboseh becak secara manual seharian.

Dengan dipasangi tenaga listrik, maka beban berat ngabeca diharapkan bisa lebih ringan.  

Sayangnya, setelah becak listriknya datang, persoalan lain muncul. Becak listrik mau dioperasikan di mana, mengisi baterainya di mana, siapa yang mengatur operasinya, dan bagaimana memastikan kendaraan itu benar-benar menambah penghasilan para pengayuhnya?

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sendiri, seperti dilaporkan sejumlah media lokal, mengakui pekerjaan terkait becak listrik belum selesai. Pemkot masih berkoordinasi dengan kecamatan untuk menentukan lokasi operasional sekaligus titik pengisian daya. 

Becak listrik itu sudah direncanakan sebagai moda penunjang, antara lain untuk kawasan pasar dan destinasi wisata dengan kondisi jalan relatif datar. Artinya, barangnya sudah ada, tetapi sistem yang membuat barang itu berguna masih sedang dirancang.

Bukan persoalan baru

Dalam ilmu kebijakan publik, jarak antara keputusan atau program dengan manfaat yang benar-benar diterima masyarakat bukan persoalan baru. Sebuah kebijakan dapat selesai secara administratif tetapi belum selesai secara substantif. Barang sudah dibeli. Serah terima sudah dilakukan. Dokumentasi sudah tersedia. Tetapi, di lapangan, manfaat yang dijanjikan belum tentu muncul dengan sendirinya. 

Literatur tentang policy implementation gap menunjukkan bahwa kebijakan sering berubah ketika memasuki dunia nyata, terutama ketika membutuhkan koordinasi banyak lembaga dan berhadapan langsung dengan masyarakat.

Contohnya sederhana. Sebuah becak listrik membutuhkan listrik. Listrik membutuhkan titik pengisian. Titik pengisian membutuhkan lokasi, daya listrik, keamanan dan biaya operasi. Becak listrik juga membutuhkan perawatan, suku cadang dan teknisi. 

Sementara itu, pengemudi membutuhkan aturan mengenai lokasi mangkal dan rute. Adapun pemerintah membutuhkan mekanisme untuk menentukan siapa yang berhak memakai dan apa yang terjadi jika becak listrik rusak, baterai bermasalah atau penerima tidak lagi mampu mengoperasikannya. Satu unit kendaraan ternyata membawa sekumpulan persoalan kecil yang saling bergantung.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada jumlah becak listrik yang telah dibagikan. Angka 200 memang mudah dihitung. Tetapi, berapa unit yang benar-benar beroperasi setelah tiga bulan? Berapa hari dalam sebulan kendaraan digunakan? Berapa rata-rata pendapatan pengemudi sebelum dan sesudah menerima bantuan? Berapa biaya listrik dan perawatan yang harus ditanggung? Berapa lama baterai bertahan sebelum membutuhkan penggantian? 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih dekat dengan ukuran manfaat publik dibanding jumlah becak listrik yang berderet dan diserahterimakan dalam sebuah seremoni yang meriah dan penuh gebyar.

Soal baterai juga bukan perkara teknis kecil. Salah satu laporan mengenai becak listrik di Kabupaten Bandung menyebut kendaraan tersebut memiliki kecepatan maksimum 15 kilometer per jam dan jarak tempuh hingga 40 kilometer dalam satu kali pengisian penuh. 

Angka itu terlihat cukup untuk perjalanan pendek, tetapi jarak nyata sangat bergantung pada beban, kondisi jalan, gaya berkendara dan penggunaan listrik.

Untuk pengemudi yang mencari nafkah sepanjang hari, perkara yang penting bukan cuma berapa kilometer jaraknya, melainkan berapa kilometer yang dapat ditempuh dalam pola kerja sehari-hari tanpa membuat pengemudi kehilangan waktu lama karena harus mengisi daya.

Pengalaman pengembangan kendaraan listrik di berbagai negara memperlihatkan bahwa persoalan pengisian daya bukan sekadar menyediakan colokan. Penelitian terbaru bahkan mulai menggeser istilah range anxiety menjadi charge anxiety, yakni kekhawatiran apakah alat pengisi tersedia, berfungsi, cocok dengan kendaraan, berada di lokasi yang tepat, membutuhkan waktu berapa lama dan berapa biayanya. 

Dengan kata lain, infrastruktur yang secara fisik ada belum tentu menjadi infrastruktur yang secara fungsional tersedia.

Mobil listrik

Ilustrasi. Karakter masyarakat Bandung yang terbuka terhadap inovasi menjadikan kota ini laboratorium ideal untuk adopsi mobil listrik. (Sumber: VinFast Indonesia)
Ilustrasi. Karakter masyarakat Bandung yang terbuka terhadap inovasi menjadikan kota ini laboratorium ideal untuk adopsi mobil listrik. (Sumber: VinFast Indonesia)

Dibanding mobil listrik, becak listrik mempunyai persoalan yang sedikit berbeda. Pengayuh becak listrik tidak sedang membeli kendaraan untuk kenyamanan perjalanan pribadi. 

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang atau barang. Kalau baterainya habis di tengah jam kerja, persoalannya bukan sekadar pengemudi harus menunggu. Ada risiko pendapatannya hilang.

Karena itu, desain titik pengisian harus mengikuti pola aktivitas ekonomi pengayuh becak listrik, bukan semata-mata mengikuti ketersediaan lahan milik pemerintah.

Bagaimanapun, akses terhadap infrastruktur tidak hanya ditentukan oleh jumlah fasilitas, tetapi juga oleh lokasi dan distribusinya.

Studi tentang infrastruktur pengisian kendaraan listrik menunjukkan bahwa akses spasial dan ketersediaan fasilitas berkaitan dengan penggunaan kendaraan listrik. Bahkan, penelitian operasi terbaru menekankan bahwa keandalan fasilitas pengisian sama pentingnya dengan keberadaannya. 

Maka, pilihan kawasan operasi juga tidak boleh dianggap sebagai urusan teknis belaka. Kalau becak listrik diarahkan ke pasar atau kawasan wisata, pemerintah perlu mengetahui pola perjalanan penumpang, titik naik-turun, kepadatan kendaraan, kondisi jalan, serta posisi becak terhadap angkutan umum lain. 

Pemkot Bandung menyebut becak listrik sebagai moda penunjang atau pengumpan, bukan pengganti angkutan umum utama. Secara kebijakan, ini masuk akal sebagai upaya menghindari benturan fungsi. Tetapi, konsep tersebut baru benar-benar bekerja jika rute, titik mangkal dan kebutuhan penumpang memang ditemukan melalui pengamatan lapangan, bukan hanya dilelebah dan ditetapkan di atas peta.

Ada pula persoalan terkait pemeliharaan. Banyak program bantuan publik tampak sangat baik pada hari pertama karena barangnya masih baru. Masalah biasanya baru muncul beberapa bulan kemudian. 

Dalam soal becak listrik, masalah itu bisa berupa ban aus, rem perlu disetel, motor listrik membutuhkan pemeriksaan, baterai mengalami penurunan kapasitas, dan komponen tertentu mungkin harus didatangkan dari luar daerah. 

Kalau seluruh biaya pemeliharaan akhirnya dibebankan kepada pengemudi berpenghasilan rendah, becak listrik yang semula dimaksudkan sebagai bantuan bisa berubah menjadi beban baru bagi mereka.

Karena itu, desain kebijakan semestinya memikirkan seluruh siklus hidup sang becak listrik hasil bantuan dari Presiden itu, dari distribusi sampai pemeliharaan, dari penerima pertama sampai kemungkinan penerima berhenti bekerja. 

Lalu, pastikan juga siapa yang memiliki becak listrik, siapa bertanggung jawab atas kerusakan, apakah becak listrik boleh dialihkan kepada anggota keluarga. Bagaimana jika penerima meninggal?

Persoalan-persoalan tersebut bakal turut menentukan apakah bantuan tersebut bertahan sebagai kebijakan atau hanya menjadi sebuah peristiwa belaka.

Lima ukuran

Ada cara sederhana untuk melihat apakah program becak listrik ini kelak berhasil. Ukuran keberhasilannya bisa dilihat dari lima aspek, yakni tingkat pemakaian, pendapatan pengemudi, biaya operasi, waktu tidak beroperasi karena masalah teknis atau pengisian daya, dan tingkat keberlangsungan becak listrik setelah satu tahun. 

Lima indikator itu akan jauh lebih banyak bercerita daripada jumlah foto penyerahan bantuan. Jika sebagian besar becak listrik masih berjalan, pengemudi memperoleh manfaat ekonomi dan biaya operasinya masuk di akal, barulah program tersebut mulai menunjukkan delivery yang sesungguhnya.

Bantuan becak listrik adalah program yang membutuhkan beberapa aktor sekaligus. Pemberi bantuan, pemerintah daerah, pengelola listrik, produsen becak listrik, kepolisian, kecamatan, dan para penerima bantuan memiliki bagian dan peran masing-masing. 

Kegagalan pada satu mata rantai dapat mengurangi manfaat seluruh sistem. Justru karena itulah tahap setelah penyerahan bantuan perlu mendapat perhatian yang sama besar dengan tahap sebelum penyerahan bantuan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)