Pedagang Mengenang Terminal Cicaheum yang Tak Lagi Ramai

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 28 Mar 2026, 11:07 WIB
Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Suara mesin bus yang masuk perlahan ke Terminal Cicaheum terdengar berat di siang hari itu. Sesekali klakson memecah suasana, namun setelahnya terminal kembali lengang. Di salah satu kios kecil yang berjajar di area terminal, sebuah radio tua memutar lagu pelan, menemani seorang pedagang yang duduk menunggu pembeli.

Di balik etalase sederhana itu, Wawan (63) mengamati jalur kedatangan bus sambil sesekali melirik ke arah penumpang yang melintas. Sudah hampir empat dekade ia berjualan di Terminal Cicaheum. Sejak 1986, tempat itu menjadi bagian dari hidupnya.

“Sekarang mah parah, sepi banget. Enggak kayak dulu,” kata Wawan membuka cerita.

Empat dekade bertahan di Terminal Cicaheum, Wawan kini hanya bisa mengenang ramainya penumpang yang dulu memenuhi setiap sudut terminal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Empat dekade bertahan di Terminal Cicaheum, Wawan kini hanya bisa mengenang ramainya penumpang yang dulu memenuhi setiap sudut terminal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pria asal Singaparna, Tasikmalaya, itu mengingat betul bagaimana ramainya Terminal Cicaheum pada masa lalu. Saat itu, terminal bukan hanya tempat naik turun penumpang, tetapi juga ruang yang selalu dipenuhi aktivitas hampir sepanjang hari.

“Dulu mah dari sana sampai sini penuh orang. Lautan manusia,” ujarnya sambil menunjuk ke arah jalur bus yang kini terlihat lapang.

Menurutnya, pada masa itu bus datang dan pergi hampir tanpa henti. Penumpang yang hendak bepergian memenuhi terminal, bahkan hingga malam hari.

Baca Juga: Hikayat Terminal Cicaheum, Gerbang Perantau Bandung yang jadi Sarang Preman Pensiun

“Kalau malam itu yang nunggu banyak. Ada yang dari Jawa datang ke sini buat berangkat pagi. Sampai ada yang tidur di selasar terminal pakai kardus,” kenangnya.

Ramainya terminal juga menghidupi banyak orang yang menggantungkan nafkah di sana. Pedagang asongan dulu memenuhi area terminal, menawarkan berbagai barang kepada penumpang yang naik ke dalam bus.

“Dulu yang jualan asongan siang sama malam bisa lebih dari seratus orang. Mereka masuk ke dalam bus, jualan bakso, sirup, macam-macam. Apa saja laku waktu itu,” kata Wawan.

Namun suasana itu kini berubah jauh. Terminal yang dulu dipadati orang kini terasa jauh lebih sepi. Wawan mengaku tak benar-benar tahu ke mana perginya para penumpang yang dulu memenuhi terminal. Namun menurutnya, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebabnya.

“Sekarang orang banyak punya motor, punya mobil pribadi. Banyak juga yang naik kereta api. Jadi penumpang ke terminal makin berkurang,” katanya.

Perubahan itu berdampak langsung pada penghasilannya sebagai pedagang. Ia bercerita, dalam sehari omzet yang didapat kadang hanya sekitar Rp200 ribu. Dari jumlah itu, keuntungan yang tersisa sangat kecil.

“Dapat Rp200 ribu, batinya paling Rp40 ribu. Itu juga kepakai buat makan. Makan saja sekarang bisa Rp30 ribu lebih. Belum rokok, belum kebutuhan lain,” ujarnya.

Wawan mengatakan kondisi seperti itu membuat kehidupan para pedagang di terminal semakin sulit. Jika dulu hampir semua dagangan bisa terjual, kini ia sering menunggu lama sebelum ada pembeli yang datang.

“Dulu mah jualan apa saja laku di terminal. Sekarang mah orang juga jarang,” katanya.

Menurutnya, waktu yang sedikit lebih ramai biasanya hanya terjadi pada sore hari. Selain itu, terminal lebih sering terlihat lengang.

“Ramainya paling sore saja. Kalau malam malah makin sepi,” katanya.

Suasana lengan Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 3 Maret 2026. (Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana lengan Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 3 Maret 2026. (Foto: Irfan Al Faritsi)

Selain perubahan jumlah penumpang, Wawan juga mendengar kabar tentang rencana pengoperasian sistem transportasi baru di Kota Bandung yang akan berdampak pada operasional bus di Terminal Cicaheum. Beberapa trayek bus antarkota disebut-sebut akan dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Jika hal itu benar terjadi, ia mengaku khawatir.

“Kalau busnya pindah ke Leuwipanjang, di sini makin sepi lagi. Kalau jualan di sana kan belum tentu ada tempat,” ujarnya.

Ia bahkan mempertimbangkan kemungkinan untuk berhenti berjualan jika perubahan itu benar-benar terjadi.

“Kalau pindah mah mungkin saya istirahat saja, pulang kampung. Cari usaha lain,” katanya pelan.

Meski begitu, Wawan tetap bertahan menjalani rutinitasnya di kios kecil yang sudah puluhan tahun ia tempati. Ia datang setiap hari, membuka lapak, dan menunggu penumpang yang datang. Sesekali, beberapa penumpang singgah membeli makanan ringan atau sekadar bertanya arah keberangkatan bus.

Menunggu bus berangkat, Malik menikmati jeda dengan camilan khas Bandung, di terminal yang kini terasa lebih sunyi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Menunggu bus berangkat, Malik menikmati jeda dengan camilan khas Bandung, di terminal yang kini terasa lebih sunyi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Seperti siang itu, seorang penumpang muda tampak duduk di area terminal sambil menunggu waktu keberangkatan. Namanya Malik Ramadan (22). Ia sedang bersiap pulang ke Madiun, Jawa Timur, setelah menyelesaikan kegiatan pengabdian masyarakat di daerah Cimaung, Kabupaten Bandung.

“Saya baru pertama kali ke Terminal Cicaheum,” kata Malik.

Mahasiswa yang berasal dari Palembang itu mengaku berada di Bandung selama hampir sebulan untuk menjalani kegiatan pengabdian bersama teman-temannya.

“Kemarin habis KKN di Cimaung, dekat Gunung Puntang. Sekarang tinggal pulang saja, nanti lanjut bikin laporan,” ujarnya.

Sambil menunggu bus yang dijadwalkan berangkat pukul 14.30, Malik sempat berjalan-jalan di sekitar terminal dan membeli beberapa camilan dari kios pedagang.

“Tadi beli cireng sama peuyeum buat oleh-oleh,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Malik, suasana terminal terasa cukup tenang. Ia juga merasakan keramahan orang-orang yang ditemuinya selama berada di Bandung.

“Orang Bandung ramah-ramah, jadi saya nyaman selama sebulan di sini,” ujarnya.

Namun dari pengamatannya, jumlah bus dan penumpang yang terlihat di terminal memang tidak terlalu banyak. Di sisi lain terminal, Wawan kembali duduk di kiosnya sambil memandangi jalur kedatangan bus. Radio kecil yang sejak tadi menyala masih memutar lagu, mengisi kesunyian siang di terminal itu.

Bagi pedagang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Terminal Cicaheum, perubahan suasana ini menjadi kenyataan yang harus diterima. Meski begitu, kenangan tentang masa ketika terminal dipenuhi penumpang masih jelas teringat di benaknya.

“Dulu mah malam minggu penuh banget. Bus Garut saja sampai dua jajar,” kata Wawan.

Ia berhenti sejenak, lalu kembali menatap jalur bus yang kini terlihat lengang.

“Sekarang mah enggak tahu ke mana penumpangnya,” pungkasnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)