Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)

SELASA (20/10/2026) pagi, manakala sedang ngaboseh sepeda dari arah Geger Kalong (Gerlong) menuju Alun-alun Lembang dan melewati Terminal Ledeng, saya mendapati suasana yang sedikit  berbeda. Terminal itu sudah kosong. Tidak ada angkot dan mobil Elf jurusan Subang yang mangkal di sana. Di  bagian dalam terminal, aktivitas konstruksi mulai terlihat. 

Saya sama sekali tidak terkaget-kaget. Beberapa waktu sebelumnya, saya sudah membaca berita daring bahwa Terminal Ledeng akan dialihfungsikan menjadi shelter atau stasiun akhir bus rapid transit (BRT). Pemandangan pagi itu hanya memperlihatkan secara langsung sesuatu yang sebelumnya saya ketahui dari layar gawai.

Namun, melewati terminal yang kosong pagi itu ternyata membawa pikiran saya melayang-layang ke tempat lain. Pikiran saya melayang bukan pada persoalan rute angkot atau pembangunan BRT, melainkan pada masa ketika saya nyaris saban hari menyambangi kawasan Ledeng. 

Dulu, Terminal Ledeng merupakan bagian dari perjalanan harian saya. Saya biasa naik angkot -- trayek Ledeng-Kebon Kelapa, atau sekali-kali, Ledeng-Cicaheum -- dari terminal ini. Tak jarang, pada siang hari, saya juga bersantap siang di kedai makan sederhana di bagian utara terminal.

Dulu pula, di seberang Terminal Ledeng, yang dekat dengan pintu utara UPI (dulu bernama IKIP) ada beberapa lapak koran dan majalah. Tak jarang, pagi-pagi, saya ikut nongkrong di salah satu lapak koran sekaligus nebeng ikut melihat-lihat judul-judul berita utama -- yang tak jarang membuat saya kerung -- koran Jakarta Post dan Indonesian Observer. Sesekali, kalau kebetulan punya uang lebih, saya beli salah satunya. 

Semua aktivitas itu berlangsung biasa saja. Saya tidak pernah kepikiran bahwa suatu hari nanti, puluhan tahun kemudian, saya akan melewati tempat yang sama dengan sepeda dan mendapati suasananya sudah berubah. 

Bagi saya, kala itu, Terminal Ledeng hanyalah tempat untuk naik angkot. Kedai makan di sisi utara terminal itu sekadar tempat mengisi perut. Adapun lapak koran dan majalah di seberangnya adalah salah satu tempat nongkrong pagi saya. Tak lebih dan tak kurang.

Berita tentang perubahan Terminal Ledeng dan pemandangan yang saya saksikan sendiri di terminal itu telah membuat kepingan-kepingan aktivitas sederhana di masa silam itu mengapung kembali. Sambil terus ngaboseh, saya mencoba mengingat suasana Terminal Ledeng ketika saya masih sering menggunakan angkot puluhan tahun lalu. 

Saya lantas bayangkan kembali hiruk-pikuk  orang-orang yang naik-turun angkot, serta kedai makan yang melayani pelanggan pada jam makan siang. Saya tidak ingat lagi semua detilnya. Bahkan, mungkin ada bagian yang sudah bercampur dengan ingatan tentang tempat lain. Namun, saya masih ingat hubungan saya dengan kawasan itu. Terminal Ledeng pernah menjadi bagian dari peta kehidupan saya masa silam.

Dan, kini, peta itu sudah berbeda. Terminal yang dahulu saya kenal sebagai tempat saya biasa naik angkot sedang dipersiapkan untuk fungsi baru dalam sistem transportasi kota. Angkot yang biasa masuk terminal dan menunggu penumpang di sana tidak lagi melakukan kebiasaan yang sama. Bangunan dan kawasan di dalamnya mulai mengalami penataan. Perubahan ini tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk. 

Kota memang perlu memperbaiki transportasi publiknya. BRT membutuhkan simpul pelayanan, dan sistem angkutan umum perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan perjalanan yang terus berkembang.

Tetapi, ada perbedaan antara membaca perubahan sebagai informasi dan menyaksikannya di tempat yang pernah kita kenal dan akrabi. Di layar gawai, berita tentang Terminal Ledeng adalah kabar mengenai kebijakan transportasi. Ketika melihatnya langsung dalam perjalanan bersepeda pagi itu, saya justru teringat pada diri sendiri yang dulu. Saya pernah menjadi bagian kecil dari lalu lintas manusia di sana, sama seperti banyak orang lain yang menggunakan angkot dari terminal itu untuk pergi atau pulang ke tempat tujuan dengan beragam kepentingannya. Maka, Terminal Ledeng bukan hanya titik dalam jaringan transportasi. Ia juga bagian dari pengalaman hidup yang mungkin tidak pernah tercantum dalam dokumen perencanaan kota.

Barangkali, di sinilah perubahan sebuah tempat terasa lebih personal. Terminal Ledeng tidak mengetahui bahwa saya pernah naik angkot dari sana, makan siang di rumah makan di dekatnya, nongkrong di seberangnya. Tempat itu tidak pula menyimpan catatan tentang siapa saja yang pernah singgah. Namun, bagi orang yang pernah bersinggungan dengannya, sebuah tempat dapat memiliki riwayat serta kisahnya sendiri. Dan riwayat serta kisah itu tidak perlu istimewa. Ia cukup pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Saya juga menyadari bahwa yang kiwari berubah bukan hanya terminal tersebut. Saya sendiri sudah jauh berbeda dari yang dulu ketika masih rutin naik angkot dari terminal ini. Ada pengalaman yang bertambah, pekerjaan yang dijalani, pertemanan yang berubah bentuk, dan jalan hidup yang membawa saya ke berbagai arah. 

Waktu tidak selalu menghapus sesuatu secara sekaligus. Sering kali, ia cukup mengubah keadaan sedikit demi sedikit sampai kita baru menyadarinya ketika menoleh jauh ke belakang.

Kita tentu saja bisa menyaksikan perubahan bangunan, jalan, dan suasana lingkungan tanpa harus sengaja mencari-carinya. Kadang-kadang, perjalanan yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk bernostalgia justru membawa kita ke masa lalu. 

Saya berangkat pagi itu dengan tujuan menuju Alun-alun Lembang, dan bukan untuk mengenang masa lalu. Terminal Ledeng hanya kebetulan berada di rute yang harus saya lakoni. 

Saya tidak tahu apakah setelah revitalisasi selesai, Terminal Ledeng bakal terasa asing bagi saya atau justru tetap menyisakan sesuatu yang akrab. Barangkali nanti saya akan melewatinya lagi dan melihat kawasan yang lebih tertata, dengan fungsi transportasi yang berbeda. 

Baca Juga: Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Saya tidak ingin menduga-duga. Yang jelas, perubahan tempat itu akan menjadi bagian dari perjalanan Kota Bandung, sebagaimana perubahan diri saya menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sendiri.

Pagi itu, Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama. Bangunannya mungkin masih dapat dikenali, tetapi waktu telah mengubah fungsi, suasana, dan orang-orang yang mengisinya. Kita pun tidak lagi menjadi orang seperti yang dahulu singgah di sana. 

Mungkin itulah sebabnya melihat sebuah tempat lama yang berubah kadang-kadang terasa seperti kita menengok diri sendiri. Ini bukan untuk menyesali, atau bahkan meratapi, masa lalu atau menganggap segala sesuatu yang dahulu lebih baik, lebih indah, lebih mengesankan, melainkan untuk menyadari bahwa hidup terus berjalan. 

Life goes on, bra. Begitu, seru Paul McCartney dalam “Obladi-Oblada”. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)