200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)

Masih dalam rangka menyambut HUT Bandung yang ke-216, yang jatuh pada 25 September 2026 nanti, saya akan menuliskan beberapa Ikon Bandung yang sudah tidak ada lagi hari ini, dan tulisan-tulisan ini ditulis berdasarkan sebuah buku yang pada 25 September 2010 silam diluncurkan oleh harian umum Pikiran Rakyat untuk menyambut ulang tahun Bandung yang ke-200.

Kali ini saya akan membahas sebuah radio legendaris di kota Bandung yang dahulu banyak sekali penggemarnya, terutama kalangan anak muda yang besar pada tahun 1980/90-an pasti tidak asing dengan kata-kata “Siksik Obituary dari Johan Tardy SMA 4!”, ya betul sekali, saya akan membahas GMR FM atau Generasi Muda Radio 104,3 FM, yang dahulu berlokasi di Jalan Hatta No. 15 Bandung.

Radio ini adalah sebuah radio yang menjadi rujukan utama musik rock dan metal bagi anak muda Bandung tahun 1980/90-an. Radio ini bermula dari sebuah stasiun radio amatir bernama Young Generation (YG) yang didirikan oleh Erwin Sitompul pada 1867, lalu pada tahun 1989/90 berubah menjadi radio GMR.

Bagi para remaja Bandung penggemar musik cadas, radio ini mungkin memiliki ikatan batin tersendiri. GMR FM punya banyak program yang mengakomodasi penggemar berbagai genre musik rock. Sebut saja beberapa yang fenomenal seperti “Sunday Rock” yang memberikan referensi musik genre hard rock sampai thrash metal, dan “Siksik” yang berupa program interaktif untuk memilih lagu favorit melalui pola kompetisi.

Program Siksik adalah sebuah program yang fenomenal pada waktu itu, setiap pagi menjelang siang, saat program itu disiarkan selama satu jam, sambungan telepon yang masuk ke GMR FM bisa mencapai 200 sambungan. Dan di program ini juga mereka yang ingin mendengar lagu favoritnya di GMR harus mendapatkan tiga dukungan dari para pendengar lainnya. Jika sudah ada tiga dukungan maka Arin sebagai penyiar acara itu akan mengajukan pertanyaan seputar band yang dipilih, sebagai ujian terakhir. Jika jawabannya benar, lagu pilihan tiga pendengar itu akan diputar, jika jawaban mereka salah maka harus diulang dari awal lagi.

Jika dipikir-pikir sekarang, hanya untuk mendengarkan satu lagu rock kesukaan saja perjuangannya harus seperti itu. Sekarang telah ada aplikasi khusus untuk mendengarkan lagu, kita tidak perlu repot-repot berjuang seperti remaja-remaja terdahulu, belum lagi apabila lagu kesukaan kita tersebut harus terpotong iklan. Dan bila melihat perjuangan remaja Bandung saat itu dalam mengikuti program Siksik yang harus memiliki pengetahuan lebih tentang band-band rock kesayangan adalah sangat luar biasa, masalahnya dahulu belum ada Google bahkan Gemini untuk bertanya sejarah band kesayangan. Memang patut diacungi jempol, keseharian remaja tahun 80 dan 90-an itu luar biasa, hal ini mungkin tidak akan dapat dirasakan para generasi muda Bandung sekarang.

Menurut Arin, sang penyiar GMR FM, radionya ini memiliki sebuah buku panduan berupa ensiklopedia musik rock yang dimulai dari masa kejayaan rock 'n' roll sampai zaman Metallica merajai industri musik cadas. Buku itu menjadi referensi utama para penyiar GMR FM, yang kemudian disampaikan kepada para penggemar musik rock anak muda Bandung saat itu. Tentu saja hal ini bisa menjadi pengetahuan luar biasa bagi mereka, hingga terkadang ketika para penyiar GMR FM ini sedang membacakan kisah salah satu band rock, para penggemarnya ini rela mendengarkannya sambil mencatatnya, hingga inilah yang menjadi acuan para penggemar rock pada saat itu di Bandung untuk menambah pengetahuan mereka.

Selain itu untuk menambah sebuah referensi para penyiar GMR FM berburu majalah musik bekas di kawasan sentra buku bekas Cikapundung. Di tempat itu, para penyiar sering bertemu dengan para pendengar setianya yang juga sedang berburu majalah atau buku serupa. Atau jika punya uang lebih, mereka akan membeli majalah musik impor edisi terbaru yang biasanya terbit di toko buku Qta yang sekarang toko buku itu pun telah almarhum, toko yang paling saya ingat adalah toko buku Qta di jalan Sumatra (seberang Eiger, sekarang) dulu menempati rumah tua yang dibuat menjadi toko buku, dan toko buku Qta yang berada di jalan Riau yang juga menempati rumah tua yang akhirnya dibongkar menjadi Riau Junction.

GMR FM tidak hanya menjadi media dan sumber referensi bagi penggemar musik ekstrem, melainkan juga untuk mereka yang menggemari musik hard rock, heavy metal, sampai rock progresif yang memiliki citra cerdas dan rumit. Salah satu penyiar yang dikenal memiliki referensi sangat kuat di progresif rock adalah Samuel Marudut. Namun, Samuel Marudut pun terjun ke dunia musik cadas. Dengan mengurusi manajemen band cadas asal Jakarta.

Sayangnya Samuel harus meninggal dunia secara misterius di kamar kos salah satu personel Band cadas Jakarta pada akhir tahun 1990. Kematian salah satu penyiar kenamaan GMR FM ini sempat menjadi berita heboh di antara para pendengar GMR FM, dan beberapa band lokal mengenangnya dengan menulis obituari di sampul album mereka, seperti yang dilakukan oleh Puppen dan Pas Band di dalam album single pertama mereka. Sayangnya GMR FM tidak dapat bertahan di tengah arus industri radio, tahun 2002 GMR FM resmi tutup, dan dijual kepada radio milik Grup Femina, U FM yang mengambil pangsa pasar para perempuan Bandung. Namun GMR FM akan tetap menjadi kenangan manis para penggemarnya dahulu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)