Pedagang Mengenang Terminal Cicaheum yang Tak Lagi Ramai

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Suara mesin bus yang masuk perlahan ke Terminal Cicaheum terdengar berat di siang hari itu. Sesekali klakson memecah suasana, namun setelahnya terminal kembali lengang. Di salah satu kios kecil yang berjajar di area terminal, sebuah radio tua memutar lagu pelan, menemani seorang pedagang yang duduk menunggu pembeli.

Di balik etalase sederhana itu, Wawan (63) mengamati jalur kedatangan bus sambil sesekali melirik ke arah penumpang yang melintas. Sudah hampir empat dekade ia berjualan di Terminal Cicaheum. Sejak 1986, tempat itu menjadi bagian dari hidupnya.

“Sekarang mah parah, sepi banget. Enggak kayak dulu,” kata Wawan membuka cerita.

Empat dekade bertahan di Terminal Cicaheum, Wawan kini hanya bisa mengenang ramainya penumpang yang dulu memenuhi setiap sudut terminal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Empat dekade bertahan di Terminal Cicaheum, Wawan kini hanya bisa mengenang ramainya penumpang yang dulu memenuhi setiap sudut terminal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pria asal Singaparna, Tasikmalaya, itu mengingat betul bagaimana ramainya Terminal Cicaheum pada masa lalu. Saat itu, terminal bukan hanya tempat naik turun penumpang, tetapi juga ruang yang selalu dipenuhi aktivitas hampir sepanjang hari.

“Dulu mah dari sana sampai sini penuh orang. Lautan manusia,” ujarnya sambil menunjuk ke arah jalur bus yang kini terlihat lapang.

Menurutnya, pada masa itu bus datang dan pergi hampir tanpa henti. Penumpang yang hendak bepergian memenuhi terminal, bahkan hingga malam hari.

Baca Juga: Hikayat Terminal Cicaheum, Gerbang Perantau Bandung yang jadi Sarang Preman Pensiun

“Kalau malam itu yang nunggu banyak. Ada yang dari Jawa datang ke sini buat berangkat pagi. Sampai ada yang tidur di selasar terminal pakai kardus,” kenangnya.

Ramainya terminal juga menghidupi banyak orang yang menggantungkan nafkah di sana. Pedagang asongan dulu memenuhi area terminal, menawarkan berbagai barang kepada penumpang yang naik ke dalam bus.

“Dulu yang jualan asongan siang sama malam bisa lebih dari seratus orang. Mereka masuk ke dalam bus, jualan bakso, sirup, macam-macam. Apa saja laku waktu itu,” kata Wawan.

Namun suasana itu kini berubah jauh. Terminal yang dulu dipadati orang kini terasa jauh lebih sepi. Wawan mengaku tak benar-benar tahu ke mana perginya para penumpang yang dulu memenuhi terminal. Namun menurutnya, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebabnya.

“Sekarang orang banyak punya motor, punya mobil pribadi. Banyak juga yang naik kereta api. Jadi penumpang ke terminal makin berkurang,” katanya.

Perubahan itu berdampak langsung pada penghasilannya sebagai pedagang. Ia bercerita, dalam sehari omzet yang didapat kadang hanya sekitar Rp200 ribu. Dari jumlah itu, keuntungan yang tersisa sangat kecil.

“Dapat Rp200 ribu, batinya paling Rp40 ribu. Itu juga kepakai buat makan. Makan saja sekarang bisa Rp30 ribu lebih. Belum rokok, belum kebutuhan lain,” ujarnya.

Wawan mengatakan kondisi seperti itu membuat kehidupan para pedagang di terminal semakin sulit. Jika dulu hampir semua dagangan bisa terjual, kini ia sering menunggu lama sebelum ada pembeli yang datang.

“Dulu mah jualan apa saja laku di terminal. Sekarang mah orang juga jarang,” katanya.

Menurutnya, waktu yang sedikit lebih ramai biasanya hanya terjadi pada sore hari. Selain itu, terminal lebih sering terlihat lengang.

“Ramainya paling sore saja. Kalau malam malah makin sepi,” katanya.

Suasana lengan Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 3 Maret 2026. (Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana lengan Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 3 Maret 2026. (Foto: Irfan Al Faritsi)

Selain perubahan jumlah penumpang, Wawan juga mendengar kabar tentang rencana pengoperasian sistem transportasi baru di Kota Bandung yang akan berdampak pada operasional bus di Terminal Cicaheum. Beberapa trayek bus antarkota disebut-sebut akan dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Jika hal itu benar terjadi, ia mengaku khawatir.

“Kalau busnya pindah ke Leuwipanjang, di sini makin sepi lagi. Kalau jualan di sana kan belum tentu ada tempat,” ujarnya.

Ia bahkan mempertimbangkan kemungkinan untuk berhenti berjualan jika perubahan itu benar-benar terjadi.

“Kalau pindah mah mungkin saya istirahat saja, pulang kampung. Cari usaha lain,” katanya pelan.

Meski begitu, Wawan tetap bertahan menjalani rutinitasnya di kios kecil yang sudah puluhan tahun ia tempati. Ia datang setiap hari, membuka lapak, dan menunggu penumpang yang datang. Sesekali, beberapa penumpang singgah membeli makanan ringan atau sekadar bertanya arah keberangkatan bus.

Menunggu bus berangkat, Malik menikmati jeda dengan camilan khas Bandung, di terminal yang kini terasa lebih sunyi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Menunggu bus berangkat, Malik menikmati jeda dengan camilan khas Bandung, di terminal yang kini terasa lebih sunyi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Seperti siang itu, seorang penumpang muda tampak duduk di area terminal sambil menunggu waktu keberangkatan. Namanya Malik Ramadan (22). Ia sedang bersiap pulang ke Madiun, Jawa Timur, setelah menyelesaikan kegiatan pengabdian masyarakat di daerah Cimaung, Kabupaten Bandung.

“Saya baru pertama kali ke Terminal Cicaheum,” kata Malik.

Mahasiswa yang berasal dari Palembang itu mengaku berada di Bandung selama hampir sebulan untuk menjalani kegiatan pengabdian bersama teman-temannya.

“Kemarin habis KKN di Cimaung, dekat Gunung Puntang. Sekarang tinggal pulang saja, nanti lanjut bikin laporan,” ujarnya.

Sambil menunggu bus yang dijadwalkan berangkat pukul 14.30, Malik sempat berjalan-jalan di sekitar terminal dan membeli beberapa camilan dari kios pedagang.

“Tadi beli cireng sama peuyeum buat oleh-oleh,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Malik, suasana terminal terasa cukup tenang. Ia juga merasakan keramahan orang-orang yang ditemuinya selama berada di Bandung.

“Orang Bandung ramah-ramah, jadi saya nyaman selama sebulan di sini,” ujarnya.

Namun dari pengamatannya, jumlah bus dan penumpang yang terlihat di terminal memang tidak terlalu banyak. Di sisi lain terminal, Wawan kembali duduk di kiosnya sambil memandangi jalur kedatangan bus. Radio kecil yang sejak tadi menyala masih memutar lagu, mengisi kesunyian siang di terminal itu.

Bagi pedagang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Terminal Cicaheum, perubahan suasana ini menjadi kenyataan yang harus diterima. Meski begitu, kenangan tentang masa ketika terminal dipenuhi penumpang masih jelas teringat di benaknya.

“Dulu mah malam minggu penuh banget. Bus Garut saja sampai dua jajar,” kata Wawan.

Ia berhenti sejenak, lalu kembali menatap jalur bus yang kini terlihat lengang.

“Sekarang mah enggak tahu ke mana penumpangnya,” pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)