Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)

Setelah saya menuliskan 7 artikel tentang 200 ikon Bandung yang kini telah tidak beroperasi atau telah tiada yang berdasarkan buku 200 Ikon Bandung yang diterbitkan harian umum Pikiran Rakyat pada 25 September 2020, bertepatan dengan 200 tahun Bandung, kini dalam rangka memperingati kembali HUT Bandung yang ke-216, saya memilih satu ikon Bandung pilihan saya. Sebuah tempat yang dahulu lekat sekali dengan warga kota Bandung, terutama pecinta buku, namun kini tinggal kenangan.

Ikon pilihan saya ini jatuh pada “Toko Buku Djawa”. Mungkin untuk generasi muda sekarang namanya melekat pada satu tempat ngopi kekinian yang bernama “Kopi Toko Djawa”, ya ... dahulu toko Djawa adalah toko buku, majalah, dan alat tulis lengkap dan murah di kawasan Braga.

Toko ini sangat lekat dengan masa kecil saya, karena dekat dengan tempat tinggal. Dibandingkan membeli mainan, kakek dan ibu mendidik saya untuk lebih mencintai buku. Hingga akhirnya masa kecil saya tidak pernah lepas dari buku-buku. Saya lahir dan dibesarkan di perkampungan tua di barat Braga. Sebuah perkampungan yang lahir dan hidup dari distribusi kopi, peredaran candu dan prostitusi tertua di kota Bandung.

Sebetulnya toko buku di masa kecil saya ada beberapa yang masih beroperasi, seperti toko buku Lucu dan Singgalang yang ada di jalan Karapitan, karena masa kecil saya pun lekat dengan kawasan seputaran pasar Ancol, di sebuah rumah tua milik keluarga besar ayah yang merupakan asisten pribadi Pak Mashudi.

Di kawasan Braga pun sebetulnya ada beberapa toko buku yang berada di ruko-ruko tua, seperti salah satunya toko buku Mawar yang merupakan toko buku yang letaknya hampir bersebelahan dengan resto Braga Permai, ada lagi toko buku Universal yang terkenal dengan majalah-majalah luar negerinya yang lokasinya tak jauh dari Sumber Hidangan. Dan yang terakhir adalah toko buku Nusa Cendana yang berdiri di hoek Braga–Suniaraja dan menempati toko bekas Chong Brother yang juga pernah beroperasi sebagai toko sepatu Bata. Dan ketiga toko buku tersebut kini telah tiada di Braga, kini semua gedung bekas toko buku tersebut berubah menjadi kuliner kekinian, yang selalu menjadi incaran para pelancong.

Namun, untuk saya pribadi Toko Buku Djawa adalah yang paling lekat di hati. Selain lokasinya yang berada di mulut gang tempat tinggal saya, toko buku ini bertempat di sebuah ruko blok Tatarah, sebuah blok khusus warga Yahudi di Braga pada masa kolonial Belanda. Blok Tatarah memiliki bangunan khas yang indah dari mulai etalase, lantai hingga kaca patri. Saya sedari kecil memang sangat menyukai bangunan lama, dan berbelanja buku di toko Buku Djawa ini kita akan disuguhi pemandangan gedung indah dan menawan.

Toko buku ini dahulu dikelola seorang wanita Tionghoa yang bernama Nyonya Tjoe, ia menyewa gedung ini sejak 1955 dan mendirikan toko Buku Djawa. Salah satu kelebihan toko buku ini adalah menyediakan berbagai pilihan buku impor yang saat itu masih sulit dicari, dan harganya pun jauh lebih murah daripada Gramedia dan Gunung Agung, sehingga toko Buku Djawa selalu menjadi rujukan para pecinta buku impor.

Ketika saya menjadi salah satu pelanggan toko buku ini, kepengelolaan toko telah berganti ke tangan anak Nyonya Tjoe, dan warga menyebut beliau dengan sebutan Ko Daniel. Beliau sangat ramah, kita akan disambut hangat dan kita dapat berbincang-bincang soal buku hingga lupa waktu bersama beliau.

Yang saya masih ingat dengan jelas adalah ketika memasuki toko, aroma buku tercium begitu pekat, lalu kita akan disambut oleh rak bulat kartu pos dengan foto beragam daerah di Indonesia, karena toko ini kerap kedatangan wisatawan mancanegara yang mencari oleh-oleh kartu pos dari Indonesia. Lalu kita akan disambut oleh rak-rak dan etalase jadul yang khas. Yang selalu saya ingat adalah jajaran buku anak, dan saya memilih buku Barbie terbitan Misurind, lalu dengan ramah Ko Daniel akan berkata “udah ada yang baru tuh datang”, lalu ia juga akan bertanya “isi pensilnya masih ada?”, karena dahulu saya kerap menggunakan pensil isi ulang untuk sekolah.

Sayangnya setelah 60 tahun beroperasi, toko Buku Djawa harus tutup di tahun 2015. Toko buku ini akhirnya “dipaksa tutup” oleh perkembangan zaman. Dan setelah tutup toko ini bertransformasi menjadi kedai Kopi Toko Djawa, yang selalu ramai dan sangat dikenal oleh generasi muda sekarang, padahal awalnya adalah sebuah toko buku yang sangat “membumi”.

Informasi lain yang saya peroleh dari salah satu artikel kawan saya yang bernama Deni Rahman, yang sekarang pun membuka toko Buku Bandung, ia mengatakan bahwa beberapa data kliping koran dan informasi digital menyatakan bahwa toko buku ini lahir pada 1955 dan dikaitkan dengan peristiwa Konferensi Asia Afrika.

Begitu berkesannya untuk saya toko Buku Djawa ini, hingga apabila saya sedang kebetulan bertugas memandu peserta ke kawasan Braga, ingatan itu pun kembali sempurna ke dalam benak. Aroma buku, sapaan hangat pemilik toko, dan segala suasana masa kecil saya di sana kembali dengan sangat sempurna, hanya bedanya sekarang terdengar gemuruh para wisatawan yang ramai menyambangi toko kopi Djawa diselingi dengan lantunan lagu-lagu kekinian dan aroma kopi yang lezat.

Sebuah pengalaman indah namun dalam sudut pandang yang berbeda, apabila saya terhanyut dalam kenangan indah masa kecil, para pelancong terhanyut dalam keviralan kopi tersebut dan sibuk mengabadikannya dalam ponsel mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)