Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

3 menit baca
Suhendi Al Wasim
Ditulis oleh Suhendi Al Wasim diterbitkan
Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)

Pernahkah Anda mendengar dua akademisi menyebut biaya publikasi Scopus dengan angka yang berbeda sangat jauh, padahal keduanya sama sama benar?

Fenomena ini bukan karena salah satu berbohong, melainkan karena struktur biaya publikasi jurnal internasional memang tidak tunggal.

Sayangnya, kesalahpahaman soal biaya inilah yang sering membuat dana riset terbuang, entah karena masuk ke jurnal yang keliru, atau karena tergiur penawaran yang terlihat murah tetapi berujung masalah.

Sebagai praktisi yang sehari hari mendampingi dosen dan peneliti dalam proses publikasi ilmiah, saya melihat pola kesalahan yang sama terus berulang. Artikel ini merangkum hal mendasar yang perlu dipahami sebelum Anda menganggarkan dana publikasi.

Mengapa Biaya Publikasi Jurnal Scopus Tidak Seragam?

Hal pertama yang perlu diluruskan, Scopus bukanlah penerbit.

Scopus adalah database pengindeks milik Elsevier yang menyeleksi dan mengindeks jurnal dari ribuan penerbit di seluruh dunia. Penulis tidak membayar apa pun kepada Scopus.

Biaya publikasi sepenuhnya ditetapkan oleh penerbit jurnal, dan di sinilah variasinya muncul.

Jurnal dengan model berlangganan umumnya tidak memungut biaya dari penulis karena operasionalnya didanai institusi pelanggan. Sebaliknya, jurnal open access membebankan biaya pemrosesan artikel kepada penulis karena artikelnya dibuka gratis untuk publik.

Ditambah lagi, reputasi penerbit, kuartil jurnal, dan layanan yang disertakan ikut memengaruhi besarannya. Wajar jika angka yang beredar berbeda beda.

Apa Itu Article Processing Charge dan Kapan Dibayarkan?

Article processing charge atau APC adalah biaya yang ditagihkan jurnal open access untuk menutup proses editorial, peer review, dan produksi artikel.

Satu prinsip penting yang jarang diketahui akademisi pemula, APC yang sah ditagihkan setelah naskah dinyatakan diterima melalui proses review.

Jika ada pihak yang meminta pembayaran penuh di muka sebelum ada keputusan editorial, itu tanda yang patut dicurigai.

Sebagian penerbit juga menyediakan kebijakan waiver atau keringanan APC bagi penulis dari negara tertentu. Kebijakan ini layak selalu diperiksa sebelum menyingkirkan sebuah jurnal dari daftar kandidat hanya karena alasan biaya.

Bagaimana Cara Mengetahui Biaya Resmi Sebelum Submit?

Satu satunya sumber angka yang layak dijadikan pegangan adalah laman resmi jurnal tujuan, biasanya pada halaman Author Guidelines atau Publication Fees.

Langkah praktisnya, pastikan dulu jurnal benar benar terindeks dengan mengeceknya di Scopus Source List, buka website resmi penerbitnya, lalu baca ketentuan biayanya secara utuh, termasuk apakah ada submission fee yang tidak dikembalikan bila naskah ditolak.

Untuk gambaran menyeluruh tentang struktur biaya menurut kuartil dan faktor yang memengaruhinya, Anda dapat mempelajari ulasan lengkap tentang biaya publikasi jurnal Scopus yang membahasnya secara terperinci.

Dengan memahami struktur ini, Anda bisa membandingkan beberapa jurnal kandidat secara apel dengan apel, bukan termakan angka yang beredar tanpa konteks.

Apa Risiko Tergiur Biaya Murah dan Janji Terbit Kilat?

Di sinilah dana riset paling sering terbuang.

Popularitas Scopus dimanfaatkan jurnal predator dan perantara tidak bertanggung jawab yang menjual janji terbit sangat singkat dengan tarif tertentu, tanpa proses review yang jelas.

Risikonya berlapis. Artikel bisa terbit di jurnal yang kemudian dikeluarkan dari indeksasi, tidak diakui untuk kebutuhan angka kredit maupun kelulusan, dan nama penulis ikut tercoreng.

Gerakan internasional Think. Check. Submit. menyediakan daftar periksa sederhana untuk menilai kredibilitas jurnal sebelum mengeluarkan biaya sepeser pun. Prinsipnya satu, kenali dulu jurnalnya, baru bicara biayanya.

Bagaimana Menyusun Anggaran Publikasi yang Realistis?

Berdasarkan pengalaman mendampingi banyak proses publikasi, anggaran yang sehat disusun dari jurnal tujuannya, bukan sebaliknya.

Tentukan dulu dua sampai tiga jurnal kandidat yang sesuai bidang dan kualitas naskah Anda, cek tarif resmi masing masing, baru tetapkan anggaran, termasuk komponen pendukung seperti proofreading atau penerjemahan jika naskah ditulis dalam bahasa Inggris.

Jangan lupa memeriksa apakah institusi Anda menyediakan skema bantuan atau insentif publikasi, karena banyak kampus memilikinya namun jarang dimanfaatkan.

Publikasi di jurnal bereputasi memang investasi, tetapi investasi hanya masuk akal jika dikeluarkan di tempat yang benar. Pahami strukturnya, verifikasi sumbernya, dan dana riset Anda akan bekerja sebagaimana mestinya. (*)

Sumber:

  • https://academiaopenpublisher.com/blog/biaya-publikasi-jurnal-scopus/
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Suhendi Al Wasim
Suka Menulis Seputar SDM dan Publikasi Jurnal Ilmiah

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)